SuaraRiau.co -PEKANBARU-Langkah kaki dan hembusan nafasnya yang besar serta lengkingan suaranya yang nyaring, memecah suasana alam lokasi hutan raya tropis di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, Balai Besar Konservasi Sumber daya Alam, Riau.

Melihat satwa liar bertubuh raksasa dan berhati lembut ini, beratnya bisa mencapai 3-5 ton. Berjalan di hutan hujan, menginjak dan memakan tumbuhan vegetasi. Mereka menipiskan pohon-pohon muda yang tumbuh bersaing untuk mendapatkan ruang, melintasi sungai, dan cahaya, telah memberikan ruang bagi pohon lainnya untuk tumbuh tinggi menjulang memelihara pertumbuhan hutan tropis di kawasan Riau.

Hal ini berarti, memelihara lingkaran kehidupan di bumi Lancang Kuning. Populasinya yang terancam menyebabkan satwa liar ini sudah sangat sulit ditemukan.Meski dulunya Riau sebagai tempat populasi terbesar Gajah Sumatera.

Begitu menakjubkan melihat tingkah dan kehidupan gajah, ketika puluhan jurnalis di Pekanbaru diberi kesempatan berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) pada Selasa (18/7/2023) lalu. Meski panas terik menyengat, tidak membuat semangat jurnalis memanfaatkan kesempatan yang sangat jarang bisa diperoleh ini, digunakan untuk mengenal konservasi kehidupan “raksasa” penjaga hutan di Wilayah Kerja (WK) Rokan tersebut.

PLG Minas berlokasi sekitar 2 km di sisi kiri dari simpang keluar Gerbang Tol Minas. Paska melewati sepanjang jalan gerbang tol itu, mata pengunjung akan menatap kilatan dari tabung panjang pipa aliran minyak dan gas milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Ukurannya lebih kecil dibandingkan pipa di lokasi lainnya. Sekitar 3 km berjalan di tanah yang dominan berwarna kuning tersebut, maka akan sampai di gerbang gapura PLG (Minas) BBKSDA Riau. Kepala Seksi Konservasi BBKSDA Riau Wilayah IV, Azmardi Kamil beserta staff dan mitranya menyambut kunjungan tersebut.

Terasa oleh penciuman kita hawa bau satwa liar tersebut. Sedangkan jejak gajah akan terlihat, ketika hampir mendekati bagian utama dari gerbang PLG. Beberapa sisi tampak ujung relief tanah yang berbentuk semenanjung dimana rantai besar terletak di tengah semenanjung sisi kiri jalan masuk. Beberapa meter lainnya ada di sebelah kanannya.

Sekitar lebih kurang 50 meter, kita akan sampai di bagian utama gedung pusat pelatihan gajah. Kondisi terik tiba-tiba hilang seketika, memasuki lokasi yang banyak ditumbuhi pohon-pohonan yang tumbuh dengan jarak yang tertata rapi. Hal ini membuat suasana terik menjadi sejuk. Jangan terkejut. Jika dua ekor ayam mutiara yang langka dan antik dari Indonesia Timur menyambut para pengujung. Fenomena gerakan mondar-mandir kedua ayam yang lucu dan eksotis itu, memanjakan mata yang melihatnya. Sebab sejak pertama kali melihatnya, semua mata yang memandang tak lepas terus menatap tingkah kedua ayam berbulu keabu-abuan bintik hitam dan gendut itu. Hal ini membuat gemas dan mencoba untuk menangkapnya. Kedua ayam itu sedang menanti untuk diberikan makanan. Tampak jinak. Namun sulit dijamah. Apa lagi ditangkap. Suasana ini mendorong untuk lebih ingin tahu dan mengenal kondisi konservasi gajah di Blok Rokan.

Dua ekor ayam mutiara dari Indonesia Timur jadi penghuni PLG Minas, Selasa (18/7/2023).(FOTO/SRc/Imelda Vinolia)

Tak berapa lama kemudian beberapa ekor gajah tiba dengan mahot (pengembala gajah, red). Kedatangan satwa liar berbadan raksasa ini, membuat mata yang baru datang tampak lebih berbinar-binar. Namun tetap sedikit was-was terhadap satwa liar berbelalai tersebut. Gajah-gajah itu dengan jinak berdiri berjejer di dekat tempat duduk kayu balok panjang. Satwa liar rantai puncak makanan ekosistem ini, menanti untuk diberikan potongan-potongan besar buah nenas dan semangka yang ditaruh di bangku panjang balok yang berjarak 1,5 meter dihadapannya. Pihak PHR membawa buahan tersebut, sebagai buah tangan bagi gajah, agar satwa yang suka makan tumbuhan itu, senang menerima pengunjungnya.

Satu-satu para jurnalis mencoba ‘beramah-tamah’ ingin dekat dengan gajah yang beratnya bisa mencapai 1-3 ton. Awalnya takut-takut. Salah satu jurnalis mencoba memasukkan makanan ke salah satu mulut gajah. Tiba-tiba ia terkejut ketika tangannya mencapai mulut sang gajah yang menganga lebar. “Ops!” ujarnya menarik tangannya secara refleks kembali. Membuat potongan semangka jatuh, tidak sampai masuk ke mulut gajah. Kemudian ia coba lagi dengan panduan mahot.Setelah beberapa saat, akhirnya berhasill. Jurnalis lainnyapun juga mengikuti untuk memberikan buah-buah tersebut.

Nuansa bunyi-bunyian alam hutan, endusan dan helaan nafas gajah sesekali terdengar. Hembusan udara keluar dari hidung dengan tekanan yang dalam dan lepas. Seperti bunyi bus sedang mengerem di jalan penurunan. Helaan nafas dan suara hewan liar ikon Sumatera tersebut, berbaur membuat cukup terasa hiruk pikuk suara gajah yang memecah luasnya alam di PLG Minas. Ditambah lagi suasana jadi ramai, ketika kerap kali terdengar suara gajah melengking bak terompet mengeluarkan ciri khas bunyiannya.

Asyiknya, Lihat Gajah Mandi di Sungai Takuwana

Bangsong (paling kiri), nama gajah jantan bergading tampak tidur menikmati sejuknya air Sungai Takuwana bersama kawanannya di Hutan Raya PLG Minas, Selasa (18/7/2023). (FOTO/SRc/Imelda Vinolia).

Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau kebiasaan mandi dua kali bukan saja kebiasaan manusia. Tetapi kewajiban mandi dua kali juga harus dilakukan gajah. Tak heran jika sewaktu-waktu masuk hutan, kawanan gajah ditemukan suka berjalan menyisiri dan singgah di sungai.

Usai makan buah-buahan, kawanan gajah jinak di PLG Minas tersebut juga demikian. Beriringan turun ke sungai. Sangat menarik melihat kawanan gajah tersebut turun ke Sungai Takuwana yang jernih yang jaraknya sekitar 300 meter dari bangunan PLG.

Mata gajah yang unik dan lucu dengan telinganya yang lebar serta berbelalai panjang, tampak masuk ke sungai dengan mimik tubuh kesenangan. Sesekali belalainya menyedot air membentuk pancuran ke atas. Menidurkan diri ke air dan sesekali berdiri kembali sembari kulitnya digosok mahot dengan bros lebih besar dari bros untuk menyuci kain. Bulunya dari bahan susunan potongan logam-logam yang disusun, yang menurut para mahot karena kulit gajah sangat tebal. Butuh bros yang lebih keras untuk membersihkan tubuh gajah-gajah tersebut.

Gajah induk sangat menikmati mandi di Sungai Takuwana, PLG Minas, Selasa (18/7/2023). (FOTO/SRc/Imelda Vinolia).

Sementara anak gajah bernama Togar yang berumur 7 tahun, tampak “bahenol” dengan langkahnya lebih kecil dibandingkan gajah dewasa lainnya. Mimik mukanya yang lucu, juga ikut turun ke sungai. Gerak tubuh Togar kelihatan bahwa Togar seperti ‘anak kecil’ yang dikasihani dan disayang membuat yang melihatnya ‘gemes’. Pelan-pelan Togar juga akhirnya sampai ke bibir sungai dan masuk ke dalam air. Ikut bergembira merasakan mandi di bawah mentari yang masih bersinar dengan teriknya.

Togar anak gajah yang berkelamin jantan dan berumur 7 tahun ikut mandi di sungai (FOTO/SRc/imelda Vinolia).

“Ayo Togar, ujar para jurnalis. Diantaramya sudah melepaskan sepatu ikut masuk ke sungai yang dangkal itu, memandikan gajah dewasa (induk) yang telah lebih dahulu masuk ke sungai.

Togar pun, dengan senang hati menunjukkan kebolehannya berada di dalam sungai kecil yang jernih itu, menikmati air yang disiram ke tubuhnya oleh mahot dan para wartawan.

Menurut Mahot bernama Syahron (47), kesenangan gajah mandi ke sungai hingga dua kali sehari. Sebab, tubuh gajah yang besar tidak mengeluarkan keringat. Untuk mengatasi suhu tubuhnya agar memiliki hawa yang sejuk, maka gajah paling senang mandi di sungai.”Apa lagi cuaca panas terik, selain ingin minum, gajah akan mengademkan dirinya ke air,” ujarnya.

Tampak kawanan gajah bersama mahot pulang dari sungai, menaiki jalan mendaki menuju pusat PLG Minas.(FOTO/SRc/Imelda Vinolia)

Fenomena asyiknya gajah mandi di sungai jernih demikian, membuktikan masih tampak sisa indahnya kemolekkan hutan dengan sungai dangkal yang jernih berwarna tanah pasir pasang (pasir untuk membangun rumah,red) ini. Hal ini membawa imajinasi kita sejenak menikmati alam hutan raya tropis yang masih tersisa tersebut.

Bisa dibayangkan betapa indah dan megahnya suasana alam atas kehadiran raksasa lembut hutan Sumatera, dengan ekosistem di dalamnya.Terutama ketika hutan masih lebat. Namun sayang, kini penjaga hutan di Wilayah Kerja (WK) Rokan itu telah lama terancam punah akibat perambahan hutan.

Hilangnya ‘Rumah Satwa Kunci’ di Hutan Tropis Riau

Masifnya penghancuran hutan alam Riau, hampir tak menyisakan tempat bagi ruang hidup satwa liar. Menurut mantan Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Woro Supartinah, dalam laporan ‘Publik Review Perubahan Peraturan Perundang-undangan Terkait Hutan Tanaman Industri (PP dan Produk Hukum KLHK) Sejak 1996 – 2017′ yang terbit Mei 2018, hal ini terjadi sejak saat perkembangan industri HTI dipromosikan sebagai sektor penyumbang pendapatan bagi negara, setelah sektor pertambangan minyak dan gas di Indonesia.

Menurut Koordinator Jikalahari Riau, Made Ali, setelah masuknya industri HTI dan sawit dampaknya tak hanya mematikan sumber hidup seperti air dan hasil hutan. Tetapi melenyapkan ruang hidup ‘satwa kunci’ Gajah dan Harimau Sumatera serta satwa-satwa lainnya yang selama ini yang tidak masuk dalam prioritas konservasi. Dampak lainnya, kerap kali terjadi interaksi negatif antara gajah dan manusia.

Kepala Seksi Konservasi BBKSDA Riau Wilayah IV, Azmardi di sela-sela kunjungan membenarkan dampak kepunahan satwa liar akibat masuknya era industry HTI dan Perkebunan sawit. Salah satunya berdampak pada kehidupan Gajah Sumatera.

Kepala Seksi Konservasi BBKSDA Riau Wilayah IV, Azmardi.(FOTO/SRc/Imelda Vinolia).

Azmardi menjelaskan Gajah di PLG merupakan bagian dari jenis Gajah Asia atau elephas maximus. Yakni memiliki tiga sub spesies yaitu Elephas Maximus Indicus, Elephas Maximus dan Elephas Maximus Sumatranus. Gajah Sumatera adalah salah satu sub spesies Gajah Asia. Nama ilmiahnya Elephas Maximus Sumatranus.

 


Baca selengkapnya dari sumber di : https://suarariau.co/m/baca/berita/2023-08-31–ngetem-raksasa-lembut-satwa-kunci-penjaga-hutan-di-wk-rokan