Seekor Gajah Jantan Mati Diduga Minum Racun Rumput di Ladang Warga

ACEH TIMUR – Seekor gajah jantan ditemukan mati di ladang warga Dusun Alur Kijing, Gampong Alur Pinang, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Selasa (26/8/2025). 

Kapolres Aceh Timur, Polda Aceh, AKBP Irwan Kurniadi melalui Kapolsek Serbajadi, AKP Sudirman mengatakan, setelah menerima informasi adanya gajah mati, pihaknya beserta anggota Koramil 01/PNR, Kepala Dusun Alur Kijing dan Anggota Forum Konservasi Leuser (FKL) mendatangi lokasi.

“Setibanya di lokasi, kami langsung memasang garis polisi serta mengamankan TKP sambil menunggu tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh,” ujar Sudirman, Rabu, (27/08/2025).

Dugaan awal, kata Sudirman, gajah itu mati akibat meminum racun rumput, karena tidak jauh dari gubuk yang dirusak oleh gajah tersebut ditemukan jerigen yang berisi racun rumput dengan kondisinya terbuka.

“Saat dilakukan penyisiran di sekitar lokasi, kami menemukan jerigen berisi racun rumput yang biasanya digunakan oleh petani untuk membasmi rumput atau ilalang dengan kondisi sudah terbuka. Disamping itu tidak ditemukan benda tajam atau alat yang diduga penyebab kematian gajah tersebut dan gadingnya juga masih utuh, jadi bukan upaya perburuan,” kata Sudirman.[]


Sumber : https://www.acehonline.co/news/seekor-gajah-jantan-mati-diduga-minum-racun-rumput-di-ladang-warga/index.html

Gajah Harga Diri Sumatera

Siaran Pers Hari Gajah Sedunia, 12 Agustus 2025
Gajah Harga Diri Sumatera

Donny Gunaryadi
Ketua FKGI

Tepat hari ini di setiap tanggal 12 Agustus di berbagai negara di dunia, Hari Gajah Sedunia atau di internasional disebut Global Elephant Day (GED) hadir sebagai pengingat akan pentingnya pelestarian dan perlindungan gajah dunia. Perayaan ini bertujuan untuk menunjukkan betapa bangganya kita manusia dapat hidup berdampingan dengan gajah, mamalia darat terbesar di bumi.

Peringatan Global Elephant Day yang digaungkan tiap tahunnya menjadi penanda gerakan global untuk bekerja membantu gajah dari kepunahan. GED menjadi agenda yang selalu dirayakan oleh organisasi yang peduli akan kelestarian satwa liar di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Jutaan peserta telah menunjukkan cinta dan kepedulian mereka terhadap gajah melalui GED, membuktikan bahwa semua orang di seluruh dunia ingin membantu melindungi makhluk-makhluk luar biasa ini. GED berfungsi sebagai titik kumpul “netral” bagi semua pihak – pemerintah, pengusaha, masyarakat sipil, akademisi dan warga negara—untuk bersatu mendukung konservasi gajah lintas batas.

Kawanan gajah sumatera lanskap Bukit Tigapuluh Jambi – L Andreas Sarwono-FKGI

Peringatan Hari Gajah Sedunia, di Indonesia dilaksanakan dengan mengangkat tema Gajah Harga Diri Sumatera.  Tema ini merupakan cerminan dari bagaimana kita memperlakukan gajahnya. Jika gajah terlindungi, maka kehormatan Sumatera sebagai pulau kaya biodiversitas juga terjaga.  Gajah adalah simbol keagungan alam Sumatera—sebuah spesies payung yang kehadirannya merepresentasikan utuhnya ekosistem hutan tropis. Dalam budaya lokal, gajah dihormati sebagai makhluk bijak, kuat, dan spiritual—bukan sekadar satwa liar.

Kematian gajah sekaligus cermin dari kegagalan kolektif menjaga identitas ekologis dan martabat pulau ini. Kejadian ini menunjukkan bahwa gajah masih belum aman, meskipun memiliki status sebagai spesies kunci dan dilindungi. Tema ini mengajak kita untuk membangun rasa tanggung jawab moral dan ekologis sebagai anak bangsa.

Kita dianugerahi dua subspesies gajah Asia, yakni gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan gajah Kalimantan (Elephas maximus borneoensis). Keduanya memiliki status yang perlu mendapat perhatian dengan serius. Sejak 2011, populasi gajah sumatera masih tetap dinyatakan kritis (Critically Endangered) hingga saat ini. Populasi gajah sumatera saat ini diperkirakan tidak lebih dari 1.000 ekor yang hidup di alam. Kantong-kantong besar terus menyusut seiring dengan alih fungsi habitat. Dalam kurun waktu satu generasi gajah (50-75 tahun), tercatat sekitar 70% habitat potensial gajah hilang.

Peta Sebaran Gajah Sumatera (KLHK, 2020)

Inisiatif pemerintah RI untuk mengalokasikan areal konservasi gajah patut diapresiasi. Di Aceh, Presiden RI Prabowo Subianto mengalokasikan wilayah konsesi hutan produksi  beliau untuk areal jelajah gajah. Langkah tegas Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) mengembalikan 81.000 hektare di Taman Nasional Tesso Nilo dan kawasan hutan produksi di lanskap Bukit Tigapuluh Jambi, serta daerah-daerah lain membuka harapan baru bagi lestarinya populasi gajah sumatera. Niat baik ini harus terus kita dukung sekaligus dikawal karena upaya konservasi gajah adalah sebuah perjalanan panjang.

Sebagai salah satu wadah di masyarakat, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) memiliki peran dalam merajut berbagai elemen masyarakat baik masyarakat, pemerintah, akademisi, sektor usaha, NGO, media, dan kaum muda, ingin menjadikan makhluk raksasa ini diperhatikan dan bermakna yaitu dengan menciptakan hubungan yang harmonis antara gajah dengan manusia.

#GajahBermartabat
#BanggaJagaGajah
#GajahAdalahKita
#SumateraUntukGajah
#JagaRimboJagaGajah

 

Jatuh Sakit Usai Terpisah dari Induk, Anak Gajah Yuni Akhirnya Tutup Usia

KOMPAS.com – Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA Riau) mengungkap kematian seekor anak gajah betina bernama Yuni yang sebelumnya dievakuasi karena terpisah dari induknya.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin mengatakan anak gajah itu dievakuasi dari Desa Gunung Mulya, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar pada 10 Maret 2025. Gajah tersebut akhirnya tidak mampu bertahan hidup setelah melalui berbagai upaya.

“Setelah dilakukan segala upaya perawatan secara intensif pada anak gajah tersebut, tim medis BBKSDA Riau menyatakan bahwa anak gajah tersebut tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan mati pada tanggal 11 April 2025 sekitar pukul 05.00 WIB,” katanya dalam keterangan di Pekanbaru, Selasa (12/8/2025).

Tim medis BBKSDA Riau lanjutnya telah melakukan nekropsi atau bedah bangkai terhadap anak gajah. Hasil nekropsi menunjukkan bahwa penyebab kematian diduga karena adanya peradangan lambung dan usus. Selanjutnya sampel bagian organ penting akan dikirimkan ke laboratorium untuk mengetahui diagnosa lebih lanjut penyebab kematian. Termasuk kemungkinan dugaan adanya serangan dari virus Elephant Endothelial Herves Virus (EEHV).

Balai Besar KSDA Riau untuk memastikan adanya serangan virus tersebut melakukan uji laboratorium di Medica Satwa Laboratories-Bogor dan diterima hasil negative Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV).

Balai Besar KSDA Riau memutuskan untuk melakukan uji Histopatologi di Institut Pertanian Bogor. Berdasarkan hasil uji Histopatologi yang diterima oleh Balai Besar KSDA Riau diperoleh hasil bahwa penyebab kematian anak gajah. Pertama karena Pneumonia, hemoragia pada paru paru yang menyebabkan kegagalan pernapasan hingga kematian individu.


Baca selengkapnya di sumber: Kompas.com

 

Gajah, Harga Diri Bangsa yang Diinjak

Jakarta, 12 Agustus 2025. Di banyak budaya di dunia, gajah memiliki privilege atau keistimewaan dalam struktur masyarakat. Mereka adalah simbol kebijaksanaan, kekuatan, kesetiaan, dan keberuntungan. Dalam mitologi Hindu, Dewa Ganesha, dewa berkepala gajah, dihormati sebagai pembawa pengetahuan, pelindung dari rintangan, dan pengawal harmoni. Namun ironisnya, di negeri yang masih menyimpan habitat gajah liar, makhluk megah ini justru menghadapi ancaman yang kian nyata.

Sejak 2011, Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) telah berstatus kritis (critically endangered) menurut IUCN, hanya satu langkah dari kepunahan di alam. Dan pada 2024, kabar pahit datang dari Kalimantan Utara, Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) resmi masuk kategori terancam  (endangered). Dua subspesies gajah Asia ini adalah “saudara” yang berbagi nasib: terhimpit oleh hilangnya habitat, terjerat konflik dengan manusia, dan terancam oleh infrastruktur yang tak ramah satwa.

Konflik manusia-gajah bukanlah kisah baru. Ia sudah berpuluh tahun menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Tahun 1982, pemerintah menggelar Operasi Ganesha, pemindahan besar-besaran ratusan gajah dari habitat alaminya ke kantong-kantong konservasi seperti Taman Nasional Way Kambas. Alasannya: gajah dianggap mengganggu program transmigrasi. Operasi ini memang menyelesaikan “masalah” jangka pendek, tetapi juga mengubah perilaku gajah, memecah habitatnya, dan meninggalkan warisan konflik yang belum selesai hingga kini.

Empat dekade kemudian, konflik justru semakin sering terdengar, seiring dengan penggundulan, alih fungsi hutan dan perambahan. Media sosial membuatnya lebih terlihat, tapi itu juga berarti satu hal: ancaman terhadap gajah belum mereda. Saat ini diperkirakan terdapat 22 kantong populasi gajah sumatera di seluruh Sumatera dengan populasi sekitar 1.100 individu

Tiga bulan yang lalu, tepatnya bulan Mei. Geopix meluncurkan laporan tentang situasi terkini di Bentang Alam Bukit Tigapuluh terkait Janji Karet Michelin. Laporan ini mengungkap areal konservasi  perusahaan yang disebut dengan Wildlife Conservation Area yang di dalamnya terdapat  pagar listrik di 46 titik yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 46,6 km, dari keseluruhan pagar listrik sepanjang 77 km yang ada di seluruh konsesi PT Lestari Asri Jaya (LAJ), anak perusahaan Michelin.


Baca selengkapnya di sumber : https://geopix.id/2025/08/12/gajah-harga-diri-bangsa-yang-diinjak/

Status Perlindungan Gajah Sumatera di Bentang Alam Sebelat Dinilai Palsu

Bengkulunetwork.com-  Dalam peringatan Hari Gajah Sedunia ke 25 di Bengkulu mengangkat tema Global Elephant Day-Gajah Stateless atau gajah tanpa status. Tema ini dipilih Aliansi Selamatkan Bentang Alam Seblat karena status perlindungan Gajah Sumatera oleh pemerintah Indonesia, bahkan status terancam punah oleh dunia seperti tidak ada artinya. Keberadaan Gajah Sumatera di Bentang Alam Sebelat terus menuju kepunahan.

Saat ini diperkirakan jumlah Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat hanya sekitar 40 sampai 60 ekor. Jumlah tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi pada tahun 1990an yang diperkirakan berjumlah 150 hingga 200 ekor. Penurunan jumlah individu Gajah Sumatera disebabkan aktivitas perburuan dan pengrusakan habitat ekosistemnya, seperti aktivitas pembukaan lahan, perkebunan dan pertambangan.

Cimbyo Layas Ketaren, tim Kanopi Hijau Indonesia dan selaku koordinator aksi menyatakan bahwa status perlindungan yang ditetapkan pemerintah bahkan dunia merupakan status yang palsu.

Gajah Sumatera merupakan satwa dilindungi menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya bahkan dikategorikan terancam punah menurut IUCN. Status ini seperti tak ada artinya, aktivitas perburuan dan perusakan habitat untuk perkebunan dan pertambangan terus berlangsung di Bentang Alam Sebelat,” kata Cimbyo


Baca selengkapnya di sumber : https://www.bengkulunetwork.com/kabar-bengkulu/1606425569/status-perlindungan-gajah-sumatera-di-bentang-alam-sebelat-dinilai-palsu

Hari Gajah Sedunia 2025: FKGI Korwil Aceh Susuri Pasukan Gajah di Aceh

TRIBUNGAYO.COM, BANDA ACEH – Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) Koordinator Wilayah (Korwil) Aceh memperingati Hari Gajah Sedunia tahun 2025.

Untuk diketahui, Hari Gajah Sedunia diperingati setiap 12 Agustus, sebagai momen global untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian gajah dan habitatnya.

Di Indonesia, terutama di Provinsi Aceh, peringatan ini menjadi sangat penting karena beberapa wilayah di Aceh menjadi habitat Gajah Sumatra, dan sejarah gajah yang melekat di wilayah Aceh.

Kegiatan FKGI Korwil Aceh Memperingati Hari Gajah Sedunia

Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) adalah forum yang dibentuk oleh para peneliti, aktivis, dan lembaga yang peduli terhadap konservasi gajah di Indonesia.

FKGI Korwil Aceh berperan sebagai penghubung dan pelaksana kegiatan konservasi gajah di wilayah Aceh, termasuk edukasi masyarakat, mitigasi konflik manusia-gajah, dan pemantauan populasi gajah liar.

Dalam memperingati Hari Gajah Sedunia tahun 2025, FKGI Korwil Aceh melakukan giat napak tilas ke Tugu Pulau Gajah dan Gunongan.


Baca selengkapnya di sumber : https://gayo.tribunnews.com/2025/08/12/hari-gajah-sedunia-2025-fkgi-korwil-aceh-susuri-pasukan-gajah-di-aceh

Yuni, Anak Gajah Sumatera Yang Pergi di Hari Gajah se-Dunia

PEKANBARU (CAKAPLAH) – Suasana duka menyelimuti peringatan Hari Gajah Sedunia, 12 Agustus. Di hari yang semestinya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian satwa beear ini, kabar menyedihkan datang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis.

Seekor anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina bernama Yuni dinyatakan meninggal dunia setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya sejak lama.

Yuni ditemukan dalam kondisi lemah dan sendirian di Desa Gunung Mulya, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar, pada 10 Maret 2025. Ia masih sangat muda, baru berusia tiga bulan dan telah ditinggalkan oleh induknya.

Tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau segera turun tangan, berupaya menyelamatkan hidup Yuni dengan merawatnya secara intensif.

Langkah pertama adalah mencoba mengembalikannya ke induk dan kelompoknya di alam. Namun, upaya itu tidak berhasil. Yuni kemudian dievakuasi ke PLG Minas, Kabupaten Siak, untuk mendapatkan asupan nutrisi dan perawatan yang lebih baik.

Namun, Yuni menolak susu formula yang diberikan. Upaya mempertemukannya dengan indukan lain yang baru melahirkan juga menemui jalan buntu, sang induk gajah enggan menerima Yuni.

Dengan harapan baru, Yuni dipindahkan ke PLG Sebanga, tempat ia akhirnya menghembuskan napas terakhir. Di sana, ia tetap menunjukkan perilaku aktif, meski kesehatannya perlahan menurun.

Ia dirawat oleh satu dokter hewan dan tiga mahout (pawang gajah), dengan perhatian penuh. Tim medis berusaha keras memberikan cairan infus, buah-buahan, elektrolit, dan asupan lainnya demi menyelamatkan nyawanya.

Namun, pada 8 April 2025, kondisi Yuni mulai melemah. Ia kehilangan nafsu makan dan menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Dua hari kemudian, tepat pada 10 April, kesehatannya memburuk drastis.

Meski telah dilakukan perawatan intensif sepanjang malam, Yuni dinyatakan meninggal dunia pada 11 April 2025 pukul 05.00 WIB. Kabar duka ini baru diumumkan ke publik pada 12 Agustus, bertepatan dengan Hari Gajah Sedunia.

Mengapa kematian Yuni baru diungkapkan setelah hampir 4 bulan? Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menegaskan tidak ada unsur penundaan yang disengaja.

“Kami harus menunggu hasil laboratorium. Ada dua kali tes untuk memastikan penyebab kematiannya,” ujar Supartono, Selasa (12/8/2025).

Ia menjelaskan, tim medis telah melakukan nekropsi atau bedah bangkai terhadap tubuh Yuni. Hasil awal menunjukkan adanya peradangan pada lambung dan usus.

Untuk memastikannya, sampel organ dikirim ke laboratorium, termasuk untuk mendeteksi kemungkinan infeksi virus Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV). Hasilnya, negatif.

Namun, pemeriksaan histopatologi yang dilakukan di Institut Pertanian Bogor mengungkap penyebab kematian secara lebih mendalam. Yuni mengalami Pneumonia hemoragik, yang menyebabkan kegagalan pernapasan.


Baca selengkapnya di sumber : https://www.cakaplah.com/berita/baca/126449/2025/08/12/yuni-anak-gajah-sumatera-yang-pergi-di-hari-gajah-sedunia#sthash.sojpEH12.dpbs

Konflik Manusia dan Gajah, Warga di Bengkalis Tewas Diserang

Kitakini.news -Konflik manusia dan satwa liar kembali terjadi di Provinsi Riau. Seorang warga dilaporkan tewas diserang Gajah Sumatera di Kabupaten Bengkalis, Riau.

Peristiwa tragis ini terjadi di Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Mandau, Kabupaten Bengkalis, Rabu (6/8/2025). Korban seorang ibu rumah tangga bernama Natalia Manalu mendengar suara gajah.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono belum lama ini mengatakan kalau korban berniat mengusir dari lahan pertaniannya.

Ketika mencoba mengusir gajah tersebut, gajah tersebut justru menjadi agresif dan mengejar korban dan suaminya, Oslen Panjaitan. Oslen berusaha mengalihkan perhatian gajah dari istrinya dengan memprovokasinya.

Gajah itu kemudian mengejar Panjaitan hingga dia terjatuh ke dalam parit. Gajah yang marah tersebut kemudian beralih ke korban yang sedang memegang senter. Ketika melihat gajah agresif tersebut mendekat, korban berusaha lari, namunjustru diserang satwa mamalia ini dan meninggal dunia di tempat.

Dikatakannya Natalia diinjak gajah jantan soliter yang biasa hidup menyendiri. BBKSDA Riau sudah menurunkan tim untuk melacak keberadaan gajah liar.

Lokasi merupakan kawasan hutan produksi yang menjadi jalur perlintasan Gajah Sumatera. Konflik gajah dan manusia terjadi di Riau setiap tahun. Peristiwa ini disebabkan perluasan areal perkebunan, habitat yang berkurang dan gajah kesulitan mendapatkan makanan.


Sumber : https://www.kitakini.news/news/22021/konflik-manusia-dan-gajah-warga-di-bengkalis-tewas-diserang/

Pedagang Cilok Diserang Gajah Liar di Lampung Timur, Mau Mancing Malah jadi Malapetaka

LAMPUNG, KOMPAS.com – Seorang pedagang cilok diserang gajah liar saat hendak pergi memancing di Kabupaten Lampung Timur, Minggu (10/8/2025) petang. Korban bernama Kardi (55), warga Desa Braja Indah, kini masih dirawat di Rumah Sakit Sukadana akibat luka yang dideritanya.

Kepala Dusun 5 Desa Braja Asri, Roni, mengatakan peristiwa itu terjadi di perladangan desa, tepatnya di luar kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

“Lokasi peristiwa terjadi bukan di dalam kawasan (hutan) tapi masih di wilayah desa,” kata Roni, dihubungi dari Bandar Lampung, Senin (11/8/2025).

Roni menceritakan, sebelum serangan terjadi, Kardi bersama rekannya sedang dalam perjalanan menuju sungai untuk memancing. Saat melintas di perladangan, tiba-tiba seekor gajah liar muncul dan mengadang mereka.

Korban dan rekannya sempat mundur perlahan untuk menghindari gajah tersebut. Namun, hewan itu justru mengejar hingga keduanya berlari ratusan meter.


Baca selengkapnya di sumber : Kompas

Kupas Tuntas – Ribuan Peserta Meriahkan Gajah Fest 2025, Ela Siti Nuryamah Ajak Masyarakat Hidup Harmonis dengan Gajah

Kupastuntas.co, Lampung Timur – Festival Gajah Fest 2025
yang dipusatkan di Seksi I, Resort Way Kanan, Taman Nasional Way Kambas (TNWK),
Lampung Timur, Minggu (10/8/2025), berlangsung meriah. Sebanyak 1.200 peserta
mengikuti lomba lari maraton sejauh lima kilometer yang menjadi agenda utama.

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari
Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Hari Gajah Sedunia. Pemerintah Kabupaten
Lampung Timur bersama komunitas, mitra konservasi, dan pelaku usaha menggelar
festival untuk menggaungkan pesan hidup berdampingan dengan gajah sumatera.

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, hadir langsung
membuka kegiatan. Ia menegaskan bahwa Gajah Fest 2025 bukan sekadar perayaan,
melainkan wujud komitmen menjaga keberlangsungan satwa langka.

“Gajah adalah bagian dari identitas Lampung Timur. Kita
tidak hanya hidup di sekitar habitatnya, tapi juga memiliki tanggung jawab
untuk melindunginya. Gajah Fest ini menjadi ruang untuk menguatkan kesadaran
masyarakat,” ujar Ela Siti Nuryamah.

Selain maraton, Gajah Fest 2025 juga diramaikan lomba
mewarnai untuk anak-anak bertema pelestarian gajah. Panitia menyediakan
berbagai hadiah menarik dan doorprize sebagai apresiasi bagi para peserta.

Kegiatan ini dihadiri Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlaela,
Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, Ketua DPRD Lampung Timur Rida Rotul
Aliyah, dan Wakil Bupati Lampung Timur Azwar Hadi. Kehadiran para pejabat ini
memperkuat dukungan lintas sektor terhadap konservasi.

Bupati Ela menambahkan, penyelenggaraan Gajah Fest di tengah
kawasan konservasi adalah simbol harmonisasi antara manusia dan alam. “Kita
ingin tunjukkan bahwa pariwisata, olahraga, dan edukasi bisa berjalan
beriringan dengan konservasi,” katanya.

Peserta maraton tidak hanya datang dari Lampung Timur,
tetapi juga dari berbagai kabupaten dan provinsi lain. Mereka memadati jalur
lari yang melintasi pemandangan khas TN Way Kambas, dengan udara segar dan
suasana alami.

Menurut Bupati, keterlibatan peserta dari luar daerah
menjadi bukti bahwa Gajah Fest juga berpotensi menggerakkan sektor ekonomi
melalui kunjungan wisata. “UMKM lokal kita ikut merasakan dampaknya,” ujar Ela.

Di sela kegiatan, pengunjung dapat menikmati bazar UMKM yang
menjual aneka produk lokal, mulai dari makanan khas, kerajinan tangan, hingga
suvenir bertema gajah. Ada pula pameran foto konservasi dan panggung musik
komunitas.


Baca selengkapnya di sumber: https://kupastuntas.co/2025/08/10/ribuan-peserta-meriahkan-gajah-fest-2025-ela-siti-nuryamah-ajak-masyarakat-hidup-harmonis-dengan-gajah