<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Berita Gajah Archives - Forum Konservasi Gajah Indonesia</title>
	<atom:link href="https://gajah.id/category/berita-gajah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gajah.id/category/berita-gajah/</link>
	<description>Untuk memaksimalkan kegiatan konservasi gajah di Indonesia, beberapa lembaga dan individu yang peduli terhadap konservasi gajah sepakat untuk membentuk Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI).</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Jul 2026 13:54:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://gajah.id/wp-content/uploads/2021/06/cropped-logo-gajah-32x32.png</url>
	<title>Berita Gajah Archives - Forum Konservasi Gajah Indonesia</title>
	<link>https://gajah.id/category/berita-gajah/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SIARAN PERS FKGI: Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 Babak Baru Konservasi Gajah Indonesia</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/siaran-pers-fkgi-instruksi-presiden-nomor-8-tahun-2026-babak-baru-konservasi-gajah-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2026 13:53:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, 7 Juli 2026 — Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mengapresiasi terbitnya Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. FKGI memandang Instruksi Presiden ini sebagai tonggak penting yang menandai perubahan paradigma konservasi gajah di Indonesia. Untuk pertama kalinya, penyelamatan gajah ditegaskan sebagai tanggung jawab bersama lintas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/siaran-pers-fkgi-instruksi-presiden-nomor-8-tahun-2026-babak-baru-konservasi-gajah-indonesia/">SIARAN PERS FKGI: Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 Babak Baru Konservasi Gajah Indonesia</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 7 Juli 2026 — Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mengapresiasi terbitnya Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. FKGI memandang Instruksi Presiden ini sebagai tonggak penting yang menandai perubahan paradigma konservasi gajah di Indonesia.</p>
<p>Untuk pertama kalinya, penyelamatan gajah ditegaskan sebagai tanggung jawab bersama lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, media, dan masyarakat luas. Dengan demikian, konservasi gajah tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai agenda sektoral bidang kehutanan atau perlindungan satwa liar, melainkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda pembangunan nasional, tata kelola ruang, pemulihan ekosistem, ketahanan iklim, serta pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>Inpres ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri melainkan bagian dari transformasi kebijakan konservasi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menunjukkan arah yang jelas. Pemerintah secara bertahap telah membangun fondasi kebijakan yang saling melengkapi melalui Inpres 8/2026 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta kebijakan Presiden mengenai Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan Pengelolaan Taman Nasional. Kehadiran Inpres 8/2026 melengkapi rangkaian kebijakan tersebut dengan memberikan mandat implementasi konkret bagi seluruh pemangku kepentingan.</p>
<p>Habitat gajah tersebar pada kawasan hutan produksi, Areal Penggunaan Lain (APL), wilayah masyarakat, kawasan konsesi, serta berbagai bentang alam yang dikelola oleh banyak sektor. Dengan demikian, konservasi gajah tidak lagi dapat hanya bertumpu pada kawasan konservasi formal, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka pengelolaan bentang alam secara menyeluruh.</p>
<p>FKGI memandang bahwa implementasi Inpres 8/2026 perlu menjadi dasar yang lebih kuat bagi berbagai agenda strategis nasional yang selama ini berjalan sektoral. Dalam penataan kawasan hutan, Instruksi Presiden ini menjadi momentum untuk memastikan bahwa perlindungan habitat dan koridor gajah menjadi bagian penting dalam proses penataan kawasan, penyelesaian konflik pemanfaatan ruang, pemulihan fungsi ekologis, serta penguatan konektivitas bentang alam.</p>
<p>FKGI juga melihat peluang besar untuk mengintegrasikan implementasi Instruksi Presiden ini dengan tindak lanjut hasil kerja Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Kawasan-kawasan yang telah ditertibkan, dipulihkan, atau dikembalikan fungsi ekologisnya dapat diprioritaskan sebagai bagian dari upaya pemulihan habitat, penguatan koridor ekologis, serta peningkatan konektivitas bentang alam gajah.</p>
<p>Di sisi lain, habitat gajah memiliki nilai penting sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, penyangga keanekaragaman hayati, serta penyedia berbagai jasa ekosistem bagi masyarakat. FKGI memandang bahwa implementasi Instruksi Presiden ini perlu diintegrasikan dengan berbagai skema pembiayaan berbasis alam atau <em>nature-based solutions</em>, termasuk pembiayaan karbon, rehabilitasi hutan dan lahan, restorasi ekosistem, pendanaan lingkungan hidup, <em>biodiversity credit</em>, serta mekanisme pembiayaan konservasi inovatif lainnya. Pendekatan ini tidak hanya akan memperkuat konservasi gajah, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian target perubahan iklim, pengurangan risiko bencana ekologis, dan pembangunan berkelanjutan Indonesia.</p>
<p>FKGI juga menilai bahwa Inpres 8/2026 perlu menjadi acuan penting dalam pengambilan keputusan terkait pemanfaatan ruang dan pemberian izin pada bentang alam habitat gajah. Setiap kebijakan pemanfaatan ruang, termasuk pada sektor pertambangan, perkebunan, energi, infrastruktur, dan sektor lainnya yang berpotensi menimbulkan fragmentasi habitat, perlu mempertimbangkan keberadaan habitat dan koridor gajah sebagai bagian dari kepentingan strategis nasional. Pendekatan ini diperlukan untuk mencegah semakin terfragmentasinya habitat pada berbagai lanskap prioritas gajah.</p>
<p>Demikian pula dalam pembangunan infrastruktur nasional. FKGI memandang bahwa setiap pembangunan jalan, jalan tol, jaringan energi, bendungan, maupun infrastruktur strategis lainnya yang melintasi atau berdekatan dengan habitat gajah perlu sejak tahap perencanaan mengakomodasi prinsip konektivitas ekologis. Penyediaan koridor satwa liar, lintasan satwa atau <em>wildlife crossing</em>, zona perlindungan koridor, pengaturan kecepatan, sistem peringatan dini, serta berbagai bentuk mitigasi lainnya harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan pembangunan.</p>
<p>FKGI menekankan keberhasilan Inpres 8/2026 tidak hanya diukur dari terbitnya regulasi, tetapi terutama dari sejauh mana mandat tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan sektoral, rencana pembangunan, penataan ruang, penganggaran, pelaksanaan di lapangan, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi yang terukur. Inpres ini harus menjadi instrumen perubahan nyata dalam tata kelola konservasi gajah, bukan sekadar pemenuhan administratif atas suatu dokumen kebijakan nasional.</p>
<p>Untuk itu, FKGI mendorong agar implementasi Inpres ini disertai indikator kinerja yang jelas, target waktu yang terukur, pembagian peran yang tegas antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, serta mekanisme pelaporan berkala yang dapat dipantau secara transparan.</p>
<p>Dalam konteks tersebut, penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan menjadi momentum penting. FKGI akan mendukung SRAK yang sedang disusun. Namun, SRAK jangan berhenti sebagai dokumen perencanaan semata. SRAK harus menjadi dokumen operasional yang menjadi acuan bersama dalam penyusunan program, pengalokasian anggaran, penyelarasan kebijakan lintas sektor, penguatan koordinasi kelembagaan, serta evaluasi capaian konservasi secara berkala di tingkat nasional maupun daerah. Dengan demikian, SRAK harus diposisikan sebagai instrumen kerja bersama yang hidup, digunakan, diperbarui, dan dievaluasi sesuai dengan dinamika lapangan.</p>
<p>Implementasi Instruksi Presiden dan SRAK agar dilengkapi dengan mekanisme evaluasi periodik yang melibatkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal. Mengingat konservasi gajah merupakan agenda jangka panjang, FKGI memandang bahwa implementasinya harus mampu melampaui siklus pemerintahan, perubahan kepemimpinan, maupun pergantian prioritas politik. Keberlanjutan kebijakan, pendanaan, kelembagaan, dan komitmen lintas sektor merupakan prasyarat utama agar upaya penyelamatan gajah tetap berjalan secara konsisten dari waktu ke waktu. Gajah memiliki rentang hidup panjang, ruang jelajah luas, dan kebutuhan habitat yang kompleks; karena itu, penyelamatannya juga membutuhkan komitmen jangka panjang yang kuat dan berkesinambungan.</p>
<p>FKGI meyakini bahwa seluruh proses implementasi kebijakan konservasi gajah perlu didasarkan pada ilmu pengetahuan, data terbaik yang tersedia, serta sistem pemantauan populasi dan habitat yang terus diperbarui. Pengambilan keputusan berbasis bukti akan meningkatkan efektivitas konservasi, memperkuat legitimasi kebijakan, dan mengurangi risiko pengambilan keputusan yang tidak sesuai dengan kondisi ekologis maupun sosial di lapangan. Selain itu, implementasinya perlu menerapkan prinsip <em>adaptive management</em>, yakni pendekatan pengelolaan yang secara berkala dievaluasi dan disempurnakan berdasarkan hasil pemantauan, pengalaman lapangan, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini penting karena konservasi gajah menghadapi dinamika yang terus berubah, termasuk perubahan penggunaan lahan, tekanan pembangunan, konflik manusia dan gajah, perubahan sosial ekonomi masyarakat, serta dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan habitat dan sumber daya alam.</p>
<p>Masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat gajah merupakan mitra utama konservasi. Inpres perlu memastikan partisipasi aktif masyarakat, penguatan kapasitas lokal, pemberdayaan ekonomi berkelanjutan, serta pengembangan mekanisme mitigasi konflik manusia dan gajah yang adil, cepat, dan efektif. Konservasi gajah tidak akan berhasil apabila masyarakat di sekitar habitat hanya diposisikan sebagai penerima dampak, tanpa diberikan ruang, dukungan, dan manfaat yang memadai dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program.</p>
<p>Keberhasilan penyelamatan gajah Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pihak untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan satwa, pemulihan habitat, keberlanjutan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat. Gajah Sumatera dan gajah Kalimantan bukan hanya simbol kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga penanda penting atas kualitas tata kelola bentang alam. Ketika habitat gajah dapat dijaga, koridor ekologis dapat dipertahankan, dan konflik dapat dikelola secara adil, maka sesungguhnya Indonesia sedang memperkuat fondasi pembangunan yang lebih berkelanjutan.</p>
<p>FKGI menegaskan empat pesan utama yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, implementasi harus menjadi prioritas utama, karena regulasi hanya akan bermakna apabila diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Kedua, konservasi gajah harus terintegrasi dalam seluruh sektor pembangunan, bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kehutanan. Ketiga, SRAK harus menjadi dokumen operasional yang memandu program, anggaran, kerja lintas sektor, dan evaluasi berkala. Keempat, keberhasilan konservasi harus diukur melalui indikator yang jelas, transparansi, akuntabilitas, dan perbaikan kebijakan yang berkelanjutan.</p>
<p>“Konservasi gajah bukan semata tentang menyelamatkan satu spesies. Konservasi gajah adalah tentang bagaimana Indonesia mengelola bentang alamnya secara bijaksana, adil, dan berkelanjutan. Inpres 8 Tahun 2026 memberikan arah yang jelas menuju paradigma tersebut. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi implementasi, kekuatan koordinasi, dukungan ilmu pengetahuan, ketersediaan pendanaan, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikannya sebagai aksi nyata.”</p>
<hr>
<p><strong>Narahubung :<br />
</strong>Ketua FKGI Donny Gunaryadi<br />
(info@gajah.id)</p>
<hr>
<p>&nbsp;<br />
<a class="btn btn-lg btn-info" href="https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/Instruksi-Presiden-Nomor-8-Tahun-2026_Penyelamatan-Populasi-dan-Habitat-Gajah-Sumatera-dan-Gajah-Kalimantan.pdf" target="_blank">Unduh Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/siaran-pers-fkgi-instruksi-presiden-nomor-8-tahun-2026-babak-baru-konservasi-gajah-indonesia/">SIARAN PERS FKGI: Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 Babak Baru Konservasi Gajah Indonesia</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Penyebab Kematian Gajah Indro yang Berusia 45 Tahun di TNTN</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2026 09:42:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1408</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelalawan &#8211; Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Riau, kembali kehilangan seekor gajah Sumatera. Gajah dewasa bernama Indro itu mati di usia 45 tahun pada fase musth. Gajah Indro dilaporkan mati pada Senin, 29 Juni 2026 sekitar pukul 03.45 WIB. Indro mati akibat komplikasi kesehatan pada fase musth. &#8220;Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn/">Ini Penyebab Kematian Gajah Indro yang Berusia 45 Tahun di TNTN</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pelalawan &#8211; Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Riau, kembali kehilangan seekor gajah Sumatera. Gajah dewasa bernama Indro itu mati di usia 45 tahun pada fase musth.<br />
Gajah Indro dilaporkan mati pada Senin, 29 Juni 2026 sekitar pukul 03.45 WIB. Indro mati akibat komplikasi kesehatan pada fase musth.</p>
<p>&#8220;Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar KSDA Riau dan Balai TN Tesso Nilo akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth,&#8221; demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo, dikutip detikcom dari akun Instagramnya, Selasa (30/6/2026).</p>
<p>Sebagai informasi, fase musth adalah siklus biologis alami pada gajah jantan dewasa yang ditandai dengan lonjakan testosteron (hingga 10 kali lipat). Pada fase ini gajah menunjukkan perilaku yang lebih agresif, urine menetes dari preputium (ujung alat kelamin), dan keluar minyak dari kelenjar temporal yang terletak di bawah kulit kedua sisi kepala, di antara mata dan lubang telinga.</p>
<p>Fase musth menunjukkan bahwa gajah siap bereproduksi. Artinya, ada harapan baru untuk kelangsungan regenerasi gajah, yang merupakan satwa liar yang dilindungi.</p>
<p>Balai TN Tesso Nilo mengungkap fase musth gajah Indro mulai terpantau pada 25 April 2026. Pada fase ini perilakunya berubah menjadi lebih agresif sejak 1 Mei 2026 yang ditandai dengan keluarnya cairan/sperma pada alat kelamin.</p>
<p>&#8220;Tanggal 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Memasuki awal Juni 2026, gajah Indro ditempatkan di Camp Flying Squad dan diberi ikatan pengamanan, mengingat kondisinya yang sudah tidak dapat didekati dan tidak merespons perintah mahout. Gajah Indro mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas, sehingga petugas menyuplai pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, dan rumput gajahan, serta memastikan ketersediaan air minum berkala setiap pagi dan sore dari jarak aman.</p>
<p>Mengingat fase musth yang berkepanjangan, tim medis BTNTN berkoordinasi dengan BBKSDA Riau melakukan tindakan pembiusan (sedasi) pada 24 Juni 2026 untuk memasang rantai tambahan sebagai upaya pengamanan. Pasca-prosedur, tim medis memberikan anti-dot (penawar bius) hingga gajah Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri tegak yang stabil.</p>
<p>&#8220;Mulai siang hari pascapembiusan, gajah ndro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout dari tim medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Selama proses tersebut, tim medis dan flying squad hingga mahout terus memantau perkembangan kesehatan gajah Indro. Namun, pada 29 Juni 2026 tepatnya pukul 03.30 WIB, terjadi perubahan fisik secara mendadak pada gajah Indro.</p>
<p>Gajah Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan beserta tim mahout segera melakukan pemeriksaan darurat terhadap fungsi pernafasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) selama beberapa menit.</p>
<p>&#8220;Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan secara resmi dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB,&#8221; demikian keterangan BTN Tesso Nilo.</p>
<p>Gajah Penjaga Konflik<br />
Kematian gajah Indro menjadi duka bagi para pecinta hewan, pegiat lingkungan serta dunia konservasi. Gajah Indro selama ini telah berjasa besar dalam mendukung Tim Flying Squad TN Tesso Nilo dalam memitigasi konflik satwa dan manusia di sekitar Tesso Nilo.</p>
<p>Ungkapan duka tak hanya disampaikan oleh BKSDA dan BTN Tesso Nilo. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang menaruh perhatian besar terhadap gajah Sumatera juga turut menyampaikan duka mendalam.</p>
<p>&#8220;Kepergian Indro, Gajah Sumatera yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh pecinta alam dan satwa liar. Dedikasinya dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah adalah pengabdian yang tak ternilai,&#8221; kata Irjen Herry Heryawan melalui akun Instagramnya, dilihat detikcom, Selasa (30/6).</p>
<hr>
<p>Sumber: <a href="https://news.detik.com/berita/d-8553323/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn" target="_blank" rel="noopener">https://news.detik.com/berita/d-8553323/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn/">Ini Penyebab Kematian Gajah Indro yang Berusia 45 Tahun di TNTN</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan-tewas-di-jurang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 09:44:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1411</guid>

					<description><![CDATA[<p>LAMPUNG BARAT, KOMPAS.com &#8211; Seorang buruh tani bernama Jumadi (54) ditemukan meninggal dunia di area perkebunan Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga menjadi korban interaksi dengan gajah liar saat berusaha menyelamatkan diri dari gubuk yang dikepung kawanan satwa tersebut. Kasat Reskrim Polres Lampung Barat, IPTU Rudy Prawira, mengatakan peristiwa itu bermula [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan-tewas-di-jurang/">Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>LAMPUNG BARAT, KOMPAS.com &#8211; Seorang buruh tani bernama Jumadi (54) ditemukan meninggal dunia di area perkebunan Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga menjadi korban interaksi dengan gajah liar saat berusaha menyelamatkan diri dari gubuk yang dikepung kawanan satwa tersebut. Kasat Reskrim Polres Lampung Barat, IPTU Rudy Prawira, mengatakan peristiwa itu bermula pada Rabu (24/6/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.</p>
<p>Saat itu, tiga orang diketahui terjebak di sebuah rumah singgah di kebun milik Widodo yang berada di kawasan berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) setelah kawanan gajah liar mendekati lokasi.</p>
<p>Mendapat informasi tersebut, warga bersama relawan Satgas segera menuju kebun untuk melakukan evakuasi. Namun, setibanya di lokasi, mereka mendapati rumah singgah itu telah mengalami kerusakan akibat amukan gajah.</p>
<p>Dua orang, yakni Widodo dan Sigit, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat meski mengalami trauma.</p>
<p>Sementara itu, Jumadi tidak berada di sekitar gubuk. &#8220;Sementara Jumadi tidak berada di lokasi. Warga bersama relawan melakukan pencarian hingga Kamis (25/6/2026) dini hari, tetapi hasilnya nihil,&#8221; kata Rudy saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).</p>
<p>Diduga Terjatuh ke Jurang Saat Menghindari Gajah Pencarian kembali dilakukan pada Kamis pagi. Sekitar pukul 09.00 WIB, jasad Jumadi akhirnya ditemukan di area lereng atau jurang yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah singgah tempat korban bersama rekannya berlindung</p>
<p>Hasil pemeriksaan petugas Puskesmas Sri Mulyo menunjukkan korban mengalami memar pada bagian pinggang belakang, luka lecet di bibir bawah, serta lecet pada lutut kanan.</p>
<p>Rudy menjelaskan, pihak keluarga menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah korban.</p>
<p>&#8220;Keluarga menolak dilakukan autopsi. Berdasarkan keterangan saksi, korban diduga berusaha menyelamatkan diri ketika gajah liar mendekati gubuk,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menurut keterangan saksi, korban diduga sempat berlari menghindari kawanan gajah. Dalam upaya menyelamatkan diri itu, korban diduga tertabrak gajah hingga terjatuh ke jurang.</p>
<p>Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengevakuasi jenazah, memeriksa sejumlah saksi, serta berkoordinasi dengan pihak TNBBS untuk penanganan lebih lanjut.</p>
<p>Rudy mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menghindari aktivitas di sekitar kawasan hutan yang menjadi jalur perlintasan gajah liar.</p>
<p>&#8220;Kami meminta warga tidak beraktivitas di sekitar kawasan TNBBS. Masyarakat juga harus memahami jalur perlintasan gajah dan meningkatkan kewaspadaan apabila berhadapan dengan satwa liar agar kejadian serupa tidak terulang,&#8221; katanya.&nbsp;</p>
<hr>
<p>Sumber: <a href="https://regional.kompas.com/read/2026/06/26/163957978/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan">https://regional.kompas.com/read/2026/06/26/163957978/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan-tewas-di-jurang/">Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak &#8216;Indra&#8217; Tutup Usia di TN Way Kambas</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/tiga-dekade-mengabdi-bagi-konservasi-gajah-jinak-indra-tutup-usia-di-tn-way-kambas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2026 16:56:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1404</guid>

					<description><![CDATA[<p>SIARAN PERS NOMOR: SP. 236/HKLN/06/2026 Lampung Timur, 24 Juni 2026 &#8211; Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kementerian Kehutanan, menyampaikan duka cita yang mendalam atas kematian Gajah Indra. Gajah jinak jantan berusia 42 tahun ini tutup usia setelah selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera&#160;(Elephas maximus sumatranus)&#160;di Provinsi Lampung. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/tiga-dekade-mengabdi-bagi-konservasi-gajah-jinak-indra-tutup-usia-di-tn-way-kambas/">Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak &#8216;Indra&#8217; Tutup Usia di TN Way Kambas</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>SIARAN PERS</strong><br />
<strong>NOMOR: SP. 236/HKLN/06/2026</strong></h2>
<p>Lampung Timur, 24 Juni 2026 &#8211; Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kementerian Kehutanan, menyampaikan duka cita yang mendalam atas kematian Gajah Indra. Gajah jinak jantan berusia 42 tahun ini tutup usia setelah selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera&nbsp;<em>(Elephas maximus sumatranus)</em>&nbsp;di Provinsi Lampung.</p>
<p>Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi, menegaskan bahwa kepergian Gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi dunia konservasi Indonesia.</p>
<p>&#8220;Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya,&#8221; ujar Zaidi.</p>
<p>Gajah Indra berasal dari Desa Karang Sari, Kabupaten Lampung Timur, dan bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK sejak tahun 1995. Dikenal memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berani, Gajah Indra telah terlibat dalam berbagai operasi krusial di lapangan, mulai dari evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, hingga mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Lampung. Dedikasi ini membuatnya sangat dihormati oleh para mahout, dokter hewan, perawat satwa, serta para pegiat konservasi.</p>
<p>Penurunan kondisi kesehatan Gajah Indra berakar dari insiden pada akhir tahun 2017. Seusai membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kendaraan yang mengangkut Gajah Indra mengalami kecelakaan lalu lintas. Peristiwa tersebut mengakibatkan trauma fisik serius, di mana hasil pemeriksaan medis menduga Indra mengalami gangguan pada ruas tulang belakang&nbsp;<em>(suspect ruptur os vertebrae)</em>&nbsp;yang secara bertahap memengaruhi gerak dan kesehatannya.</p>
<p>Sejak cedera tersebut, Gajah Indra dipensiunkan dari tugas lapangan. Tim dokter hewan dan perawat satwa TNWK memberikan perawatan intensif, terapi, serta pemantauan harian untuk menjaga kualitas hidupnya. Namun, kondisi fisiknya terus menurun seiring bertambahnya usia.</p>
<p>Pada Minggu, 21 Juni 2026 sore, Gajah Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa. Saat hendak diarahkan naik kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri. Upaya darurat segera dilakukan oleh mahout pendamping, Siswo, bersama tim rescue dengan bantuan gajah jinak lainnya. Meskipun sempat berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit, kondisi fisik yang sangat lemah membuat Indra kembali rebah.</p>
<p>Mengingat keterbatasan medan rawa dan kondisi fisik satwa yang tidak memungkinkan untuk dievakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan langsung melakukan tindakan penyelamatan darurat secara intensif di lokasi kejadian. Setelah berjuang keras selama lebih dari 20 jam untuk mempertahankan kondisi vitalnya, Gajah Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.</p>
<p>Sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP) medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah, tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian. Proses bedah bangkai ini dipimpin oleh drh. Diah Esty Nggraeni (PLG TNWK) dan drh. Atma&nbsp;<em>(Sumatran Rhino Sanctuary)</em>, didukung lima tenaga kesehatan hewan dari Rumah Sakit Gajah TNWK.</p>
<p>Guna menjaga transparansi, proses nekropsi dilakukan di bawah pengawasan dan disaksikan langsung oleh unsur Polres Lampung Timur, Kodim 0429/Lampung Timur, serta Polisi Kehutanan TNWK. Sejumlah sampel organ telah diambil untuk analisis laboratorium lebih lanjut guna mendapatkan data komprehensif mengenai faktor klinis penyebab kematian. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Indra langsung dimakamkan di lokasi khusus dalam kawasan TNWK.</p>
<p>Kepergian Gajah Indra menjadi pengingat pentingnya dedikasi dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga kelestarian satwa liar Indonesia. Balai TNWK berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi Gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, mitigasi konflik, peningkatan kapasitas pelayanan medis, serta penguatan kesejahteraan gajah-gajah binaan di bawah pengelolaan negara.</p>
<p>───<br />
Informasi lebih lanjut:<br />
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi</p>
<p>Penanggung jawab berita:<br />
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,<br />
Ristianto Pribadi</p>
<p>Website:&nbsp;<a href="http://www.kehutanan.go.id/">www.kehutanan.go.id</a><br />
Youtube: Kementerian Kehutanan<br />
Facebook: Kementerian Kehutanan<br />
Instagram: Kemenhut<br />
Twitter/X: @kemenhut_ri</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/tiga-dekade-mengabdi-bagi-konservasi-gajah-jinak-indra-tutup-usia-di-tn-way-kambas/">Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak &#8216;Indra&#8217; Tutup Usia di TN Way Kambas</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 18:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1400</guid>

					<description><![CDATA[<p>Riau, 10 Juni 2026 – Kabar gembira datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Seekor anak gajah lahir dari induk bernama Ria. Anak gajah berkelamin betina ini saat ini dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta sudah menyusu secara normal. Tidak ditemukan cacat fisik pada anak gajah ini. Kelahiran anak gajah ini terjadi sekitar pukul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo/">Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Riau, 10 Juni 2026 – Kabar gembira datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Seekor anak gajah lahir dari induk bernama Ria. Anak gajah berkelamin betina ini saat ini dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta sudah menyusu secara normal. Tidak ditemukan cacat fisik pada anak gajah ini.</p>
<p>Kelahiran anak gajah ini terjadi sekitar pukul 07.30 WIB ketika Mahout (Pawang gajah) Erwin Daulay memindahkan gajah dari ikatan ke lokasi angonan. Sekitar 1 km dari Pos Jaga/Kantor Resort Konservasi Gajah Sumatera, Mahout Erwin menemukan bayi gajah yang baru lahir, lengkap dengan ari-arinya. Observasi awal dilakukan langsung oleh Mahout, kemudian diteruskan tim dokter hewan yang memastikan bayi gajah aktif, berdiri, dan menyusu secara berulang.</p>
<p>&#8220;Induk gajah Ria dan bayi gajah kini terus dipantau tim dokter hewan untuk memastikan kesehatan keduanya tetap terjaga,&#8221; ujar Kepala Balai Tesso Nilo, Heru Sutmatoro.</p>
<p>Kelahiran ini menjadi bukti keberhasilan upaya konservasi gajah Sumatera yang dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).</p>
<p>Anak gajah ini merupakan anak kelima dari Gajah Ria yang lahir di Camp Elephants Flying Squad TNTN, sebagai hasil breeding dengan gajah liar. Sebelumnya, gajah Ria telah sukses melahirkan empat ekor anak gajah yang diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang. Saat ini, kondisi gajah Ria dan bayinya terus dipantau secara intensif oleh Tim Mahout dan Tim Dokter Hewan untuk memastikan masa pemulihan berjalan optimal.</p>
<p>Dalam rentang waktu 8 tahun terakhir, Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo telah mengalami 4 kali kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, yaitu Lisa dan Ria. Rentetan kelahiran ini menjadi bukti nyata dan penguatan fakta bahwa kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo merupakan habitat penting yang berkontribusi besar dalam upaya peningkatan populasi Gajah Sumatera.</p>
<hr>
<p>Baca selengkapnya di sumber : <a href="https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo">https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo/">Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Gajah Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau, Menhut Beri Nama “Rut”</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-satwa-lembah-hijau-menhut-beri-nama-rut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 18:18:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1397</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, 10 Juni 2026 — Taman Satwa Lembah Hijau Lampung kembali mencatatkan keberhasilan dalam upaya konservasi satwa liar dengan lahirnya seekor anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) berjenis kelamin betina pada tanggal 5 Juni 2026. Anak gajah tersebut lahir dengan berat 123 kilogram dan merupakan kelahiran kedua dari pasangan induk jantan Aris (29 tahun) dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-satwa-lembah-hijau-menhut-beri-nama-rut/">Anak Gajah Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau, Menhut Beri Nama “Rut”</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 10 Juni 2026 — Taman Satwa Lembah Hijau Lampung kembali mencatatkan keberhasilan dalam upaya konservasi satwa liar dengan lahirnya seekor anak Gajah Sumatera (<em>Elephas maximus sumatranus</em>) berjenis kelamin betina pada tanggal 5 Juni 2026. Anak gajah tersebut lahir dengan berat 123 kilogram dan merupakan kelahiran kedua dari pasangan induk jantan Aris (29 tahun) dan induk betina Mega (27 tahun). Sebelumnya, pasangan Aris dan Mega telah berhasil melahirkan seekor anak gajah jantan pada 7 Agustus 2022 yang diberi nama Rawana.</p>
<p>Saat ini kondisi anak gajah berada dalam keadaan sehat dan terus mendapatkan pemantauan intensif oleh tim Mahout (pawang gajah) serta tim medis Taman Satwa Lembah Hijau untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangannya berlangsung optimal. Kehadiran anak gajah betina ini menambah populasi Gajah Sumatera di bawah pengelolaan lembaga konservasi sekaligus menjadi capaian penting dalam program pengembangbiakan yang dijalankan secara berkelanjutan.</p>
<p>Komisaris Utama Taman Satwa Lembah Hijau, Irwan Nasution, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung program konservasi ex-situ dan peningkatan populasi Gajah Sumatera.</p>
<p>“Kelahiran anak gajah ini menjadi bukti nyata komitmen Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung pelestarian Gajah Sumatera. Kami akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan, perawatan, dan program pengembangbiakan sebagai kontribusi nyata terhadap upaya konservasi satwa langka Indonesia demi menjaga keberlangsungan populasi Gajah Sumatera untuk generasi mendatang,” ujar Irwan Nasution.</p>
<p>Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Agung Nugroho, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan dan konsistensi Taman Satwa Lembah Hijau dalam menjalankan program konservasi dan pengembangbiakan Gajah Sumatera.</p>
<p>“Kami mengapresiasi keberhasilan kelahiran anak Gajah Sumatera ini serta konsistensi Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sinergi antara lembaga konservasi, tenaga profesional, dan pengelola satwa dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya pelestarian Gajah Sumatera di Indonesia,” ungkap Agung Nugroho.</p>
<p>Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa upaya penyelamatan Gajah Sumatera tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat alami dan pengelolaan konflik manusia-gajah di kawasan (<em>in situ</em>), tetapi juga diperkuat melalui pengembangan program konservasi (<em>ex situ</em>) di berbagai lembaga konservasi yang memenuhi standar pengelolaan satwa liar.</p>
<p>Sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan kelahiran anak Gajah Sumatera di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Menteri Kehutanan memberikan nama “Rut” kepada anak gajah tersebut.</p>
<p>“Kami memberikan nama Rut sebagai simbol persahabatan dan penghargaan kepada Pemerintah Norwegia, khususnya Ibu Rut Krüger Giverin, yang selama ini telah menunjukkan komitmen dan kontribusi nyata dalam mendukung agenda konservasi hutan dan lingkungan hidup di Indonesia. Semoga anak gajah ini tumbuh sehat dan menjadi simbol harapan bagi keberlangsungan populasi Gajah Sumatera di masa depan,” ujar Raja Juli Antoni.</p>
<p>Lebih lanjut, Menteri Kehutanan menjelaskan bahwa keberhasilan kelahiran anak gajah di lembaga konservasi merupakan bukti bahwa konservasi&nbsp;<em>ex situ</em>&nbsp;dapat memberikan kontribusi penting dalam mendukung pelestarian spesies yang menghadapi berbagai tekanan di alam. Kementerian Kehutanan mendorong setiap lembaga konservasi, untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa, kesejahteraan hewan, serta keberhasilan program pengembangbiakan yang terencana dan berkelanjutan.</p>
<hr>
<p>Baca selengkapnya di sumber : <a href="https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-satwa-lembah-hijau-menhut-beri-nama-rut">https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-satwa-lembah-hijau-menhut-beri-nama-rut</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-satwa-lembah-hijau-menhut-beri-nama-rut/">Anak Gajah Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau, Menhut Beri Nama “Rut”</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polda Riau Sita Uang, Ekskavator hingga Mobil dari Money Laundry Perdagangan Gading Gajah</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/polda-riau-sita-uang-ekskavator-hingga-mobil-dari-money-laundry-perdagangan-gading-gajah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 18:17:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1394</guid>

					<description><![CDATA[<p>PEKANBARU, KOMPAS.com &#8211; Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau menyita sejumlah aset yang diduga berasal dari tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil perdagangan satwa liar, termasuk gading gajah sumatera. Aset yang disita berupa uang tunai Rp 650 juta, satu unit ekskavator, satu unit mobil Mitsubishi Triton, satu unit mobil Suzuki Splash, serta dokumen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/polda-riau-sita-uang-ekskavator-hingga-mobil-dari-money-laundry-perdagangan-gading-gajah/">Polda Riau Sita Uang, Ekskavator hingga Mobil dari Money Laundry Perdagangan Gading Gajah</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>PEKANBARU, KOMPAS.com &#8211; Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau menyita sejumlah aset yang diduga berasal dari tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil perdagangan satwa liar, termasuk gading gajah sumatera.</p>
<p>Aset yang disita berupa uang tunai Rp 650 juta, satu unit ekskavator, satu unit mobil Mitsubishi Triton, satu unit mobil Suzuki Splash, serta dokumen perbankan dan dokumen kepemilikan aset lainnya.</p>
<p>Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro Ridwan mengatakan, penyitaan tersebut merupakan hasil pengembangan kasus perburuan dan perdagangan gading gajah yang sebelumnya menjerat 17 tersangka.</p>
<p>&#8220;Dari hasil penyidikan, kami menemukan dugaan money laundry atau pencucian uang yang dilakukan dua tersangka berinisial FA dan FS,&#8221; kata Ade dalam konferensi pers di Mapolda Riau, Kamis (11/6/2026).</p>
<p>Menurut Ade, kedua tersangka diduga menyamarkan hasil kejahatan melalui berbagai transaksi keuangan dan pembelian aset.</p>
<p>Hasil analisis transaksi menunjukkan adanya aliran dana sekitar Rp 1,8 miliar melalui 34 transaksi yang diduga berkaitan dengan perdagangan gading gajah maupun satwa liar dilindungi lainnya.</p>
<p>&#8220;Penyidik juga menemukan fakta bahwa tersangka FA diduga telah terlibat perdagangan satwa dilindungi sejak tahun 2014,&#8221; ujar Ade.</p>
<h3>Aliran Dana Miliaran Rupiah</h3>
<p>Kepala Subdirektorat IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Riau AKBP Teddy Ardian mengatakan, FA dan FS diduga berperan sebagai pemodal dalam jaringan perdagangan satwa liar tersebut.</p>
<p>Keduanya disebut memberikan modal kepada pelaku lain untuk memburu gajah maupun trenggiling. Menurut Teddy, dugaan pencucian uang terungkap setelah penyidik menemukan transaksi bernilai miliaran rupiah di rekening FA yang tidak sebanding dengan pekerjaannya sebagai mandor kebun.</p>
<p>&#8220;Pelaku FA ini hanya mandor kebun, gajinya Rp 5 juta per bulan. Tapi di rekeningnya ada miliaran. Setelah kami lakukan penyidikan dan pendalaman, akhirnya terungkap adanya pencucian uang,&#8221; kata Teddy</p>
<hr>
<p>Baca selengkapnya di sumber: <a href="https://regional.kompas.com/read/2026/06/11/180555278/polda-riau-sita-uang-ekskavator-hingga-mobil-dari-money-laundry-perdagangan">https://regional.kompas.com/read/2026/06/11/180555278/polda-riau-sita-uang-ekskavator-hingga-mobil-dari-money-laundry-perdagangan</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/polda-riau-sita-uang-ekskavator-hingga-mobil-dari-money-laundry-perdagangan-gading-gajah/">Polda Riau Sita Uang, Ekskavator hingga Mobil dari Money Laundry Perdagangan Gading Gajah</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Induk dan Anak Gajah Ditemukan Mati di Konsesi Perkebunan Swasta Bengkulu</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/induk-dan-anak-gajah-ditemukan-mati-di-konsesi-perkebunan-swasta-bengkulu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2026 16:36:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1390</guid>

					<description><![CDATA[<p>BENGKULU, KOMPAS.com &#8211; Dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di wilayah konsesi perkebunan swasta di kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Kamis (30/4/2026). Kedua gajah tersebut terdiri dari satu induk betina dan satu anak yang belum diketahui jenis kelaminnya. Kepala Seksi Wilayah I BKSDA, Said Jauhari, membenarkan penemuan tersebut. “Kami awalnya mendapatkan informasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/induk-dan-anak-gajah-ditemukan-mati-di-konsesi-perkebunan-swasta-bengkulu/">Induk dan Anak Gajah Ditemukan Mati di Konsesi Perkebunan Swasta Bengkulu</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BENGKULU, KOMPAS.com &#8211; Dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di wilayah konsesi perkebunan swasta di kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Kamis (30/4/2026).</p>
<p>Kedua gajah tersebut terdiri dari satu induk betina dan satu anak yang belum diketahui jenis kelaminnya. Kepala Seksi Wilayah I BKSDA, Said Jauhari, membenarkan penemuan tersebut.</p>
<p>“Kami awalnya mendapatkan informasi ada dua gajah mati itu dari masyarakat kemudian masyarakat melapor kepada kami,” ujar Said saat dikonfirmasi, Kamis.</p>
<p><strong>Diselidiki Lewat Nekropsi</strong></p>
<p>Menindaklanjuti laporan itu, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) langsung menuju lokasi untuk melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian.</p>
<p>“Tim sekarang sudah menuju lokasi untuk melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian,” kata Said.</p>
<p>Ia menyebut, berdasarkan informasi awal, gading pada induk gajah masih utuh, sehingga kematian diduga bukan akibat perburuan.</p>
<p>“Gigi caling pada gajah perempuan masih utuh, artinya dugaan sementara kematian bukan disebabkan karena perburuan,” ujarnya.</p>
<p>Namun demikian, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.</p>
<p><strong>Habitat Tertekan</strong></p>
<p>Perambahan Said menegaskan, kematian satwa dilindungi di kawasan konsesi tersebut sudah beberapa kali terjadi dan menjadi perhatian serius.</p>
<p>“Beberapa kali kematian terjadi di sekitar konsesi PT BAT, ini wajib menjadi perhatian,” katanya.</p>
<p>Lokasi penemuan berada di kawasan Bentang Sebelat yang merupakan habitat penting gajah liar. Namun, kawasan ini terus tertekan akibat perambahan hutan dan ekspansi perkebunan sawit ilegal.</p>
<p>Sebelumnya, Rohmat Marzuki menyebut populasi gajah di Bentang Sebelat kini tersisa sekitar 25 ekor.</p>
<p>Populasi tersebut tersebar di beberapa titik, namun terpisah akibat rusaknya koridor habitat karena aktivitas perambahan.</p>
<hr>
<p>Baca selengkapnya di sumber: <a href="https://regional.kompas.com/read/2026/04/30/204521978/induk-dan-anak-gajah-ditemukan-mati-di-konsesi-perkebunan-swasta-bengkulu">https://regional.kompas.com/read/2026/04/30/204521978/induk-dan-anak-gajah-ditemukan-mati-di-konsesi-perkebunan-swasta-bengkulu</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/induk-dan-anak-gajah-ditemukan-mati-di-konsesi-perkebunan-swasta-bengkulu/">Induk dan Anak Gajah Ditemukan Mati di Konsesi Perkebunan Swasta Bengkulu</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polisi Tangkap Pembunuh Gajah di Pelalawan, Senjata Api Turut Diamankan</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/polisi-tangkap-pembunuh-gajah-di-pelalawan-senjata-api-turut-diamankan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2026 12:39:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1385</guid>

					<description><![CDATA[<p>jpnn.com, PEKANBARU &#8211; Tim gabungan Polda Riau dan Polres Pelalawan menangkap pembunuh gajah Sumatra di wilayah Kabupaten Pelalawan. Dalam operasi ini, petugas mengamankan sejumlah tersangka beserta barang bukti berupa gading gajah dan senjata api. Penangkapan bermula dari penyelidikan intensif tim setelah temuan gajah sumatera yang mati dibunuh di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/polisi-tangkap-pembunuh-gajah-di-pelalawan-senjata-api-turut-diamankan/">Polisi Tangkap Pembunuh Gajah di Pelalawan, Senjata Api Turut Diamankan</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>jpnn.com, PEKANBARU &#8211; Tim gabungan Polda Riau dan Polres Pelalawan menangkap pembunuh gajah Sumatra di wilayah Kabupaten Pelalawan.</p>
<p>Dalam operasi ini, petugas mengamankan sejumlah tersangka beserta barang bukti berupa gading gajah dan senjata api.</p>
<p>Penangkapan bermula dari penyelidikan intensif tim setelah temuan gajah sumatera yang mati dibunuh di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, Sabtu (7/2/2026).</p>
<p>Melalui penelusuran jejak digital dan keterangan saksi, petugas berhasil mengidentifikasi para pelaku.</p>
<p>Selain menangkap pelaku, petugas juga menyita sejumlah barang bukti.</p>
<p>Mulai dari gading gajah yang telah dipotong, hingga senjata api laras panjang modifikasi yang diduga digunakan untuk melumpuhkan gajah.</p>
<p>“Insyaallah hari Selasa akan kami ekspos terkait kematian atau pembunuhan atau penembakan terhadap gajah di lokasi yang kurang lebih 10 sampai 15 kilometer dari sini,” ujar Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Sabtu (28/2).</p>
<p>Dia menegaskan pengungkapan kasus ini menjadi bukti keseriusan jajaran Kepolisian Daerah Riau dalam menjaga kelestarian alam dan ekosistem satwa dilindungi di wilayah tersebut.</p>
<hr>
<p>baca selengkapnya di sumber :&nbsp;<a href="https://www.jpnn.com/news/polisi-tangkap-pembunuh-gajah-di-pelalawan-senjata-api-turut-diamankan">https://www.jpnn.com/news/polisi-tangkap-pembunuh-gajah-di-pelalawan-senjata-api-turut-diamankan</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/polisi-tangkap-pembunuh-gajah-di-pelalawan-senjata-api-turut-diamankan/">Polisi Tangkap Pembunuh Gajah di Pelalawan, Senjata Api Turut Diamankan</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gajah Betina Mati Tersengat Listrik di Aceh Tengah, Warga: Mana Solusi? Jangan Cuma Tanya Kenapa</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/gajah-betina-mati-tersengat-listrik-di-aceh-tengah-warga-mana-solusi-jangan-cuma-tanya-kenapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2026 12:35:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1382</guid>

					<description><![CDATA[<p>TAKENGON, KOMPAS.com &#8211; Seekor gajah betina ditemukan mati di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pada Jumat (20/2/2026). Mamalia besar tersebut mati akibat tersengat kawat listrik bertegangan tinggi yang diduga dipasang warga untuk melindungi ladang mereka. Ketua Tim Pengamanan Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar, Muslim, menceritakan bahwa informasi kematian gajah ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gajah-betina-mati-tersengat-listrik-di-aceh-tengah-warga-mana-solusi-jangan-cuma-tanya-kenapa/">Gajah Betina Mati Tersengat Listrik di Aceh Tengah, Warga: Mana Solusi? Jangan Cuma Tanya Kenapa</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>TAKENGON, KOMPAS.com &#8211; Seekor gajah betina ditemukan mati di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pada Jumat (20/2/2026). Mamalia besar tersebut mati akibat tersengat kawat listrik bertegangan tinggi yang diduga dipasang warga untuk melindungi ladang mereka.</p>
<p>Ketua Tim Pengamanan Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar, Muslim, menceritakan bahwa informasi kematian gajah ini pertama kali ia terima dari warga yang melapor ke rumahnya sekitar pukul 08.00 WIB.</p>
<p>“Sekitar jam delapan pagi, ada warga yang datang ke rumah melapor terkait kematian seekor gajah. Saya bilang, jangan ke saya melapor, lapor ke Reje (Kepala desa),” ujar Muslim, Minggu (22/2/2026).</p>
<p>Setelah berkoordinasi dengan Reje Karang Ampar, mereka bersama pihak kepolisian mengecek lokasi dan mendapati bangkai gajah Sumatera tersebut dalam kondisi mengenaskan akibat sengatan listrik.</p>
<p><strong>Dilema Petani dan Kawat Listrik</strong></p>
<p>Muslim mengaku gerah dengan banyaknya pertanyaan dari aktivis maupun jurnalis yang menyoroti penyebab kematian gajah tersebut. Menurutnya, publik harus melihat alasan mendasar mengapa petani nekat memasang kabel listrik yang mematikan.</p>
<p>Hingga kini, manusia dan gajah di kawasan Karang Ampar maupun Bergang belum menemukan jalan keluar untuk berbagi ruang hidup secara aman.</p>
<p>“Sejujurnya, ada yang memasang kawat listrik, dipasang oleh pemilik kebun. Tetapi persoalannya, kenapa mereka memasang? Karena tidak ada perhatian untuk memasang fencing sebagai solusi,” sebut Muslim.</p>
<p>Fencing atau pagar kejut merupakan solusi yang sering disarankan untuk membatasi ruang gerak gajah tanpa membunuhnya. Namun, pengadaannya masih sangat terbatas sehingga petani yang menggantungkan hidup dari berkebun merasa harus melindungi asetnya dengan cara sendiri.</p>
<p>“Sebenarnya polisi, maupun pihak lain sudah menyampaikan, bahwa itu tidak boleh, tetapi persoalannya, bagaimana kehidupan warga yang berkebun dan kawanan gajah? Apa solusi agar gajah tidak masuk kebun warga? Karena warga juga petani yang butuh penghidupan,” tegas Muslim.</p>
<hr>
<p>Baca selengkapnya di sumber: <a href="https://regional.kompas.com/read/2026/02/23/064408078/gajah-betina-mati-tersengat-listrik-di-aceh-tengah-warga-mana-solusi-jangan">https://regional.kompas.com/read/2026/02/23/064408078/gajah-betina-mati-tersengat-listrik-di-aceh-tengah-warga-mana-solusi-jangan</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gajah-betina-mati-tersengat-listrik-di-aceh-tengah-warga-mana-solusi-jangan-cuma-tanya-kenapa/">Gajah Betina Mati Tersengat Listrik di Aceh Tengah, Warga: Mana Solusi? Jangan Cuma Tanya Kenapa</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
