Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang

LAMPUNG BARAT, KOMPAS.com – Seorang buruh tani bernama Jumadi (54) ditemukan meninggal dunia di area perkebunan Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga menjadi korban interaksi dengan gajah liar saat berusaha menyelamatkan diri dari gubuk yang dikepung kawanan satwa tersebut. Kasat Reskrim Polres Lampung Barat, IPTU Rudy Prawira, mengatakan peristiwa itu bermula pada Rabu (24/6/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat itu, tiga orang diketahui terjebak di sebuah rumah singgah di kebun milik Widodo yang berada di kawasan berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) setelah kawanan gajah liar mendekati lokasi.

Mendapat informasi tersebut, warga bersama relawan Satgas segera menuju kebun untuk melakukan evakuasi. Namun, setibanya di lokasi, mereka mendapati rumah singgah itu telah mengalami kerusakan akibat amukan gajah.

Dua orang, yakni Widodo dan Sigit, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat meski mengalami trauma.

Sementara itu, Jumadi tidak berada di sekitar gubuk. “Sementara Jumadi tidak berada di lokasi. Warga bersama relawan melakukan pencarian hingga Kamis (25/6/2026) dini hari, tetapi hasilnya nihil,” kata Rudy saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).

Diduga Terjatuh ke Jurang Saat Menghindari Gajah Pencarian kembali dilakukan pada Kamis pagi. Sekitar pukul 09.00 WIB, jasad Jumadi akhirnya ditemukan di area lereng atau jurang yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah singgah tempat korban bersama rekannya berlindung

Hasil pemeriksaan petugas Puskesmas Sri Mulyo menunjukkan korban mengalami memar pada bagian pinggang belakang, luka lecet di bibir bawah, serta lecet pada lutut kanan.

Rudy menjelaskan, pihak keluarga menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah korban.

“Keluarga menolak dilakukan autopsi. Berdasarkan keterangan saksi, korban diduga berusaha menyelamatkan diri ketika gajah liar mendekati gubuk,” ujarnya.

Menurut keterangan saksi, korban diduga sempat berlari menghindari kawanan gajah. Dalam upaya menyelamatkan diri itu, korban diduga tertabrak gajah hingga terjatuh ke jurang.

Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengevakuasi jenazah, memeriksa sejumlah saksi, serta berkoordinasi dengan pihak TNBBS untuk penanganan lebih lanjut.

Rudy mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menghindari aktivitas di sekitar kawasan hutan yang menjadi jalur perlintasan gajah liar.

“Kami meminta warga tidak beraktivitas di sekitar kawasan TNBBS. Masyarakat juga harus memahami jalur perlintasan gajah dan meningkatkan kewaspadaan apabila berhadapan dengan satwa liar agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya. 


Sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/06/26/163957978/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan.

Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak ‘Indra’ Tutup Usia di TN Way Kambas

SIARAN PERS
NOMOR: SP. 236/HKLN/06/2026

Lampung Timur, 24 Juni 2026 – Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kementerian Kehutanan, menyampaikan duka cita yang mendalam atas kematian Gajah Indra. Gajah jinak jantan berusia 42 tahun ini tutup usia setelah selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Provinsi Lampung.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi, menegaskan bahwa kepergian Gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi dunia konservasi Indonesia.

“Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya,” ujar Zaidi.

Gajah Indra berasal dari Desa Karang Sari, Kabupaten Lampung Timur, dan bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK sejak tahun 1995. Dikenal memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berani, Gajah Indra telah terlibat dalam berbagai operasi krusial di lapangan, mulai dari evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, hingga mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Lampung. Dedikasi ini membuatnya sangat dihormati oleh para mahout, dokter hewan, perawat satwa, serta para pegiat konservasi.

Penurunan kondisi kesehatan Gajah Indra berakar dari insiden pada akhir tahun 2017. Seusai membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kendaraan yang mengangkut Gajah Indra mengalami kecelakaan lalu lintas. Peristiwa tersebut mengakibatkan trauma fisik serius, di mana hasil pemeriksaan medis menduga Indra mengalami gangguan pada ruas tulang belakang (suspect ruptur os vertebrae) yang secara bertahap memengaruhi gerak dan kesehatannya.

Sejak cedera tersebut, Gajah Indra dipensiunkan dari tugas lapangan. Tim dokter hewan dan perawat satwa TNWK memberikan perawatan intensif, terapi, serta pemantauan harian untuk menjaga kualitas hidupnya. Namun, kondisi fisiknya terus menurun seiring bertambahnya usia.

Pada Minggu, 21 Juni 2026 sore, Gajah Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa. Saat hendak diarahkan naik kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri. Upaya darurat segera dilakukan oleh mahout pendamping, Siswo, bersama tim rescue dengan bantuan gajah jinak lainnya. Meskipun sempat berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit, kondisi fisik yang sangat lemah membuat Indra kembali rebah.

Mengingat keterbatasan medan rawa dan kondisi fisik satwa yang tidak memungkinkan untuk dievakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan langsung melakukan tindakan penyelamatan darurat secara intensif di lokasi kejadian. Setelah berjuang keras selama lebih dari 20 jam untuk mempertahankan kondisi vitalnya, Gajah Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.

Sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP) medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah, tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian. Proses bedah bangkai ini dipimpin oleh drh. Diah Esty Nggraeni (PLG TNWK) dan drh. Atma (Sumatran Rhino Sanctuary), didukung lima tenaga kesehatan hewan dari Rumah Sakit Gajah TNWK.

Guna menjaga transparansi, proses nekropsi dilakukan di bawah pengawasan dan disaksikan langsung oleh unsur Polres Lampung Timur, Kodim 0429/Lampung Timur, serta Polisi Kehutanan TNWK. Sejumlah sampel organ telah diambil untuk analisis laboratorium lebih lanjut guna mendapatkan data komprehensif mengenai faktor klinis penyebab kematian. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Indra langsung dimakamkan di lokasi khusus dalam kawasan TNWK.

Kepergian Gajah Indra menjadi pengingat pentingnya dedikasi dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga kelestarian satwa liar Indonesia. Balai TNWK berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi Gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, mitigasi konflik, peningkatan kapasitas pelayanan medis, serta penguatan kesejahteraan gajah-gajah binaan di bawah pengelolaan negara.

───
Informasi lebih lanjut:
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri

Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo

Riau, 10 Juni 2026 – Kabar gembira datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Seekor anak gajah lahir dari induk bernama Ria. Anak gajah berkelamin betina ini saat ini dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta sudah menyusu secara normal. Tidak ditemukan cacat fisik pada anak gajah ini.

Kelahiran anak gajah ini terjadi sekitar pukul 07.30 WIB ketika Mahout (Pawang gajah) Erwin Daulay memindahkan gajah dari ikatan ke lokasi angonan. Sekitar 1 km dari Pos Jaga/Kantor Resort Konservasi Gajah Sumatera, Mahout Erwin menemukan bayi gajah yang baru lahir, lengkap dengan ari-arinya. Observasi awal dilakukan langsung oleh Mahout, kemudian diteruskan tim dokter hewan yang memastikan bayi gajah aktif, berdiri, dan menyusu secara berulang.

“Induk gajah Ria dan bayi gajah kini terus dipantau tim dokter hewan untuk memastikan kesehatan keduanya tetap terjaga,” ujar Kepala Balai Tesso Nilo, Heru Sutmatoro.

Kelahiran ini menjadi bukti keberhasilan upaya konservasi gajah Sumatera yang dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Anak gajah ini merupakan anak kelima dari Gajah Ria yang lahir di Camp Elephants Flying Squad TNTN, sebagai hasil breeding dengan gajah liar. Sebelumnya, gajah Ria telah sukses melahirkan empat ekor anak gajah yang diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang. Saat ini, kondisi gajah Ria dan bayinya terus dipantau secara intensif oleh Tim Mahout dan Tim Dokter Hewan untuk memastikan masa pemulihan berjalan optimal.

Dalam rentang waktu 8 tahun terakhir, Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo telah mengalami 4 kali kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, yaitu Lisa dan Ria. Rentetan kelahiran ini menjadi bukti nyata dan penguatan fakta bahwa kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo merupakan habitat penting yang berkontribusi besar dalam upaya peningkatan populasi Gajah Sumatera.


Baca selengkapnya di sumber : https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo

Anak Gajah Sumatera Lahir di Taman Satwa Lembah Hijau, Menhut Beri Nama “Rut”

Jakarta, 10 Juni 2026 — Taman Satwa Lembah Hijau Lampung kembali mencatatkan keberhasilan dalam upaya konservasi satwa liar dengan lahirnya seekor anak Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) berjenis kelamin betina pada tanggal 5 Juni 2026. Anak gajah tersebut lahir dengan berat 123 kilogram dan merupakan kelahiran kedua dari pasangan induk jantan Aris (29 tahun) dan induk betina Mega (27 tahun). Sebelumnya, pasangan Aris dan Mega telah berhasil melahirkan seekor anak gajah jantan pada 7 Agustus 2022 yang diberi nama Rawana.

Saat ini kondisi anak gajah berada dalam keadaan sehat dan terus mendapatkan pemantauan intensif oleh tim Mahout (pawang gajah) serta tim medis Taman Satwa Lembah Hijau untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangannya berlangsung optimal. Kehadiran anak gajah betina ini menambah populasi Gajah Sumatera di bawah pengelolaan lembaga konservasi sekaligus menjadi capaian penting dalam program pengembangbiakan yang dijalankan secara berkelanjutan.

Komisaris Utama Taman Satwa Lembah Hijau, Irwan Nasution, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung program konservasi ex-situ dan peningkatan populasi Gajah Sumatera.

“Kelahiran anak gajah ini menjadi bukti nyata komitmen Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung pelestarian Gajah Sumatera. Kami akan terus meningkatkan kualitas pengelolaan, perawatan, dan program pengembangbiakan sebagai kontribusi nyata terhadap upaya konservasi satwa langka Indonesia demi menjaga keberlangsungan populasi Gajah Sumatera untuk generasi mendatang,” ujar Irwan Nasution.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Agung Nugroho, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan dan konsistensi Taman Satwa Lembah Hijau dalam menjalankan program konservasi dan pengembangbiakan Gajah Sumatera.

“Kami mengapresiasi keberhasilan kelahiran anak Gajah Sumatera ini serta konsistensi Taman Satwa Lembah Hijau dalam mendukung program konservasi. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sinergi antara lembaga konservasi, tenaga profesional, dan pengelola satwa dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya pelestarian Gajah Sumatera di Indonesia,” ungkap Agung Nugroho.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa upaya penyelamatan Gajah Sumatera tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat alami dan pengelolaan konflik manusia-gajah di kawasan (in situ), tetapi juga diperkuat melalui pengembangan program konservasi (ex situ) di berbagai lembaga konservasi yang memenuhi standar pengelolaan satwa liar.

Sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan kelahiran anak Gajah Sumatera di Lembaga Konservasi Lembah Hijau, Menteri Kehutanan memberikan nama “Rut” kepada anak gajah tersebut.

“Kami memberikan nama Rut sebagai simbol persahabatan dan penghargaan kepada Pemerintah Norwegia, khususnya Ibu Rut Krüger Giverin, yang selama ini telah menunjukkan komitmen dan kontribusi nyata dalam mendukung agenda konservasi hutan dan lingkungan hidup di Indonesia. Semoga anak gajah ini tumbuh sehat dan menjadi simbol harapan bagi keberlangsungan populasi Gajah Sumatera di masa depan,” ujar Raja Juli Antoni.

Lebih lanjut, Menteri Kehutanan menjelaskan bahwa keberhasilan kelahiran anak gajah di lembaga konservasi merupakan bukti bahwa konservasi ex situ dapat memberikan kontribusi penting dalam mendukung pelestarian spesies yang menghadapi berbagai tekanan di alam. Kementerian Kehutanan mendorong setiap lembaga konservasi, untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan satwa, kesejahteraan hewan, serta keberhasilan program pengembangbiakan yang terencana dan berkelanjutan.


Baca selengkapnya di sumber : https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-satwa-lembah-hijau-menhut-beri-nama-rut

Polda Riau Sita Uang, Ekskavator hingga Mobil dari Money Laundry Perdagangan Gading Gajah

PEKANBARU, KOMPAS.com – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau menyita sejumlah aset yang diduga berasal dari tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil perdagangan satwa liar, termasuk gading gajah sumatera.

Aset yang disita berupa uang tunai Rp 650 juta, satu unit ekskavator, satu unit mobil Mitsubishi Triton, satu unit mobil Suzuki Splash, serta dokumen perbankan dan dokumen kepemilikan aset lainnya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro Ridwan mengatakan, penyitaan tersebut merupakan hasil pengembangan kasus perburuan dan perdagangan gading gajah yang sebelumnya menjerat 17 tersangka.

“Dari hasil penyidikan, kami menemukan dugaan money laundry atau pencucian uang yang dilakukan dua tersangka berinisial FA dan FS,” kata Ade dalam konferensi pers di Mapolda Riau, Kamis (11/6/2026).

Menurut Ade, kedua tersangka diduga menyamarkan hasil kejahatan melalui berbagai transaksi keuangan dan pembelian aset.

Hasil analisis transaksi menunjukkan adanya aliran dana sekitar Rp 1,8 miliar melalui 34 transaksi yang diduga berkaitan dengan perdagangan gading gajah maupun satwa liar dilindungi lainnya.

“Penyidik juga menemukan fakta bahwa tersangka FA diduga telah terlibat perdagangan satwa dilindungi sejak tahun 2014,” ujar Ade.

Aliran Dana Miliaran Rupiah

Kepala Subdirektorat IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Riau AKBP Teddy Ardian mengatakan, FA dan FS diduga berperan sebagai pemodal dalam jaringan perdagangan satwa liar tersebut.

Keduanya disebut memberikan modal kepada pelaku lain untuk memburu gajah maupun trenggiling. Menurut Teddy, dugaan pencucian uang terungkap setelah penyidik menemukan transaksi bernilai miliaran rupiah di rekening FA yang tidak sebanding dengan pekerjaannya sebagai mandor kebun.

“Pelaku FA ini hanya mandor kebun, gajinya Rp 5 juta per bulan. Tapi di rekeningnya ada miliaran. Setelah kami lakukan penyidikan dan pendalaman, akhirnya terungkap adanya pencucian uang,” kata Teddy


Baca selengkapnya di sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/06/11/180555278/polda-riau-sita-uang-ekskavator-hingga-mobil-dari-money-laundry-perdagangan.

Induk dan Anak Gajah Ditemukan Mati di Konsesi Perkebunan Swasta Bengkulu

BENGKULU, KOMPAS.com – Dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di wilayah konsesi perkebunan swasta di kawasan Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, Kamis (30/4/2026).

Kedua gajah tersebut terdiri dari satu induk betina dan satu anak yang belum diketahui jenis kelaminnya. Kepala Seksi Wilayah I BKSDA, Said Jauhari, membenarkan penemuan tersebut.

“Kami awalnya mendapatkan informasi ada dua gajah mati itu dari masyarakat kemudian masyarakat melapor kepada kami,” ujar Said saat dikonfirmasi, Kamis.

Diselidiki Lewat Nekropsi

Menindaklanjuti laporan itu, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) langsung menuju lokasi untuk melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian.

“Tim sekarang sudah menuju lokasi untuk melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian,” kata Said.

Ia menyebut, berdasarkan informasi awal, gading pada induk gajah masih utuh, sehingga kematian diduga bukan akibat perburuan.

“Gigi caling pada gajah perempuan masih utuh, artinya dugaan sementara kematian bukan disebabkan karena perburuan,” ujarnya.

Namun demikian, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Habitat Tertekan

Perambahan Said menegaskan, kematian satwa dilindungi di kawasan konsesi tersebut sudah beberapa kali terjadi dan menjadi perhatian serius.

“Beberapa kali kematian terjadi di sekitar konsesi PT BAT, ini wajib menjadi perhatian,” katanya.

Lokasi penemuan berada di kawasan Bentang Sebelat yang merupakan habitat penting gajah liar. Namun, kawasan ini terus tertekan akibat perambahan hutan dan ekspansi perkebunan sawit ilegal.

Sebelumnya, Rohmat Marzuki menyebut populasi gajah di Bentang Sebelat kini tersisa sekitar 25 ekor.

Populasi tersebut tersebar di beberapa titik, namun terpisah akibat rusaknya koridor habitat karena aktivitas perambahan.


Baca selengkapnya di sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/04/30/204521978/induk-dan-anak-gajah-ditemukan-mati-di-konsesi-perkebunan-swasta-bengkulu

Polisi Tangkap Pembunuh Gajah di Pelalawan, Senjata Api Turut Diamankan

jpnn.com, PEKANBARU – Tim gabungan Polda Riau dan Polres Pelalawan menangkap pembunuh gajah Sumatra di wilayah Kabupaten Pelalawan.

Dalam operasi ini, petugas mengamankan sejumlah tersangka beserta barang bukti berupa gading gajah dan senjata api.

Penangkapan bermula dari penyelidikan intensif tim setelah temuan gajah sumatera yang mati dibunuh di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, Sabtu (7/2/2026).

Melalui penelusuran jejak digital dan keterangan saksi, petugas berhasil mengidentifikasi para pelaku.

Selain menangkap pelaku, petugas juga menyita sejumlah barang bukti.

Mulai dari gading gajah yang telah dipotong, hingga senjata api laras panjang modifikasi yang diduga digunakan untuk melumpuhkan gajah.

“Insyaallah hari Selasa akan kami ekspos terkait kematian atau pembunuhan atau penembakan terhadap gajah di lokasi yang kurang lebih 10 sampai 15 kilometer dari sini,” ujar Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Sabtu (28/2).

Dia menegaskan pengungkapan kasus ini menjadi bukti keseriusan jajaran Kepolisian Daerah Riau dalam menjaga kelestarian alam dan ekosistem satwa dilindungi di wilayah tersebut.


baca selengkapnya di sumber : https://www.jpnn.com/news/polisi-tangkap-pembunuh-gajah-di-pelalawan-senjata-api-turut-diamankan

Gajah Betina Mati Tersengat Listrik di Aceh Tengah, Warga: Mana Solusi? Jangan Cuma Tanya Kenapa

TAKENGON, KOMPAS.com – Seekor gajah betina ditemukan mati di Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, pada Jumat (20/2/2026). Mamalia besar tersebut mati akibat tersengat kawat listrik bertegangan tinggi yang diduga dipasang warga untuk melindungi ladang mereka.

Ketua Tim Pengamanan Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar, Muslim, menceritakan bahwa informasi kematian gajah ini pertama kali ia terima dari warga yang melapor ke rumahnya sekitar pukul 08.00 WIB.

“Sekitar jam delapan pagi, ada warga yang datang ke rumah melapor terkait kematian seekor gajah. Saya bilang, jangan ke saya melapor, lapor ke Reje (Kepala desa),” ujar Muslim, Minggu (22/2/2026).

Setelah berkoordinasi dengan Reje Karang Ampar, mereka bersama pihak kepolisian mengecek lokasi dan mendapati bangkai gajah Sumatera tersebut dalam kondisi mengenaskan akibat sengatan listrik.

Dilema Petani dan Kawat Listrik

Muslim mengaku gerah dengan banyaknya pertanyaan dari aktivis maupun jurnalis yang menyoroti penyebab kematian gajah tersebut. Menurutnya, publik harus melihat alasan mendasar mengapa petani nekat memasang kabel listrik yang mematikan.

Hingga kini, manusia dan gajah di kawasan Karang Ampar maupun Bergang belum menemukan jalan keluar untuk berbagi ruang hidup secara aman.

“Sejujurnya, ada yang memasang kawat listrik, dipasang oleh pemilik kebun. Tetapi persoalannya, kenapa mereka memasang? Karena tidak ada perhatian untuk memasang fencing sebagai solusi,” sebut Muslim.

Fencing atau pagar kejut merupakan solusi yang sering disarankan untuk membatasi ruang gerak gajah tanpa membunuhnya. Namun, pengadaannya masih sangat terbatas sehingga petani yang menggantungkan hidup dari berkebun merasa harus melindungi asetnya dengan cara sendiri.

“Sebenarnya polisi, maupun pihak lain sudah menyampaikan, bahwa itu tidak boleh, tetapi persoalannya, bagaimana kehidupan warga yang berkebun dan kawanan gajah? Apa solusi agar gajah tidak masuk kebun warga? Karena warga juga petani yang butuh penghidupan,” tegas Muslim.


Baca selengkapnya di sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/02/23/064408078/gajah-betina-mati-tersengat-listrik-di-aceh-tengah-warga-mana-solusi-jangan.

Anak Gajah Mati di Riau, Balai TNTN: Diduga Infeksi Kaki Akibat Jerat

PEKANBARU, KOMPAS.com – Seekor anak gajah sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) ditemukan mati di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau, Kamis (26/2/2026) siang.

Kepala Balai TNTN, Heru Sutmantoro mengatakan, bangkai anak gajah liar ini ditemukan di wilayah Resort Lancang Kuning, Seksi PTN Wilayah I.

“Anak gajah ditemukan dalam kondisi telah menjadi bangkai dan mengalami proses pembusukan lanjut,” sebut Heru kepada Kompas.com melalui keterangan tertulis, Kamis malam.

Berdasarkan kondisi fisik di lapangan, kematian diperkirakan telah terjadi lebih dari satu minggu sebelum ditemukan.

Hasil pemeriksaan awal di lokasi, ungkap Heru, anak gajah ini diduga mati akibat infeksi pada kaki yang kena jerat.

Tim medis Balai TNTN segera melakukan penanganan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan mendalam untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah.

Saat ini, proses identifikasi dan pendalaman masih berlangsung. 

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian gajah, Balai TNTN berkolaborasi dengan Polda Riau dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

Balai TNTN berkomitmen untuk melakukan penanganan secara professional, berkoordinasi dengan pihak terkait, guna mendukung upaya perlindungan Gajah Sumatera di kawasan konservasi.


Baca selengkapnya di sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/02/26/224018278/anak-gajah-mati-di-riau-balai-tntn-diduga-infeksi-kaki-akibat-jerat.

Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik

KOMPAS.com – Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina ditemukan mati di Desa Karang Ampar, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Sabtu (21/2/2026). Gajah tersebut diduga tersengat kawat listrik bertegangan tinggi yang dipasang di area perkebunan warga. 

“Pemasangan kawat berarus listrik tegangan tinggi membawa risiko besar yang tidak hanya membahayakan satwa liar, tetapi juga keselamatan jiwa kita sendiri, keluarga, dan warga sekitar,” ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, dilansir dari Antara, Senin (23/2/2026).

Pemasangan pagar kawat yang dialiri tegangan listrik 220 volt di lahan perkebunan kelapa sawit sudah menjadi kebiasaan di Pulau Sumatera.

Padahal pemasangan kawat berarus listrik bertegangan tinggi sebenarnya sudah dilarang di Indonesia karena membahayakan nyawa manusia dan satwa liar

“Sudah menjadi kebiasaan yang salah. Bukan hanya di Aceh. Ini bisa terjadi di banyak tempat. Kalau dulu orang di Sumatera Selatan, Jambi, setahu saya itu menggunakan kawat beraliran tenaga listrik tegangan tinggi itu untuk berburu sebetulnya,” kata Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).

Dulu, banyak harimau yang berkeliaran, tersengat kawat listrik bertegangan tinggi untuk berburu. Saat ini, metode tersebut beralih rupa menjadi pagar untuk melindungi perkebunan kelapa sawit rakyat.

Semestinya, lanjut Dolly, masyarakat tidak perlu memakai metode yang membahayakan untuk menghalau gajah masuk ke perkebunan kelapa sawit.


Baca selengkapnya di sumber: https://lestari.kompas.com/read/2026/02/23/194516686/gajah-mati-terlilit-kawat-listrik-di-aceh-ahli-soroti-penggunaan-pagar.