#asauntukgajah

Jejamo Liman, Nyepidah

Jum’at, 12 Agustus 2022 merupakan tahun ke-sepuluh peringatan Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day) sejak ditetapkan oleh PBB pada tahun 2012 yang lalu. Hari Gajah Sedunia merupakan aksi kampanye masyarakat dunia untuk menyuarakan pelestarian gajah yang tengah menghadapi ambang kepunahan dari muka bumi. Ancaman yang semakin serius bagi keberlangsungan hidup populasi gajah di Afrika dan Asia, menjadi latar belakang peringatan Hari Gajah.

Sejatinya, Peringatan Gajah Sedunia semacam alarm untuk memberitahu dunia bahwa gajah merupakan salah satu satwa yang kini kondisinya semakin ‘kritis’ dan perlu dilindungi dari kepunahan. Status spesies gajah asia yang terancam punah, membuat IUCN mengganjarnya dengan status kritis (Critically Endangered) ini menandakan selangkah lagi gajah akan punah dari muka bumi, jika tidak ada upaya serius dalam menanganinya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, dan tentu saja kita setuju bahwa perlakuan manusialah yang menyebabkan spesies gajah ini terus berkurang dan habitat mereka terganggu.

Gajah adalah mamalia darat terbesar di bumi, makhluk sosial yang cerdas dan cinta damai. Gajah sumatera merupakan sub-spesies dari gajah asia yang cuma ada di Pulau Sumatera. Memiliki postur lebih kecil dari pada sub spesies gajah india. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang status keterancamannya tertinggi, yaitu kritis. Sebagian besar habitat gajah telah berganti menjadi wilayah perkebunan dan lahan pertanian. Hal ini mengakibatkan konflik gajah dengan manusia terus menerus terjadi dan seolah tidak pernah berhenti.

Entah seperti apa nasib spesies berbadan besar yang memiliki nama lokal ‘‘Liman’’ ini di masa yang akan datang. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) habitat Gajah di Indonesia terus mengalami penyusutan, dalam sepuluh tahun terakhir, dari 56 habitat Gajah yang ada, 11 habitat gajah dalam kondisi kritis, dua habitat dalam kondisi di ambang kritis, dan terdapat 13 habitat gajah yang telah hilang. Sementara data yang dihimpun oleh FKGI Gajah di Pulau Sumatera tercatat ada sekitar 1.700 individu gajah di alam. Penurunan populasi gajah di alam diakibatkan adanya fragmentasi hilangnya habitat alami gajah, pembunuhan serta perburuan bagian-bagian tubuh gajah, konflik sumber daya antara manusia dengan gajah. Lokakarya penggiat konservasi dari Forum Konservasi Gajah Indonesia bersama instansi pemerintah terkait, pada tahun 2014 merilis angka populasi gajah sumatera 1.742 individu. Jumlah ini turun dari angka populasi sebelumya pada tahun 2007 yakni 2.400 – 2.800 individu.

Populasi gajah sumatera khususnya yang berada di Provinsi Lampung, diyakini dari tahun ke tahun semakin berkurang jumlahnya. Tercatat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir dari tahun 2011 hingga 2022 sekarang, sedikitnya 30 ekor gajah sumatera ditemukan mati di seluruh wilayah TNWK dan TNBBS Lampung (sumber data dari catatan yang dikumpukan oleh FKGI). Dan kematian gajah-gajah tersebut diduga diburu dan dibunuh oleh manusia untuk diambil gadingnya, dan bagian giginya.

Di Sumatera umumnya gajah ada yang ditemukan mati dibunuh dengan senjata organik, diracun dan distrum. Yang lebih memprihatinkan lagi, dalam kasus kematian gajah di Provinsi Lampung hingga saat ini belum ada pelaku yang berhasil ditangkap ataupun yang diadili. Padahal gajah merupakan satwa yang cerdas dan cinta damai yang sudah menjadi ikon Provinsi Lampung, dan Lampung adalah Surganya Gajah Sumatera. Bahkan budaya Indonesia di beberapa daerah sangat menghormati keberadaan gajah.

Pembukaan lahan dan tindak pidana pemburu gading gajah yang membunuh hewan ini patut kita kecam. Akankah kita terus menunggu hingga kita menyaksikan kepunahan binatang terbesar di dunia ini? Akankah kita siap, menceritakan kenangan kepada anak cucu kita, mengenai sosok gajah yang pernah hidup di masa lalu? Satu hal yang pasti, saat ini kita masih bisa melihat gajah.

Harapannya, kita masih dapat melihatnya di masa mendatang jika kita dapat melestarikannya, serta memertahankan “ASA untuk GAJAH”. Dan hal itu hanya dapat kita capai dengan melindungi dan menyayangi gajah, agar mereka selalu bisa menjaga hutan demi keberlangsungan hidup manusia. Selamat Hari Gajah Sedunia tahun 2022.

* Renungan Hari Gajah Sedunia, 12 Agustus 2022

Usut Tuntas Kematian Gajah Sumatera di Areal Konsesi dan HGU

Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus kematian satwa liar dilindungi di areal konsesi. Perusahaan pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Guna Usaha (HGU) harus bertanggungjawab terhadap kehidupan satwa liar dilindungi yang berada di areal kerjanya.

“Banyak kasus kematian gajah dan juga harimau akhir-akhir ini terjadi di areal HGU dan HTI, seperti Aceh dan Riau. Pemerintah semestinya mendorong perusahaan untuk lebih serius dalam melindungi satwa liar. Kasus kematian gajah banyak terjadi berulang-ulang di konsesi yang sama,” ujar Donny Gunaryadi Ketua FKGI, Senin (30/05/22).

Seekor gajah betina yang tengah hamil tua tergelatak di ruas jalan konsesi PT Riau Abadi Lestari, (27/5/22). Foto : Rimba Satwa Foundation

Seekor gajah betina yang tengah hamil tua tergelatak di ruas jalan konsesi PT Riau Abadi Lestari, (27/5/22). Foto : Rimba Satwa FoundationKondisi gajah sumatera baik jumlah populasi dan habitat terus tertekan. Intensitas konflik manusia dan gajah terus memanas serta perburuan gajah dengan motif perdagangan gading masih tinggi. Dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir, tercatat 44 ekor gajah sumatera mati, baik gajah liar dan gajah captive dengan berbagai sebab. Enam kasus kematian diantaranya terjadi di areal HTI dan HGU.

Kasus terakhir yang cukup mengenaskan adalah kematian seekor gajah betina yang tengah hamil tua di areal konsesi PT Riau Abadi Lestari (RAL), perusahaan pemasok bahan kertas Asia Pulp and Paper. Induk yang siap melahirkan ini diduga mati akibat racun, Rabu (25/5/22). Karyawan menemukan bangkai gajah yang tergeletak di tengah jalan di lokasi kebun yang tak jauh dari kebun sawit masyarakat.

Tim BBKSDA Riau pada saat melakukan nekropsi terhadap induk gajah menemukan janin bayi dalam usia siap dilahirkan. Foto : BBKSDA Riau/matapers.com

“Kami mendorong aparat penegak hukum untuk berupaya maksimal sehingga pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” imbuh Donny.

Call for Proposal – Dukungan Dana Riset Gajah Sumatera 2022

Kerangka Acuan Kegiatan

DUKUNGAN DANA RISET GAJAH SUMATERA 2022

 

PENDAHULUAN

Gajah Sumatera adalah salah satu subspesies gajah asia yang masih hidup di Indonesia atau tepatnya di pulau Sumatera. Sub spesies ini masuk kategori sangat terancam punah (critically endangered) menurut IUCN. Karakteristik gajah ini adalah sama dengan gajah asia lainnya yaitu hidupnya berkelompok terutama untuk betina di mana betina dewasa paling besar sebagai pemimpin kelompok (matrilineal) dan jantan dewasa umumnya justru soliter. Gajah memiliki wilayah jelajah tetapi tidak memiliki daerah yang dipertahankan oleh kelompok untuk berkompetisi dengan kelompok gajah lainnya (tidak memiliki area teritorial). Sehingga, kelompok besar gajah dalam klan, dapat berkumpul dengan klan lainnya. Kelompok besar gajah atau klan dapat memisahkan diri membentuk kelompok-kelompok kecil yang dipengaruhi oleh sebaran dan kapasitas sumber daya. 

Berkaitan dengan sebaran gajah yang dipengaruhi oleh sebaran dan kapasitas sumber daya, beberapa teori menyatakan bahwa semakin besar sumber daya di satu tempat, gajah akan semakin memperbesar kelompoknya untuk mengakses sumber daya tersebut. Pada musim penghujan atau monsoon dimana makanan berlimpah di satu tempat karena berair atau lembab, gajah menuju ke wilayah tersebut dalam jumlah besar. Pada saat sumber daya itu menipis, dan tersebar di berbagai tempat, gajah akan memisahkan kelompok menjadi kelompok kelompok kecil berkerabat dekat. 

Di sisi yang lain, ancaman populasi gajah di banyak tempat di Sumatera terjadi karena sumber daya makanan dan kebutuhan gajah lainnya sangat terbatas karena konversi lahan untuk kebun, pemukiman, pertanian dan lainnya. Dalam kelompok kecil pun, gajah tetap kekurangan akan sumber daya, sehingga konflik pun terjadi. Banyak kasus konflik gajah dengan manusia disebabkan oleh kelompok gajah masuk ke kebun atau pemukiman masyarakat untuk mengambil atau mencuri sumber daya yang ditanam masyarakat. Di banyak tempat, kasus konflik ini mengakibatkan perlawanan termasuk perlawanan fisik oleh manusia sehingga timbul korban gajah dan korban manusia,

Banyak solusi yang dikembangkan dalam melakukan pengurangan atau mitigasi konflik yaitu membangun barrier pembatas memisahkan gajah dengan manusia, membangun tim-tim pengusiran gajah untuk mengurangi konflik dan mengembangkan pembinaan habitat dan pengembangan sistem pertanian, kebun dan kehutanan yang dapat mengurangi konflik gajah – manusia. Dalam konteks pembinaan habitat, tujuan dari inisiatif ini adalah mendorong gajah dipenuhi sumber dayanya sehingga intensitas kedatangan gajah ke wilayah ini akan semakin banyak, kondisi ini otomatis akan mengurangi gajah dan kelompoknya mendatangi kebun atau lahan pertanian masyarakat dan pemukiman desa. 

Selain itu, dalam konteks sosial ekonomi masyarakat, solusi pengurangan konflik dapat meningkatkan penerimaan masyarakat tentang gajah sehingga meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi karena gangguan berkurang. Dalam konteks peningkatan sosial ekonomi juga menurunkan tensi masyarakat melakukan perburuan gajah atau gading untuk dijual atau dengan dalih konflik. 

 

A. Penelitian Ketersediaan dan Sebaran Jenis Tumbuhan Pakan Alami Gajah

Pembinaan habitat pada gajah dilakukan dalam berbagai cara yaitu dengan melakukan penanaman jenis tanaman pakan gajah alamiah atau eksotik yang memiliki kegunaan tinggi sebagai pakan gajah, melakukan eradikasi gulma tanaman pakan gajah alamiah, pemberian garam garaman mineral dan meningkatkan atau memperbanyak badan air untuk gajah. Luas wilayah pembinaan habitat disesuaikan dengan kebutuhan satu atau kelompok gajah di wilayah tersebut. 

Penelitian ini akan difokuskan kepada jenis-jenis tanaman alamiah yang menjadi pakan gajah di alam. Jenis-jenis tanaman pakan alamiah ini beberapa penelitian sebelumnya telah teridentifikasi misalnya pada famili poaceae, musaceae, palmae, cyperaceae, moraceae atau pada famili lainnya yang cukup sering digunakan sebagai pakan gajah. Beberapa penelitian pakan gajah ini tersebar di Aceh, Riau, Jambi sampai Lampung. Berkaitan dengan ini, pembaharuan dan pendetailan riset tetap perlu dilakukan terutama di lokasi-lokasi spesifik yang sangat potensial untuk kegiatan pembinaan habitat dan lokasi-lokasi yang belum pernah dilakukan penelitian pakan gajah. Hal ini mengingat, banyak lokasi-lokasi memiliki karakter spesifik yang berbeda dengan lokasi lain meskipun di wilayah habitat gajah. 

Target dari penelitian ini adalah mendapatkan informasi ketersediaan dan sebaran pakan gajah alamiah di lokasi-lokasi yang menjadi wilayah kerja konservasi gajah sumatera yang didukung oleh Tropical Forest Conservation Act (TFCA) sebagai bagian dari kelanjutan program-program yang didanai lembaga ini. Forum Konservasi Gajah Indonesia akan mewadahi kegiatan penelitian ini untuk kebutuhan pada konservasionis gajah dalam melindungi dan memperbesar wilayah pakan gajah untuk meningkatkan data dukung habitatnya di alam. 

Penelitian ini akan dilakukan di wilayah Aceh terutama di Bener Meriah atau Aceh Timur, Riau di wilayah Giam Siak Kecil di dalam konsesi PT. Arara Abadi atau Jambi di dalam konsesi PT. LAJ, dan Lampung di Taman Nasional Way Kambas. Waktu penelitian akan dilakukan di bulan Mei 2022 sampai November 2022. 

 

Tujuan Penelitian

  1. Mendapatkan informasi mengenai berbagai jenis tumbuhan pakan gajah alamiah melalui koleksi biji-biji dan pembibitan biji-biji tersebut dari yang dipencarkan oleh kotoran gajah dan sebaran jenis tumbuhan (vegetasi) yang menjadi sumber makanan gajah tersebut di tiga lokasi penting yaitu di Aceh, Riau atau Jambi dan Lampung. 
  2. Mendapatkan informasi karakteristik biji-biji atau sisa tumbuhan yang bisa teridentifikasi dalam kotoran gajah dan karakteristik vegetasi yang berkaitan dengan sebaran tumbuhan pakan gajah alamiah di tiga region tersebut. 
  3. Mendapatkan informasi mengenai ketersediaan dalam estimasi dominansi, frekuensi, biodiversitas dan kelimpahan masing-masing jenis pada biji-biji yang teridentifikasi dan dari hasil penggunaan metode quadrat. 
  4. Mendapatkan informasi mengenai estimasi sebaran dari tiap tiap jenis tumbuhan pakan gajah tersebut. 
  5. Mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai berbagai jenis tumbuhan yang dimakan di wilayah kebun masyarakat sebagai tambahan informasi. 

 

Metode Penelitian

  • Pengumpulan informasi jumlah jenis tumbuhan dari koleksi biji dalam kotoran gajah

Metode pengumpulan data dengan melakukan pemetaan pergerakan gajah liar terutama kelompok gajah yang terpasang GPS Collar untuk mendapatkan informasi sebaran kotoran gajah yang dalam kondisi segar. Kemudian informasi ini ditindak lanjuti dengan survei lapangan untuk koleksi kotoran gajah tersebut. Jumlah sampel kotoran segar tidak dibatasi dalam pengambilan tetapi masing-masing peneliti diharapkan mendapatkan sumber kotoran yang melimpah. Kemudian, kotoran – kotoran tersebut ditempatkan di tempat tertentu dan diisolasi untuk tidak terkontaminasi polen atau biji dari tempat lain. Lalu kotoran dikeringkan dan dipisahkan antara biji dengan material lainnya. 

Biji-biji tersebut kemudian diidentifikasi melalui panduan identifikasi biji dan dibiakkan atau ditumbuhkan di dalam media tanam untuk mengetahui jenis anakan tumbuhan tersebut. Penghitungan dominansi, frekuensi dan kelimpahan dihitung berdasarkan jumlah temuan biji di dalam satu kotoran lalu dikompilasi ke dalam seluruh kotoran yang dikoleksi. Identifikasi biji dibantu pula oleh botanist dari Kebun Raya Bogor. 

 

  • Penerapan metode kuadrat dan diagram profil

Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan grid 5 x 5 km2 yang kemudian di dalamnya terdiri atas grid 1 x 1 km2. Lalu, grid tersebut di overlay dengan citra satelit untuk mendapatkan gambaran tutupan hutan dari dari analisis citra satelit tersebut. Analisis citra melalui pendatan spectral analysis atau penghitungan NDVI. Kemudian, tutupan lahan tersebut di overlay dengan sebaran gajah terutama dari hasil GPS Collar yang telah dilakukan. Penentuan lokasi sampling adalah di grid – grid yang memiliki sebaran atau lamanya penggunaan lahan oleh gajah yang tertinggi di wilayah tersebut. 

Kemudian, grid yang terpilih adalah lokasi sampling yang akan diambil datanya. Setelah itu, lokasi ini akan dipilih untuk di detailkan tutupan lahan dari penggunaan drone untuk pemetaan tutupan lahan. Software agisoft akan digunakan untuk analisis foto udara tersebut dan kemudian dikomparasi dengan hasil analisis citra dalam ukuran yang sama. Metode kuadrat dan diagram profil sebanyak 4 kali untuk quadrat 20 x 20 m2, 10 x 10 m2, 5 x 5 m2 dan 2 x 2 m2 untuk ukuran pohon, pancang, anakan dan semak atau rumput di dalam grid yang telah dipilih. 

Apabila terjadi perbedaan tipe vegetasi di dalam grid yang terpilih, banyaknya sampling quadrat mengikuti banyaknya perbedaan tipe vegetasi tersebut. Kombinasi metode kuadrat dan diagram profil ini dapat mengetahui penampang dan sebaran vertikal dan horizontal dari vegetasi terutama pakan gajah yang teridentifikasi. Pemilihan tumbuhan pakan gajah atau tidaknya dalam metode ini dilakukan dengan kajian literatur, informasi dari pakar, praktisi, atau dari masyarakat yang mengetahui gajah. Identifikasi tanaman dilakukan dengan menggunakan foto dan pengambilan spesimen untuk herbarium. Identifikasi jenis di herbarium akan dibantu oleh botanis Kebun Raya Bogor. 

 

B. Penelitian Sosial Ekonomi Masyarakat dari Dampak Konflik  Gajah Sumatera

Keberadaan Gajah Sumatera dan masyarakat menjadi dua bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama bagi masyarakat yang hidup di dalam area jelajah gajah. Bagi masyarakat jaman dahulu, hidup berdampingan dengan gajah meningkatkan motivasi dan kebijakan lokal dalam mendukung keberadaan gajah misalnya dengan menjadikan gajah sebagai satwa yang dihormati, sebagai satwa karismatik dengan panggilan datuk atau orang yang dituakan, dan banyak dari penganut kepercayaan lampau, gajah dianggap satwa magis dan bagian dari titisan para dewa,

Dalam konteks sosial – ekonomi, yang memberikan dampak signifikan yang berhubungan dengan gajah saat ini adalah berkaitan dengan konflik gajah – manusia dan perburuan terutama di Indonesia. Konflik gajah – manusia berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat terutama pada kerugian konflik baik secara psikis yang dialami manusia dan gajah, juga mengganggu mata pencaharian manusia dan kehidupan gajah dalam mencari makanan5. Selain konflik, adalah perburuan untuk gading. Kondisi sosial – ekonomi masyarakat mengakibatkan perburuan satwa menjadi alternatif pendapatan termasuk gading atau organ gajah, tetapi dalam konteks ini adalah situasional atau beberapa kasus melibatkan masyarakat yang berada di wilayah jelajah gajah. Perburuan gading didominasi orang-orang yang spesialis atau profesional yang mungkin saja ekonomi tidak menjadi kendala dan tidak melibatkan orang lokal yang berada di dalam ruang jelajah gajah. 

Dampak sosial – ekonomi lainnya adalah penggunaan gajah untuk pariwisata, dan sangat spesifik misalnya di Tangkahan, taman safari dan kebun binatang. Di beberapa negara misalnya Myanmar, Laos, Thailand atau Kamboja dimana gajah dapat dimiliki secara pribadi, dampak bisa terasa apabila terjadi gangguan sosial ekonomi dalam memanfaatkan gajah. Di Indonesia, dampak sosial ekonomi tidak melibatkan masyarakat banyak dan tidak memberikan dampak kerugian bagi keduanya secara signifikan kecuali berkaitan dengan pendapatan dari pariwisata atau kesehatan satwa. Konteks sosial ekonomi berdasarkan pariwisata ini tidak menjadi bagian dari penelitian ini.

Penelitian ini akan mengarahkan pada sosial dan ekonomi masyarakat dari dampak keberadaan gajah sumatera di wilayahnya. Berkaitan dengan ini, informasi yang akan dikumpulkan adalah mengenai kondisi keberadaan gajah sumatera di wilayah studi berdasarkan informasi masyarakat dari tahun ke tahun, kemudian informasi mengenai intensitas konflik, perburuan dan ancaman lainnya dan dampak sosial ekonomi dari konflik atau perburuan bagi masyarakat, kemudian berkaitan dengan pengetahuan, sikap, perilaku dan opini masyarakat terhadap gajah sumatera, kehidupannya, dampak ancaman (konflik dan perburuan) dan pengetahuan tentang mitigasi ancaman atau penanganan terhadap ancaman gajah dan pandangan masyarakat tentang informasi-informasi yang berkaitan dengan dukungan stakeholder terhadap masyarakat berkaitan dengan keberadaan gajah, ancaman terhadap gajah dan sosial ekonomi masyarakat di dalam wilayah jelajah gajah. 

Target dari hasil penelitian ini adalah sosial ekonomi dari masyarakat dapat kita ketahui dari pengetahuan tentang gajah, ancaman-ancaman sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan keberadaan gajah terutama persoalan ancaman, dan sikap, perilaku dan pandangan masyarakat tentang gajah sumatera, dampaknya terhadap sosial ekonomi masyarakat dari keberadaan gajah dan solusi terhadap ancaman gajah (terutama konflik gajah – manusia dan perburuan) yang dapat meningkatkan kualitas sosial ekonomi masyarakat. 

 

Tujuan Penelitian :

  1. Mengumpulkan informasi mengenai kondisi masyarakat terutama berkaitan pengetahuan masyarakat tentang Gajah Sumatera dan dampak sosial ekonomi masyarakat terhadap keberadaan gajah sumatera terutama berkaitan dengan ancamannya.
  2. Mendapatkan informasi mengenai sikap, perilaku dan pandangan masyarakat tentang gajah sumatera, dampak sosial ekonomi masyarakat dari keberadaan gajah dan solusi terhadap peningkatan sosial ekonomi masyarakat. 
  3. Mendapatkan informasi mengenai strategi-strategi dan rekomendasi perbaikan sosial ekonomi masyarakat di dalam wilayah jelajah gajah termasuk dalam mitigasi keberadaan gajah sumatera yang mengganggu perikehidupan manusia atau mendorong manusia untuk hidup berdampingan. 
  4. Mendapatkan informasi mengenai sebaran gajah sumatera dari waktu ke waktu dan intensitas konflik, perburuan atau ancaman lainnya dari masyarakat. 

 

Metode Penelitian

Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan grid 5 x 5 km2 untuk penentuan lokasi sampling sebaran questioner di masyarakat. Metode yang diadopsi dari Elephant Conservation Group (ECG) yang digunakan di beberapa negara yaitu India, Sri Lanka, Nepal, Thailand, Malaysia dan Kamboja. Penentuan grid 5 x 5 km2 adalah berdasarkan estimasi sebaran gajah atau wilayah kantong gajah di wilayah itu. Kemudian, sampel dari masyarakat diambil dengan jumlah responden maksimal 3 orang per grid 5 x 5 km2. Apabila di dalam grid tidak ada pemukiman atau kawasan konservasi yang tidak memiliki masyarakat di sana, grid tersebut tidak ada responden, tetapi apabila grid banyak dihuni masyarakat. Pemilihan responden diambil 3 orang yang dipilih karena memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang gajah. 

Questioner dipersiapkan secara sistematis berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan gajah sumatera, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan dampak sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan gajah sumatera di wilayahnya. Kemudian, questioner ini memasukkan informasi mengenai sikap, perilaku dan pendapat masyarakat tentang gajah sumatera, mengenai sosial ekonomi dan dampaknya berkaitan dengan gajah sumatera, solusi dalam kondisi sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan ancaman gajah – manusia, langkah – langkah untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan strategi penanganannya terutama berkaitan dengan hidup berdampingan dengan gajah sumatera. Referensi kuesioner berdasarkan standar kuesioner ECG (Elephant Conservation Group), survei sosial ekonomi yang berkaitan sistem agroforestri dari Rimba Satwa Foundation dan studi SKAP dari Conservation International Indonesia. 

 

Area Lingkup Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di kantong-kantong gajah yang mewakili sebaran gajah di utara Pulau Sumatera (Aceh dan Sumatera Utara), bagian Tengah Sumatera (Riau dan Jambi) dan di Selatan Pulau Sumatera (Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung). Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau dalam rangka penyusunan skripsi dengan total 12 kegiatan penelitian di tiga region sumatera. 

Gambar 1. Peta sebaran atau kantong Gajah Sumatera di Sumatera

Gambar 2. Sebaran kantong gajah di Sumatera dalam grid 5 x 5 km2 untuk seluruh pulau Sumatera

 

Total grid 5 x 5 km2 untuk seluruh pulau Sumatera adalah 18.193 grid dengan kode grid 1 sampai 19729. Jumlah kantong gajah yang teridentifikasi adalah 33 kantong dengan total grid 5 x 5 km2 adalah 2.206 unit. Total grid di Sumatera bagian Utara adalah 726 grid. Di Sumatera bagian Tengah, jumlah gridnya adalah 501 unit melingkupi Riau dan Jambi. 937 grid untuk Sumatera bagian Selatan meliputi kantong gajah Bengkulu, Restorasi Ekosistem Hutan Harapan (Jambi – Sumatera Selatan), kantong gajah Sumatera Selatan dan Lampung. Kantong-kantong gajah ini menjadi wilayah target penelitian ini. 

Sebagai panduan peneliti untuk mendapatkan data terbaru gajah, sebaran penggunaan GPS Collar sampai tahun 2022 berada di Aceh terutama Ulu Masen, Aceh Tengah, Aceh Timur dan Aceh Tenggara, Riau di wilayah kantong Balai Raja, Giam Siak Kecil dan Petapahan. Di Jambi, GPS Collar sampai hari ini terpasang di Tebo (blok Sumay) dan restorasi ekosistem Hutan Harapan. Di Bengkulu, satu unit terpasang di wilayah utara TWA Seblat, 3 GPS Collar belum terpasang di Sumatera Selatan (GPS ini akan siap terpasang antara April dan Mei 2022. Lampung, satu unit GPS Collar terpasang di Bukit Barisan Selatan. 

Penentu pergerakan dan sebaran gajah sumatera lainnya juga bisa didapat dari tim monitoring gajah dan tim mitigasi konflik gajah – manusia di tingkat pemerintah, NGO dan masyarakat. Sebarannya di Aceh, Riau termasuk Tesso Nilo, Jambi, Sumatera Selatan terutama blok Ogan Komering Ilir, dan Lampung termasuk Way Kambas. 

Penelitian ini akan dilakukan di kantong-kantong gajah yang mewakili sebaran gajah di utara Pulau Sumatera (Aceh dan Sumatera Utara), bagian Tengah Sumatera (Riau dan Jambi) dan di Selatan Pulau Sumatera (Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung). Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa yang dengan jumlah total 12 kegiatan riset baik individu maupun kelompok. 

 

***

 

Kawasan Ekosistem Esensial, Harapan Terakhir Pelestarian Gajah di Bentang Seblat

Pelestarian gajah melalui program pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Gajah sudah dilaksanakan sejak tahun 2018. Kerja kolaboratif ini melibatkan lebih 17 pemangku kepentingan yang berasal dari organisasi masyarakat sipil, dinas atau lembaga pemerintah dan perusahaan serta komunitas yang tinggal di sekitar kawasan. Forum ini memiliki payung kebijakan melalui surat keputusan Gubernur Provinsi Bengkulu. Program KEE Seblat menyasar dua hal penting yaitu, menyelamatkan kawanan gajah tersisa yang jumlahnya tidak lebih dari 50 ekor dan menyelamatkan habitat yang terus menyempit.

Ketua Forum Kolaborasi Pengelolaan KEE Koridor Gajah Sumatera lanskap Seblat Provinsi Bengkulu, Sorjum Ahyan, MT mengatakan pembangunan KEE menjadi harapan terakhir dalam melestarikan gajah di bentang Seblat. Program ini merupakan bagian dari upaya untuk memastikan habitat gajah dapat kembali bersatu dengan adanya integrasi pengelolaan lanskap sebagai satu kesatuan KEE Koridor Gajah Sumatera.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kegiatan peletakan batu pertama prasasti titik nol Koridor Gajah Sumatera di Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, Desa Suka Baru Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu pada hari Rabu, 12 Agustus 2020 sekaligus dilaksanakan dalam rangka memperingati  hari Gajah Sedunia atau “World Elephant Day” 2020.

Kegiatan ini merupakan  wujud dari sinergitas antar pemangku kepentingan dalam pelestarian gajah. Berfungsinya koridor gajah dapat memberikan ruang gerak gajah secara luas dalam melakukan perjalanan dan migrasi, agar tercipta pertukaran genetik antar populasi  serta memberi peluang rekolonisasi habitat yang populasi lokalnya telah punah.

Ir. Donald Hutasoit, M.E. selaku Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu–Lampung yang juga merupakan Wakil Ketua Forum menyatakan “KEE merupakan pilihan terbaik untuk berbagi ruang antara manusia dan gajah yang sama-sama makhluk Tuhan agar berhak untuk hidup bersama. Harmonisasi antara gajah dengan manusia adalah pendekatan yang akan menjadi kunci keberhasilan program ini. Tanpa itu, ke depan kita hanya akan mendengar cerita bahwa gajah pernah ada di bentang Seblat,” katanya.

Ketua Kanopi Hijau Indonesia Ali Akbar yang juga Sekretaris Forum KEE menyatakan bahwa menyelamatkan kawanan Gajah Sumatera berarti juga menyelamatkan fungsi ekologis bentang Seblat. “Perlu diketahui warga yang tinggal di hilir, dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya mengandalkan daya dukung lingkungan dan layanan ekosistem,” kata Ali.  Ditambahkannya, sungai- sungai besar di Bengkulu seperti Sungai Manjunto, Seblat, dan Ketahun semuanya berhulu di bentang Seblat, sebagai sumber air irigasi, pembawa unsur hara dari hulu serta menjadi sumber pendapatan tambahan masyarakat.

“Pemasangan prasasti ini adalah momentum bersama dari para pihak yang benar-benar ingin melestarikan kawanan gajah dan habitatnya, aktualisasi kerja-kerja pembangunan KEE ini juga akan menjadi barometer bagi publik untuk melakukan kontrol terhadap kerja-kerja kolaboratif yang sekarang ini sedang dibangun” katanya.

Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginisiasi KEE koridor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di kawasan bentang alam Seblat yang mencakup wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko. KEE koridor gajah sumatera di lanskap Seblat Bengkulu ini dibentuk melalui Surat Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor 4 Tahun 2017.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Krismanko Padang mengatakan ada tiga penyebab utama kepunahan gajah Sumatera yaitu kehilangan habitat, perburuan untuk mengambil bagian tubuh gajah serta konflik dengan manusia. Karena itu, peringatan Hari Gajah Sedunia 2020 menjadi momentum menguatkan komitmen para pihak melestarikan satwa langka gajah Sumatera. Setelah kegiatan ini forum akan menyusun dan meluncurkan rencana aksi forum KEE untuk tiga tahun ke depan.  Tahun ini dengan dukungan para pihak termasuk Forum Konservasi Gajah Indonesia, pemasangan kalung GPS  dan survei populasi gajah berbasis DNA akan dilakukan untuk mengetahui populasi dan wilayah jelajah gajah liar di bentang alam Seblat” kata Krismanko. Lebih lanjut ia mengatakan KEE berfungsi menyatukan habitat gajah yang selama ini terpisah-pisah dan tidak ada jalur penghubung. Kondisi ini membuat antar kelompok gajah terkotak-kotak yang mengancam populasi dan masa depan gajah.

Mengingat pentingnya koneksi antar kelompok gajah sumatera inilah maka pemerintah bersama pemangku kepentingan mengupayakan pembangunan koridor sehingga kelompok gajah saling terkoneksi. Kawasan yang diusulkan dalam KEE bentang alam Seblat seluas 29 ribu hektare mencakup Hutan Produksi (HP) Air Rami, Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis, Taman Wisata Alam (TWA) Seblat, TNKS dan sebagian konsesi IUPHK dan HGU perkebunan kelapa sawit.

Antisipasi COVID-19, Kongres FKGI 2020 Ditunda

Menimbang perkembangan terkini menimbang perkembangan terkini kasus COVID-19 dan setelah berdiskusi dengan segenap pengurus FKGI, maka kami memutuskan pertemuan penajaman Rencana Tindakan Mendesak (RTM) dan Kongres Gajah yang sedianya dilaksanakan di Jakarta, pada 16 – 18 Maret 2020 ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Demikian keputusan ini kami buat, semoga apa yang kita lakukan ini mendapat berkah, dan semua peserta diberi kesehatan hingga kembali ke rumah masing-masing. Amin.

Atas nama FKGI
Donny Gunaryadi