Kerangka Acuan Kegiatan

DUKUNGAN DANA RISET GAJAH SUMATERA 2022

 

PENDAHULUAN

Gajah Sumatera adalah salah satu subspesies gajah asia yang masih hidup di Indonesia atau tepatnya di pulau Sumatera. Sub spesies ini masuk kategori sangat terancam punah (critically endangered) menurut IUCN. Karakteristik gajah ini adalah sama dengan gajah asia lainnya yaitu hidupnya berkelompok terutama untuk betina di mana betina dewasa paling besar sebagai pemimpin kelompok (matrilineal) dan jantan dewasa umumnya justru soliter. Gajah memiliki wilayah jelajah tetapi tidak memiliki daerah yang dipertahankan oleh kelompok untuk berkompetisi dengan kelompok gajah lainnya (tidak memiliki area teritorial). Sehingga, kelompok besar gajah dalam klan, dapat berkumpul dengan klan lainnya. Kelompok besar gajah atau klan dapat memisahkan diri membentuk kelompok-kelompok kecil yang dipengaruhi oleh sebaran dan kapasitas sumber daya. 

Berkaitan dengan sebaran gajah yang dipengaruhi oleh sebaran dan kapasitas sumber daya, beberapa teori menyatakan bahwa semakin besar sumber daya di satu tempat, gajah akan semakin memperbesar kelompoknya untuk mengakses sumber daya tersebut. Pada musim penghujan atau monsoon dimana makanan berlimpah di satu tempat karena berair atau lembab, gajah menuju ke wilayah tersebut dalam jumlah besar. Pada saat sumber daya itu menipis, dan tersebar di berbagai tempat, gajah akan memisahkan kelompok menjadi kelompok kelompok kecil berkerabat dekat. 

Di sisi yang lain, ancaman populasi gajah di banyak tempat di Sumatera terjadi karena sumber daya makanan dan kebutuhan gajah lainnya sangat terbatas karena konversi lahan untuk kebun, pemukiman, pertanian dan lainnya. Dalam kelompok kecil pun, gajah tetap kekurangan akan sumber daya, sehingga konflik pun terjadi. Banyak kasus konflik gajah dengan manusia disebabkan oleh kelompok gajah masuk ke kebun atau pemukiman masyarakat untuk mengambil atau mencuri sumber daya yang ditanam masyarakat. Di banyak tempat, kasus konflik ini mengakibatkan perlawanan termasuk perlawanan fisik oleh manusia sehingga timbul korban gajah dan korban manusia,

Banyak solusi yang dikembangkan dalam melakukan pengurangan atau mitigasi konflik yaitu membangun barrier pembatas memisahkan gajah dengan manusia, membangun tim-tim pengusiran gajah untuk mengurangi konflik dan mengembangkan pembinaan habitat dan pengembangan sistem pertanian, kebun dan kehutanan yang dapat mengurangi konflik gajah – manusia. Dalam konteks pembinaan habitat, tujuan dari inisiatif ini adalah mendorong gajah dipenuhi sumber dayanya sehingga intensitas kedatangan gajah ke wilayah ini akan semakin banyak, kondisi ini otomatis akan mengurangi gajah dan kelompoknya mendatangi kebun atau lahan pertanian masyarakat dan pemukiman desa. 

Selain itu, dalam konteks sosial ekonomi masyarakat, solusi pengurangan konflik dapat meningkatkan penerimaan masyarakat tentang gajah sehingga meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi karena gangguan berkurang. Dalam konteks peningkatan sosial ekonomi juga menurunkan tensi masyarakat melakukan perburuan gajah atau gading untuk dijual atau dengan dalih konflik. 

 

A. Penelitian Ketersediaan dan Sebaran Jenis Tumbuhan Pakan Alami Gajah

Pembinaan habitat pada gajah dilakukan dalam berbagai cara yaitu dengan melakukan penanaman jenis tanaman pakan gajah alamiah atau eksotik yang memiliki kegunaan tinggi sebagai pakan gajah, melakukan eradikasi gulma tanaman pakan gajah alamiah, pemberian garam garaman mineral dan meningkatkan atau memperbanyak badan air untuk gajah. Luas wilayah pembinaan habitat disesuaikan dengan kebutuhan satu atau kelompok gajah di wilayah tersebut. 

Penelitian ini akan difokuskan kepada jenis-jenis tanaman alamiah yang menjadi pakan gajah di alam. Jenis-jenis tanaman pakan alamiah ini beberapa penelitian sebelumnya telah teridentifikasi misalnya pada famili poaceae, musaceae, palmae, cyperaceae, moraceae atau pada famili lainnya yang cukup sering digunakan sebagai pakan gajah. Beberapa penelitian pakan gajah ini tersebar di Aceh, Riau, Jambi sampai Lampung. Berkaitan dengan ini, pembaharuan dan pendetailan riset tetap perlu dilakukan terutama di lokasi-lokasi spesifik yang sangat potensial untuk kegiatan pembinaan habitat dan lokasi-lokasi yang belum pernah dilakukan penelitian pakan gajah. Hal ini mengingat, banyak lokasi-lokasi memiliki karakter spesifik yang berbeda dengan lokasi lain meskipun di wilayah habitat gajah. 

Target dari penelitian ini adalah mendapatkan informasi ketersediaan dan sebaran pakan gajah alamiah di lokasi-lokasi yang menjadi wilayah kerja konservasi gajah sumatera yang didukung oleh Tropical Forest Conservation Act (TFCA) sebagai bagian dari kelanjutan program-program yang didanai lembaga ini. Forum Konservasi Gajah Indonesia akan mewadahi kegiatan penelitian ini untuk kebutuhan pada konservasionis gajah dalam melindungi dan memperbesar wilayah pakan gajah untuk meningkatkan data dukung habitatnya di alam. 

Penelitian ini akan dilakukan di wilayah Aceh terutama di Bener Meriah atau Aceh Timur, Riau di wilayah Giam Siak Kecil di dalam konsesi PT. Arara Abadi atau Jambi di dalam konsesi PT. LAJ, dan Lampung di Taman Nasional Way Kambas. Waktu penelitian akan dilakukan di bulan Mei 2022 sampai November 2022. 

 

Tujuan Penelitian

  1. Mendapatkan informasi mengenai berbagai jenis tumbuhan pakan gajah alamiah melalui koleksi biji-biji dan pembibitan biji-biji tersebut dari yang dipencarkan oleh kotoran gajah dan sebaran jenis tumbuhan (vegetasi) yang menjadi sumber makanan gajah tersebut di tiga lokasi penting yaitu di Aceh, Riau atau Jambi dan Lampung. 
  2. Mendapatkan informasi karakteristik biji-biji atau sisa tumbuhan yang bisa teridentifikasi dalam kotoran gajah dan karakteristik vegetasi yang berkaitan dengan sebaran tumbuhan pakan gajah alamiah di tiga region tersebut. 
  3. Mendapatkan informasi mengenai ketersediaan dalam estimasi dominansi, frekuensi, biodiversitas dan kelimpahan masing-masing jenis pada biji-biji yang teridentifikasi dan dari hasil penggunaan metode quadrat. 
  4. Mendapatkan informasi mengenai estimasi sebaran dari tiap tiap jenis tumbuhan pakan gajah tersebut. 
  5. Mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai berbagai jenis tumbuhan yang dimakan di wilayah kebun masyarakat sebagai tambahan informasi. 

 

Metode Penelitian

  • Pengumpulan informasi jumlah jenis tumbuhan dari koleksi biji dalam kotoran gajah

Metode pengumpulan data dengan melakukan pemetaan pergerakan gajah liar terutama kelompok gajah yang terpasang GPS Collar untuk mendapatkan informasi sebaran kotoran gajah yang dalam kondisi segar. Kemudian informasi ini ditindak lanjuti dengan survei lapangan untuk koleksi kotoran gajah tersebut. Jumlah sampel kotoran segar tidak dibatasi dalam pengambilan tetapi masing-masing peneliti diharapkan mendapatkan sumber kotoran yang melimpah. Kemudian, kotoran – kotoran tersebut ditempatkan di tempat tertentu dan diisolasi untuk tidak terkontaminasi polen atau biji dari tempat lain. Lalu kotoran dikeringkan dan dipisahkan antara biji dengan material lainnya. 

Biji-biji tersebut kemudian diidentifikasi melalui panduan identifikasi biji dan dibiakkan atau ditumbuhkan di dalam media tanam untuk mengetahui jenis anakan tumbuhan tersebut. Penghitungan dominansi, frekuensi dan kelimpahan dihitung berdasarkan jumlah temuan biji di dalam satu kotoran lalu dikompilasi ke dalam seluruh kotoran yang dikoleksi. Identifikasi biji dibantu pula oleh botanist dari Kebun Raya Bogor. 

 

  • Penerapan metode kuadrat dan diagram profil

Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan grid 5 x 5 km2 yang kemudian di dalamnya terdiri atas grid 1 x 1 km2. Lalu, grid tersebut di overlay dengan citra satelit untuk mendapatkan gambaran tutupan hutan dari dari analisis citra satelit tersebut. Analisis citra melalui pendatan spectral analysis atau penghitungan NDVI. Kemudian, tutupan lahan tersebut di overlay dengan sebaran gajah terutama dari hasil GPS Collar yang telah dilakukan. Penentuan lokasi sampling adalah di grid – grid yang memiliki sebaran atau lamanya penggunaan lahan oleh gajah yang tertinggi di wilayah tersebut. 

Kemudian, grid yang terpilih adalah lokasi sampling yang akan diambil datanya. Setelah itu, lokasi ini akan dipilih untuk di detailkan tutupan lahan dari penggunaan drone untuk pemetaan tutupan lahan. Software agisoft akan digunakan untuk analisis foto udara tersebut dan kemudian dikomparasi dengan hasil analisis citra dalam ukuran yang sama. Metode kuadrat dan diagram profil sebanyak 4 kali untuk quadrat 20 x 20 m2, 10 x 10 m2, 5 x 5 m2 dan 2 x 2 m2 untuk ukuran pohon, pancang, anakan dan semak atau rumput di dalam grid yang telah dipilih. 

Apabila terjadi perbedaan tipe vegetasi di dalam grid yang terpilih, banyaknya sampling quadrat mengikuti banyaknya perbedaan tipe vegetasi tersebut. Kombinasi metode kuadrat dan diagram profil ini dapat mengetahui penampang dan sebaran vertikal dan horizontal dari vegetasi terutama pakan gajah yang teridentifikasi. Pemilihan tumbuhan pakan gajah atau tidaknya dalam metode ini dilakukan dengan kajian literatur, informasi dari pakar, praktisi, atau dari masyarakat yang mengetahui gajah. Identifikasi tanaman dilakukan dengan menggunakan foto dan pengambilan spesimen untuk herbarium. Identifikasi jenis di herbarium akan dibantu oleh botanis Kebun Raya Bogor. 

 

B. Penelitian Sosial Ekonomi Masyarakat dari Dampak Konflik  Gajah Sumatera

Keberadaan Gajah Sumatera dan masyarakat menjadi dua bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama bagi masyarakat yang hidup di dalam area jelajah gajah. Bagi masyarakat jaman dahulu, hidup berdampingan dengan gajah meningkatkan motivasi dan kebijakan lokal dalam mendukung keberadaan gajah misalnya dengan menjadikan gajah sebagai satwa yang dihormati, sebagai satwa karismatik dengan panggilan datuk atau orang yang dituakan, dan banyak dari penganut kepercayaan lampau, gajah dianggap satwa magis dan bagian dari titisan para dewa,

Dalam konteks sosial – ekonomi, yang memberikan dampak signifikan yang berhubungan dengan gajah saat ini adalah berkaitan dengan konflik gajah – manusia dan perburuan terutama di Indonesia. Konflik gajah – manusia berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat terutama pada kerugian konflik baik secara psikis yang dialami manusia dan gajah, juga mengganggu mata pencaharian manusia dan kehidupan gajah dalam mencari makanan5. Selain konflik, adalah perburuan untuk gading. Kondisi sosial – ekonomi masyarakat mengakibatkan perburuan satwa menjadi alternatif pendapatan termasuk gading atau organ gajah, tetapi dalam konteks ini adalah situasional atau beberapa kasus melibatkan masyarakat yang berada di wilayah jelajah gajah. Perburuan gading didominasi orang-orang yang spesialis atau profesional yang mungkin saja ekonomi tidak menjadi kendala dan tidak melibatkan orang lokal yang berada di dalam ruang jelajah gajah. 

Dampak sosial – ekonomi lainnya adalah penggunaan gajah untuk pariwisata, dan sangat spesifik misalnya di Tangkahan, taman safari dan kebun binatang. Di beberapa negara misalnya Myanmar, Laos, Thailand atau Kamboja dimana gajah dapat dimiliki secara pribadi, dampak bisa terasa apabila terjadi gangguan sosial ekonomi dalam memanfaatkan gajah. Di Indonesia, dampak sosial ekonomi tidak melibatkan masyarakat banyak dan tidak memberikan dampak kerugian bagi keduanya secara signifikan kecuali berkaitan dengan pendapatan dari pariwisata atau kesehatan satwa. Konteks sosial ekonomi berdasarkan pariwisata ini tidak menjadi bagian dari penelitian ini.

Penelitian ini akan mengarahkan pada sosial dan ekonomi masyarakat dari dampak keberadaan gajah sumatera di wilayahnya. Berkaitan dengan ini, informasi yang akan dikumpulkan adalah mengenai kondisi keberadaan gajah sumatera di wilayah studi berdasarkan informasi masyarakat dari tahun ke tahun, kemudian informasi mengenai intensitas konflik, perburuan dan ancaman lainnya dan dampak sosial ekonomi dari konflik atau perburuan bagi masyarakat, kemudian berkaitan dengan pengetahuan, sikap, perilaku dan opini masyarakat terhadap gajah sumatera, kehidupannya, dampak ancaman (konflik dan perburuan) dan pengetahuan tentang mitigasi ancaman atau penanganan terhadap ancaman gajah dan pandangan masyarakat tentang informasi-informasi yang berkaitan dengan dukungan stakeholder terhadap masyarakat berkaitan dengan keberadaan gajah, ancaman terhadap gajah dan sosial ekonomi masyarakat di dalam wilayah jelajah gajah. 

Target dari hasil penelitian ini adalah sosial ekonomi dari masyarakat dapat kita ketahui dari pengetahuan tentang gajah, ancaman-ancaman sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan keberadaan gajah terutama persoalan ancaman, dan sikap, perilaku dan pandangan masyarakat tentang gajah sumatera, dampaknya terhadap sosial ekonomi masyarakat dari keberadaan gajah dan solusi terhadap ancaman gajah (terutama konflik gajah – manusia dan perburuan) yang dapat meningkatkan kualitas sosial ekonomi masyarakat. 

 

Tujuan Penelitian :

  1. Mengumpulkan informasi mengenai kondisi masyarakat terutama berkaitan pengetahuan masyarakat tentang Gajah Sumatera dan dampak sosial ekonomi masyarakat terhadap keberadaan gajah sumatera terutama berkaitan dengan ancamannya.
  2. Mendapatkan informasi mengenai sikap, perilaku dan pandangan masyarakat tentang gajah sumatera, dampak sosial ekonomi masyarakat dari keberadaan gajah dan solusi terhadap peningkatan sosial ekonomi masyarakat. 
  3. Mendapatkan informasi mengenai strategi-strategi dan rekomendasi perbaikan sosial ekonomi masyarakat di dalam wilayah jelajah gajah termasuk dalam mitigasi keberadaan gajah sumatera yang mengganggu perikehidupan manusia atau mendorong manusia untuk hidup berdampingan. 
  4. Mendapatkan informasi mengenai sebaran gajah sumatera dari waktu ke waktu dan intensitas konflik, perburuan atau ancaman lainnya dari masyarakat. 

 

Metode Penelitian

Metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan grid 5 x 5 km2 untuk penentuan lokasi sampling sebaran questioner di masyarakat. Metode yang diadopsi dari Elephant Conservation Group (ECG) yang digunakan di beberapa negara yaitu India, Sri Lanka, Nepal, Thailand, Malaysia dan Kamboja. Penentuan grid 5 x 5 km2 adalah berdasarkan estimasi sebaran gajah atau wilayah kantong gajah di wilayah itu. Kemudian, sampel dari masyarakat diambil dengan jumlah responden maksimal 3 orang per grid 5 x 5 km2. Apabila di dalam grid tidak ada pemukiman atau kawasan konservasi yang tidak memiliki masyarakat di sana, grid tersebut tidak ada responden, tetapi apabila grid banyak dihuni masyarakat. Pemilihan responden diambil 3 orang yang dipilih karena memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang gajah. 

Questioner dipersiapkan secara sistematis berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan gajah sumatera, kondisi sosial ekonomi masyarakat dan dampak sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan gajah sumatera di wilayahnya. Kemudian, questioner ini memasukkan informasi mengenai sikap, perilaku dan pendapat masyarakat tentang gajah sumatera, mengenai sosial ekonomi dan dampaknya berkaitan dengan gajah sumatera, solusi dalam kondisi sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan ancaman gajah – manusia, langkah – langkah untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan strategi penanganannya terutama berkaitan dengan hidup berdampingan dengan gajah sumatera. Referensi kuesioner berdasarkan standar kuesioner ECG (Elephant Conservation Group), survei sosial ekonomi yang berkaitan sistem agroforestri dari Rimba Satwa Foundation dan studi SKAP dari Conservation International Indonesia. 

 

Area Lingkup Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di kantong-kantong gajah yang mewakili sebaran gajah di utara Pulau Sumatera (Aceh dan Sumatera Utara), bagian Tengah Sumatera (Riau dan Jambi) dan di Selatan Pulau Sumatera (Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung). Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau dalam rangka penyusunan skripsi dengan total 12 kegiatan penelitian di tiga region sumatera. 

Gambar 1. Peta sebaran atau kantong Gajah Sumatera di Sumatera

Gambar 2. Sebaran kantong gajah di Sumatera dalam grid 5 x 5 km2 untuk seluruh pulau Sumatera

 

Total grid 5 x 5 km2 untuk seluruh pulau Sumatera adalah 18.193 grid dengan kode grid 1 sampai 19729. Jumlah kantong gajah yang teridentifikasi adalah 33 kantong dengan total grid 5 x 5 km2 adalah 2.206 unit. Total grid di Sumatera bagian Utara adalah 726 grid. Di Sumatera bagian Tengah, jumlah gridnya adalah 501 unit melingkupi Riau dan Jambi. 937 grid untuk Sumatera bagian Selatan meliputi kantong gajah Bengkulu, Restorasi Ekosistem Hutan Harapan (Jambi – Sumatera Selatan), kantong gajah Sumatera Selatan dan Lampung. Kantong-kantong gajah ini menjadi wilayah target penelitian ini. 

Sebagai panduan peneliti untuk mendapatkan data terbaru gajah, sebaran penggunaan GPS Collar sampai tahun 2022 berada di Aceh terutama Ulu Masen, Aceh Tengah, Aceh Timur dan Aceh Tenggara, Riau di wilayah kantong Balai Raja, Giam Siak Kecil dan Petapahan. Di Jambi, GPS Collar sampai hari ini terpasang di Tebo (blok Sumay) dan restorasi ekosistem Hutan Harapan. Di Bengkulu, satu unit terpasang di wilayah utara TWA Seblat, 3 GPS Collar belum terpasang di Sumatera Selatan (GPS ini akan siap terpasang antara April dan Mei 2022. Lampung, satu unit GPS Collar terpasang di Bukit Barisan Selatan. 

Penentu pergerakan dan sebaran gajah sumatera lainnya juga bisa didapat dari tim monitoring gajah dan tim mitigasi konflik gajah – manusia di tingkat pemerintah, NGO dan masyarakat. Sebarannya di Aceh, Riau termasuk Tesso Nilo, Jambi, Sumatera Selatan terutama blok Ogan Komering Ilir, dan Lampung termasuk Way Kambas. 

Penelitian ini akan dilakukan di kantong-kantong gajah yang mewakili sebaran gajah di utara Pulau Sumatera (Aceh dan Sumatera Utara), bagian Tengah Sumatera (Riau dan Jambi) dan di Selatan Pulau Sumatera (Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung). Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa yang dengan jumlah total 12 kegiatan riset baik individu maupun kelompok. 

 

***