Pembukaan Hibah TFCA Sumatera untuk Konservasi Gajah

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, TFCA-Sumatera kembali membuka kesempatan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), maupun perguruan tinggi baik secara kolaboratif (konsorsium) maupun masing-masing lembaga untuk mengajukan proposal Penyelamatan Populasi Dan Pelestarian Satwa Liar Terancam Punah Sumatera. Siklus Hibah  ini ditujukan khusus untuk pendanaan konservasi gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) dimana proposal yang akan diajukan diharapkan mengacu pada  dokumen Rencana Tindakan Mendesak (RTM) Penyelamatan Populasi Satwa Gajah Sumatera.

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) merupakan flagship species Indonesia yang keberadaannya sangat terancam bahaya kepunahan. Spesies ini sudah menjadi spesies yang dilindungi sejak zaman pemerintahan kolonial sampai saat ini. Gajah Sumatra dikategorikan sebagai spesies yang Critically Endangered, dalam IUCN Red List yang berarti sudah kritis terancam bahaya kepunahan.  Berdasarkan rilis data Kementerian LHK dan FKGI tahun 2019, populasi gajah Sumatra di habitat alaminya diperkirakan tinggal 924–1359 ekor yang tersebar di tujuh provinsi yang meliputi Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung.

Sampai saat ini kematian gajah secara tidak alami masih tetap terjadi hingga mengancam keberlanjutan spesies ini di habitat liarnya.   Upaya untuk menghentikan kematian dan laju penurunan populasi mamalia besar ini telah banyak dilakukan baik oleh Pemerintah maupun dengan dukungan lembaga-lembaga non pemerintah. Namun ancaman terhadap kelestarian gajah masih tetap tinggi dan mengkhawatirkan.  Pemerintah telah mengeluarkan dokumen Rencana Tindakan Mendesak (RTM) Penyelamatan Populasi Satwa Gajah Sumatera 2019-2022 untuk menyelamatkan populasi gajah Sumatra dan habitatnya. Dokumen ini mengidentifikasi bahwa kematian gajah secara tidak alami menjadi ancaman terbesar bagi keberlangsungan populasi gajah saat  ini.

Ada empat (4) faktor yang merupakan isu utama yang menjadi penyebab kematian gajah tidak alami, yaitu perburuan; konflik gajah manusia dengan gajah; ancaman akibat jerat, sengat listrik, racun; dan populasi kritis/terisolasi.

Untuk mengatasi keempat isu utama tersebut tersebut, TFCA-Sumatera mengundang LSM, KSM maupun perguruan tinggi untuk dengan menyampaikan proposal pendanaan hibah (grant application) baik individual maupun bersama-sama (joint proposal/konsorsium) bagi penyelamatan gajah Sumatra di 6 provinsi prioritas, yaitu   Aceh, Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan dan Bengkulu.

Masa pengajuan proposal sampai pada 27 April 2020. Info selengkapnya terdapat pada link berikut :

http://tfcasumatera.org/undangan-pengajuan-proposal-pemulihan-populasi-gajah-sumatra/

Dibuka Pendaftaran Anggota FKGI 2020

Kepada Yth.
Anggota dan Calon Anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia
di Tempat

Dengan hormat,

Dalam rangka memperbarui keanggotaan Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) untuk tahun 2020, kami ingin mengundang Bapak/Ibu Anggota dan Calon Anggota FKGI untuk mengisi form keanggotaan yang tersedia pada tautan di bawah ini:

https://tinyurl.com/forumgajah

atau scan QR Form di bawah ini

Form tersebut hanya akan dibuka selama bulan Februari 2020. Demikian yang dapat kami sampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.

Salam,
[FKGI]

Pembaruan Dokumen Strategis Konservasi Gajah Perlu Kajian Matang

Jakarta (Greeners) – Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan tanggal 12 Agustus sebagai salah satu hari penting internasional. Sejak tahun 2012, PPB memutuskan tanggal tersebut sebagai Hari Gajah Sedunia. Indonesia sendiri adalah salah satu dari sedikit negara dengan populasi gajah yang telah mengembangkan dan melakukan pembaruan dokumen Strategi Konservasi Gajah Indonesia dan Rencana Aksi (2007-2017).

Bagi Indonesia, penting untuk mendapatkan masukan terhadap pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah 2018-2028. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang memiliki dua sub-spesies gajah Asia sekaligus, yaitu Kalimantan dan Sumatera.

Populasi gajah tersebut saat ini diperkirakan tersisa 1.724 individu menurut Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI,2014), atau menurun sekitar 28% dari tahun 2007 yang tercatat sekitar 2.400-2.800 individu.

Pada tahun 2011, Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) statusnya telah menjadi Critically Endangered (CR). Hal ini disebabkan karena jumlah populasi yang menurun kurang lebih 80% selama lebih dari 3 generasi. Selain itu, lebih dari 69 persen habitat gajah Sumatera yang potensial telah berkurang dalam 25 tahun terakhir. Kondisi seperti ini terjadi pada populasi gajah di hampir semua negara-negara di Asia.

Terkait pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah 2018-2028, Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Wiratno mengatakan kalau draf tersebut akan mempertimbangkan perubahan-perubahan land use (penggunaan lahan) dan pengalaman-pengalaman terhadap pusat konservasi gajah yang masih memiliki banyak masalah. Seperti keberhasilan yang terjadi pada sanctuary di Barumun Nagari, Sumatera Utara dengan keberhasilan konservasi gajahnya karena pola edukasi yang sesuai.“Kita juga melibatkan para pihak seperti tokoh-tokoh agama, pemuka adat, dan masyarakat. Ke depan kita akan mendorong sanctuary ini di beberapa tempat. Kedua, saya mendorong komunikasi lintas pusat konservasi gajah. Lalu tentu akan melibatkan para pihak seperti swasta untuk investasi di kantong-kantong populasi gajah,” katanya kepada Greeners saat ditemui di sela-sela pelaksanaan Hari Konservasi Alam Nasional di Banyuwangi, Kamis (10/08).

Wiratno juga mengatakan bahwa penegakan hukum akan terus diperkuat dengan kerjasama antara berbagai pihak. Namun yang lebih penting adalah langkah pencegahan perburuan gajah sebelum melakukan penegakan hukum, termasuk melakukan komunikasi dan sosialisasi kepada masyarakat di wilayah-wilayah habitat gajah.

“Sosialisasi ini penting supaya masyarakat paham mana yang memang wilayah teritori gajah dan tidak mengubahnya menjadi lokasi pertanian ataupun perkebunan,” ujarnya.

Donny Gunaryadi dari Forum Konservasi Gajah mengatakan telah melakukan proses evaluasi di empat regional yaitu Sumatera bagian Utara (di wilayah Aceh) , bagian tengah (di wilayah Riau dan Jambi), bagian Selatan (di wilayah Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan); dan di Kalimantan Utara. Menurutnya, cukup banyak masukan tentang berbagai masalah yang dihadapi oleh gajah dan kantong populasinya.Masalah proteksi, diakuinya masih menjadi masalah yang sulit ditangani. Kasus kematian gajah yang masih sering terjadi memperlihatkan perlindungan gajah di tiap-tiap kantong populasinya masih sangat lemah. Mitigasi masalah konflik dan bagaimana mitigasi ini bisa terus berjalan pun masih dalam pembahasan. Kajian untuk mengetahui populasi dengan metode yang paling valid pun telah dilakukan, namun tetap masih belum merata di semua situs karena masalah pendanaan.

“Lalu evaluasi dan masukan kami yang selanjutnya untuk dokumen Strategi Konservasi Gajah Indonesia dan Rencana Aksi selanjutnya itu ada di pendanaan. Skema pendanaan untuk kegiatan membantu gajah jauh lebih kecil dari ekosistem lain. Ini harus bisa ditemukan solusinya. Lalu masalah ekologi gajah masa kini, perlu tidak sih kajian terhadap tingkat stres gajah. Apalagi yang ada di konsesi besar. Terkahir ya masalah kebijakan harus diperkuat. Untuk evaluasi juga, harus dibuat tolak ukur dari rencana aksi ini. Harus dilihat juga ukuran keberhasilannya,” tutup Donny.

Penulis: Danny Kosasih

Sumber: http://www.greeners.co/berita/pembaruan-dokumen-strategis-konservasi-gajah-perlu-pertimbangan-matang/

Selamat Hari Gajah

Hari ini, 12 Agustus merupakan hari Gajah se-dunia. Hari gajah diperingati untuk mengingatkan kita semua akan besarnya tingkat kehilangan dan kepunahan gajah di seluruh dunia saat ini. Besarnya tingkat ancaman, holangnya habitat dan tingginya tingkat kematian gajah, menyebabkan beberapa populasi gajah di dunia mengalami tingkat penurunan populasi yang tinggi.

Indonesia saat ini mempunyai dua anak jenis Gajah Asia, Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. Peningkatan status konservasi gajah sumatera dalam IUCN Redlist di tahun 2012 dari Genting menjadi Kritis mengindikasikan keseriusan tingkat keterancaman satwa yang hidup dalam ikatan sosial yang kuat. Kondisi tersebut juga menunjukkan kerentanan ekosistem Sumatera, dimana jutaan manusia dan beragam mahluk lain hidup dan saling membutuhkan. Pemulihan gajah dan ekosistem Sumatera menjadi keharusan jika kita ingin mewariskan alam dengan daya dukung dan fungsi habitat alami yang baik bagi generasi di masa datang.

Pemulihan populasi gajah sumatera memerlukan upaya terintegrasi dan perubahan mendasar yang melibatkan berbagai pihak terkait. Namun, sejak peningkatan status tersebut, belum terlihat adanya upaya perbaikan pengelolaan terpadu yang terukur. Upaya-upaya untuk menekan ancaman dan konflik pun terlihat masih sangat jauh dari yang diharapkan.

Di hari gajah ini, mari kita satukan langkah dan niat untuk mendukung konservasi gajah di Indonesia.