Anak Gajah Umur 4 Tahun Mati di Pusat Pelatihan, Diduga Terserang Virus Herves

LAMPUNG TIMUR, iNews.id – Anak gajah sumatera jinak berusia 4 tahun yang ditemukan mati. Gajah itu ditemukan mati di dalam area Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur.

Gajah bernama Topan itu mati pada Minggu (30/10/2022). Topan merupakan anak dari induk gajah bernama Bunga.

Sesaat usai ditemukan mati, petugas melakukan evakuasi terhadap jasadnya. Kemudian, dokter rumah sakit gajah melakukan autopsi terhadap Topan.

“Autopsi dilakukan oleh dokter hewan Rumah Sakit Gajah Way Kambas, untuk mengetahui penyebab kematian Topan,” kata dokter hewan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaja, Rabu (2/11/2022).

Autopsi dilakukan dengan mengambil beberapa organ tubuhnya guna mengetahui penyebab kematiannya.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan,” katanya.

Sementara itu, drh. Hesti menjelaskan, pada pemeriksaan dan pembedahan, beberapa organ dalam gajah sudah diambil untuk dikirim ke laboratorium.

“Kami akan kirim sampel organnya ke laboratorium untuk mengetahui hasilnya,” kata dia.

Kesimpulan dari diagnosa sementara, kata Hesty, penyebab kematian anak gajah bernama Taufan ini akibat penyakit herves virus (EEHV).

“Penyebab kematian anak gajah ini bukan karena kekerasan, karena tidak ada bekas luka, tidak ada lubang yang tidak umum ditemukan, tidak ada tindak kekerasan fisik,” katanya.


Sumber : https://lampung.inews.id/berita/anak-gajah-umur-4-tahun-mati-di-pusat-pelatihan-diduga-terserang-virus-herves/2.

Konflik Gajah di Way Kambas, Petani Tewas Diinjak Gajah Liar Saat Tidur di Gubuk

LAMPUNG, KOMPAS.com – Seorang petani di Lampung Timur, tewas diinjak gajah liar saat tidur di gubuk ladangnya.

Korban sempat dirawat di rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong akibat luka berat.

Wakapolres Lampung Timur Komisaris Polisi (Kompol) Sugandhi Satria Nugraha mengatakan, korban tewas adalah seorang petani bernama Zarkoni (44) warga Desa Tambahdadi, Kecamatan Purbolinggo.

Menurut Gandhi, sapaan akrabnya, dari keterangan yang dihimpun kepolisian peristiwa itu terjadi pada Kamis (10/11/2022) sekitar pukul 2.30 WIB.

“Lokasi konflik ini di ladang korban di Dusun IV, Desa Tambahdadi,” kata Gandhi saat dihubungi, Jumat (11/11/2022).

Korban sempat dirawat dengan luka parah. Namun, korban meninggal dunia di rumah sakit akibat luka injakan gajah itu.

“Korban meninggal dunia tadi (Jumat) siang di rumah sakit,” kata Gandhi.

Adapun kronologi peristiwa ini berawal saat korban dan dua rekannya yakni Sugiyanto dan Saidi pergi ke ladang pada Rabu (9/11/2022) sekitar pukul 19.30 WIB.

Ketiganya pergi ke ladang untuk berjaga dari gangguan hama dan satwa liar seperti gajah yang datang dari dalam kawasan hutan Way Kambas.

Ketiganya bergiliran berjaga, dengan posisi korban dan Saidi tiduran di atas gubuk. Sedangkan Sugiyanto berjaga di luar gubuk.

Pada waktu kejadian, tiba-tiba muncul satu ekor gajah di dekat Sugiyanto.

Lantaran kaget, Sugiyanto langsung lari menjauhi gajah itu.

Tak dinyana, gajah liar yang diperkirakan berumur dewasa itu juga berlari mendekati gubuk dan merubuhkannya.

Korban tidak bisa melarikan diri karena gajah itu langsung menyerangnya.

Akibat serangan gajah, korban mengalami luka patah di kaki dan rusuknya.


Sumber : https://regional.kompas.com/read/2022/11/11/155750578/konflik-gajah-di-way-kambas-petani-tewas-diinjak-gajah-liar-saat-tidur-di?page=all.

Jaga Kelestarian Satwa Dilindungi, Tim Gabungan Gelar Operasi Sapu Jerat di Siak

TRIBUNPEKANBARU.COM – Tim Gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, PT Arara Abadi (AA), UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Mandau, Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Perkumpulan Jejaring Hutan Satwa (PJHS), Rimba Satwa Foundation (RSF) dan Himpunan Penggiat Alam (Hipam) menggelar operasi sapu jerat/racun dan sosialisasi konservasi satwa liar gajah dan harimau di kawasan lindung, daerah perbatasan antara konsesi PT Arara Abadi, Distrik Duri I dengan Kampung Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak, Selasa (25/10/2022).

Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui Plt Kepala Bidang KSDA Wil II  Hartono menyampaikan apresiasinya atas  kegiatan yang dilakukan bersama para mitra, NGO dan pemegang konsesi untuk kegiatan operasi jerat tersebut.

“Karena itu menunjukkan bahwa para pihak konsen terhadap penyelamatan satwa liar yang dilindungi. Harapan kami kegiatan ini bisa secara kontinu dilakukan dan bisa melibatkan masyarakat sekitar areal konsesi, dengan tujuan untuk mengedukasi, meningkatkan pemahaman dan penyadartahuan kepada masyarakat,” kata Hartono.

Menurutnya, kegiatan sosialisasi harus terus menerus berkesinambungan dilakukan oleh berbagai pihak, terutama para pemegang konsesi tentang larangan pemasangan jerat dengan alasan apapun.

Disertai penyampaian aturan yang jelas jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap satwa liar yang dilindungi.

“Sanksi hukum dapat diberlakukan bagi pemasang jerat tanpa terkecuali, dimana bagi pelaku dapat dikenai sanksi Pasal 40 UU No 5 Tahun 1990 tentang KSDAE dengan hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta,” jelas Hartono.

Selain itu, pihaknya berharap dengan kegiatan operasi jerat yang melibatkan semua pihak ini bisa menekan kegiatan-kegiatan perburuan dan menekan angka kematian satwa yang dilindungi akibat jerat.

Usai penyisiran, Ketua Perkumpulan Jejaring Hutan Satwa (PJHS) Syamsuardi menyampaikan, dalam kegiatan ini ditemukan sebuah jerat sling yang biasanya ditargetkan untuk satwa besar seperti kijang, babi, bahkan harimau dan gajah.

Selain itu ditemukan pula beberapa jerat-jerat kecil yang yang juga berpotensi mengakibatkan terjeratnya satwa di daerah tersebut.

 

“Kami juga menemukan racun herbisida di dalam jeriken. Semuanya sudah kami sita,” sebut Syamsuardi.

Namun dikatakan Syamsuardi, yang menjadi target bukan jumlah jerat yang diamankan, namun mengedukasi berbagai pihak akan bahayanya jerat ini.

“Saya berharap ini jerat terakhir yang kita temukan. Bila kita tak menemukan jerat lagi di lokasi lain, saya harap artinya daerah tersebut steril dari jerat yang dapat mengancam satwa,” tuturnya.

Selain itu pihaknya juga menyosialisaikan kepada pemerintah desa dan masyarakat setempat akan bahayanya memasang jerat di hutan.

Head Plantation Unit District I Melibur PT Arara Abadi Deni Alfiyan menyatakan selain melakukan pengamanan lokasi, pihaknya selalu melaporkan dan berkoordinasi dengan pimpinan serta BBKSDA Riau sesaat setelah karyawan melihat satwa dilindungi melintas di daerah kerja mereka.

“Kita juga selalu memberikan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat yang berada di sekitar area konsesi. Kami juga membantu masyarakat dengan peralatan pengamanan dan perlindungan hewan yang dilindungi berupa trompet gas,” papar Deni.

Di lain tempat, Penghulu Tasik Betung Chairul Anas menyatakan sangat mendukung program sisir jerat yang bertujuan menjaga populasi satwa liar ini.

Ia menilai pemerintah kampung maupun masyarakat, perlu mengetahui bahayanya pemasangan jerat ini agar satwa-satwa dilindungi tak mati sia-sia.

“Dulu memang masyarakat memasang jerat dengan niat mencari rusa dan kijang, namun ditakutkan justru jerat tersebut mengenai satwa dilindungi. Makanya penting bagi masyarakat mengetahui dan tidak memasang jerat lagi,” tutupnya.

Di tempat terpisah Head of Landscape Conservation APP Sinar Mas, Jasmine N.P. Doloksaribu mengatakan, APP Sinar Mas mewajibkan seluruh Perusahaan mitra pemasok bahan baku industrinya untuk menjalankan kewajiban yang diamanatkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan, serta turut berperan aktif menjadi bagian dari program konservasi gajah dan harimau sumatera sebagai bentuk perlindungan serta   memberikan peluang gajah dan harimau sumatera untuk dapat bertahan hidup dan terhindar dari kepunahan.

“Kegiatan kolaborasi program sisir jerat-sisir racun dan sosio-edukasi mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar  dilindungi dan terancam punah ini dilakukan secara berkala bersama BBKSDA Riau, KPH, pakar gajah dari FKGI, PJHS, dan lembaga setempat. Kami berharap dengan keiikutsertaan  para pihak yang berkepentingan  dapat semakin memudahkan kita dalam memahami prinsip berbagi ruang hidup antara Manusia-Satwa Liar beserta strategi aksi konservasinya sesuai dengan Permen LHK No.62/Menlhk/Setjen/Kum.1/2019 tentang pembangunan HTI pemegang ijin wajib melindungi kawasan lindung termasuk habitat satwa dan SE.7/PHL/PUPH/HPL.1/10/2022  tentang  Perlindungan satwa Liar yang Dilindungi di Dalam Areal Kerja PBPH, yang sejalan dengan Visi Peta Jalan Keberlanjutan (Sustainable Roadmap Vision) 2030 dan komitmen Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy) APP Sinar Mas,” tambah Jasmine.


Sumber dari : Tribun Pekanbaru https://pekanbaru.tribunnews.com/2022/10/28/jaga-kelestarian-satwa-dilindungi-tim-gabungan-gelar-operasi-sapu-jerat-di-siak

KLHK dan Polda Bengkulu tangkap tersangka perambah hutan TWA Seblat

Kota Bengkulu (ANTARA) – Direktorat Pencegahan dan Pengamanan LHK Ditjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Polda Bengkulu menangkap tiga orang tersangka perambah hutan di dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat Kabupaten Bengkulu Utara.

Ketiga perambah yang tangkap tersebut yaitu AS (51) dan SA (52) warga Kecamatan Marga Sakti serta Ru (60) warga Kecamatan Argamakmur Kabupaten Bengkulu Utara.
 
“Kami melakukan penangkapan terhadap perambah hutan di kawasan TWA Seblat dan ketiganya sehari-hari bekerja sebagai petani,” kata Kabid Humas Polda Bengkulu Kombes Pol Sudarno di Kota Bengkulu, Rabu.
 
Ia menyebutkan, ketiga orang tersangka tersebut telah merambah hutan TWA Seblat Kabupaten Bengkulu Utara dengan 4 hektar yang nantinya akan dijadikan kebun kelapa sawit.
 
Sekitar dua hektare lahan yang telah dirambah tersebut telah ditanami bibit-bibit kelapa sawit oleh ketiga tersangka dan masyarakat lainnya sejak 2019.
 
“Aksi perambahan ini memang berlangsung lama, karena sebelumnya kami melakukan upaya pendekatan. Tapi mudah-mudahan dengan upaya terakhir ini akan menimbulkan efek kerah bagi para perambah,” ujarnya.
 
Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bengkulu Said Jauhari menjelaskan bahwa perambahan hutan tersebut tidak bisa terus dibiarkan, karena akan membuat pelakunya semakin masif dan mengancam habitat gajah sumatera yang ada di hutan TWA Seblat.
 
Padahal, TWA Seblat merupakan wilayah konservasi gajah dan saat ini populasi gajah Sumatera sudah sangat sedikit dan terancam kepunahan.
 
“Jadi TWA Seblat inilah yang menjadi benteng terakhir untuk menyelamatkan gajah sumatera yang ada di Provinsi Bengkulu,” katanya.
 
Ada enam perambah hutan yang masuk dalam Target Operasi (TO) pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu dan Polda Bengkulu, namun saat dilakukan penangkapan hanya ada tiga tersangka.
 
Dalam penangkapan tersebut, pihaknya juga menyita barang bukti berupa pancang kayu, pisau, senter, batang kayu, bibit sawit, gergaji, batu asah pisau, dan arit.
 
Oleh karena itu, ketiga tersangka terancam Pasal 78 ayat (2) Jo Pasal 50 ayat (2) huruf A UU 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.
 
Sebagaimana telah dirubah pada paragraf 4 Pasal 36 UU RI Nomor 11 tahun 2020 tentang cipta kerja, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara atau denda Rp7,5 miliar.
 
Diketahui, TWA Seblat merupakan hutan tempat tinggal habitat gajah yang ada di Provinsi Bengkulu dengan luas 7.732 hektare yang terletak di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Mukomuko.

Sumber asli dari : https://bengkulu.antaranews.com/berita/254549/klhk-dan-polda-bengkulu-tangkap-tersangka-perambah-hutan-twa-seblat

Polisi Pastikan, Gajah Mati di Aceh TImur karena Pestisida

ACEH TIMUR, KOMPAS.com – Seekor gajah betina ditemukan mati di area perkebunan milik warga di Desa Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Sabtu (15/10/2022).

Kapolsek Serbajadi Iptu Hendra Sukmana, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/10/2022), memastikan bahwa kematian gajah itu karena meminum pestisida milik petani yang disimpan di dalam gubuk.

Baca juga: Saat Jokowi dan Teman Kuliah Tertawakan Isu Ijazah Palsu “Tak jauh dari lokasi gajah mati, ada gubuk petani, kondisinya juga rusak. Dindingnya jebol. Diduga pestisida yang disimpan petani itu sebagian diminum oleh gajah, ini yang menyebabkan kematian,” kata Kapolsek.

Dia menyebutkan, dua dokter dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, yaitu drh Mahmudi dan drh Julius, juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap bangkai gajah itu.

“Dari keterangan dokter yang melakukan nekropsi, disimpulkan bahwa gajah betina tersebut mati diduga disebabkan memakan bahan yang mengandung racun. Kematian diperkirakan dua atau tiga hari,” terangnya.

Umur gajah diperkirakan enam sampai tujuh tahun. Dia menyimpulkan, dari hasil olah tempat kejadian, diduga gajah merusak gubuk petani yang di dalamnya terdapat pestisida. Lalu, gajah memakan atau meminum pupuk dan cairan pestisida yang ada di gubuk tersebut.

Baca juga: Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Sampang, Berprofesi sebagai ASN Guru SD “Hasil penyelidikan sementara kita tidak ada mengarah ke unsur sengaja membunuh gajah,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, seekor gajah betina ditemukan mati di kawasan pedalaman Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh. Gajah itu mati di area perkebunan milik petani.


Sumber asli dari Kompas : https://regional.kompas.com/read/2022/10/17/060207278/polisi-pastikan-gajah-mati-di-aceh-timur-karena-pestisida

Seekor Gajah Mati di Aceh Timur

ACEH TIMUR – Seekor gajah ditemukan mati di area perkebunan warga di Dusun Rukun Makmur, Gampong Sri Mulya, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, Sabtu (15/10). 

“Gajah tersebut berjenis kelamin betina,” kata Kapolsek Serbajadi Iptu Hendra Sukmana. 

Kapolsek menyebutkan, pihaknya dan personel Koramil 01/PNR, perangkat Gampong Srimulya serta petugas Forum Konservasi Leuser (FKL) telah mendatangi lokasi.

Tiba dilokasi, anggota Polsek langsung memasang garis polisi (police line) serta mengamankan TKP sambil menunggu tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Setelah tim BKSDA Aceh tiba dilokasi, kata Kapolsek, mereka langsung melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah tersebut untuk mengetahui penyebab kematiannya.

“Dari keterangan drh. Julius dan drh. Mahmudi yang melakukan nekropsi, gajah tersebut mati diduga memakan makanan yang mengandung racun dan diperkirakan telah mati sekitar tiga hari lalu,” ujarnya. 

Untuk kepentingan uji laboratorium, kata Kapolsek, tim dokter dari BKSDA telah mengambil beberapa organ tubuh dari gajah yang umurnya diperkirakan 6-7 tahun tersebut. 

Sekitar 150 meter dari bangkai gajah mati tersebut, kata Kapolsek, terdapat sebuah gubuk untuk menyimpan pupuk dan racun (pestisida) pemilik kebun.

“Dinding gubuk terbuat dari kayu papan, kondisinya rusak. Besar kemungkinan dirusak oleh gajah yang mati itu. Kemudian dengan menggunakan belalainya gajah itu memakan sebagian dari pupuk dan pestisida sehingga mengakibatkan kematian,” katanya. 


Sumber asli berita :

https://www.ajnn.net/news/seekor-gajah-mati-di-aceh-timur/index.html

Asa Untuk Gajah

#asauntukgajah

Jejamo Liman, Nyepidah

Jum’at, 12 Agustus 2022 merupakan tahun ke-sepuluh peringatan Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day) sejak ditetapkan oleh PBB pada tahun 2012 yang lalu. Hari Gajah Sedunia merupakan aksi kampanye masyarakat dunia untuk menyuarakan pelestarian gajah yang tengah menghadapi ambang kepunahan dari muka bumi. Ancaman yang semakin serius bagi keberlangsungan hidup populasi gajah di Afrika dan Asia, menjadi latar belakang peringatan Hari Gajah.

Sejatinya, Peringatan Gajah Sedunia semacam alarm untuk memberitahu dunia bahwa gajah merupakan salah satu satwa yang kini kondisinya semakin ‘kritis’ dan perlu dilindungi dari kepunahan. Status spesies gajah asia yang terancam punah, membuat IUCN mengganjarnya dengan status kritis (Critically Endangered) ini menandakan selangkah lagi gajah akan punah dari muka bumi, jika tidak ada upaya serius dalam menanganinya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, dan tentu saja kita setuju bahwa perlakuan manusialah yang menyebabkan spesies gajah ini terus berkurang dan habitat mereka terganggu.

Gajah adalah mamalia darat terbesar di bumi, makhluk sosial yang cerdas dan cinta damai. Gajah sumatera merupakan sub-spesies dari gajah asia yang cuma ada di Pulau Sumatera. Memiliki postur lebih kecil dari pada sub spesies gajah india. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang status keterancamannya tertinggi, yaitu kritis. Sebagian besar habitat gajah telah berganti menjadi wilayah perkebunan dan lahan pertanian. Hal ini mengakibatkan konflik gajah dengan manusia terus menerus terjadi dan seolah tidak pernah berhenti.

Entah seperti apa nasib spesies berbadan besar yang memiliki nama lokal ‘‘Liman’’ ini di masa yang akan datang. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) habitat Gajah di Indonesia terus mengalami penyusutan, dalam sepuluh tahun terakhir, dari 56 habitat Gajah yang ada, 11 habitat gajah dalam kondisi kritis, dua habitat dalam kondisi di ambang kritis, dan terdapat 13 habitat gajah yang telah hilang. Sementara data yang dihimpun oleh FKGI Gajah di Pulau Sumatera tercatat ada sekitar 1.700 individu gajah di alam. Penurunan populasi gajah di alam diakibatkan adanya fragmentasi hilangnya habitat alami gajah, pembunuhan serta perburuan bagian-bagian tubuh gajah, konflik sumber daya antara manusia dengan gajah. Lokakarya penggiat konservasi dari Forum Konservasi Gajah Indonesia bersama instansi pemerintah terkait, pada tahun 2014 merilis angka populasi gajah sumatera 1.742 individu. Jumlah ini turun dari angka populasi sebelumya pada tahun 2007 yakni 2.400 – 2.800 individu.

Populasi gajah sumatera khususnya yang berada di Provinsi Lampung, diyakini dari tahun ke tahun semakin berkurang jumlahnya. Tercatat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir dari tahun 2011 hingga 2022 sekarang, sedikitnya 30 ekor gajah sumatera ditemukan mati di seluruh wilayah TNWK dan TNBBS Lampung (sumber data dari catatan yang dikumpukan oleh FKGI). Dan kematian gajah-gajah tersebut diduga diburu dan dibunuh oleh manusia untuk diambil gadingnya, dan bagian giginya.

Di Sumatera umumnya gajah ada yang ditemukan mati dibunuh dengan senjata organik, diracun dan distrum. Yang lebih memprihatinkan lagi, dalam kasus kematian gajah di Provinsi Lampung hingga saat ini belum ada pelaku yang berhasil ditangkap ataupun yang diadili. Padahal gajah merupakan satwa yang cerdas dan cinta damai yang sudah menjadi ikon Provinsi Lampung, dan Lampung adalah Surganya Gajah Sumatera. Bahkan budaya Indonesia di beberapa daerah sangat menghormati keberadaan gajah.

Pembukaan lahan dan tindak pidana pemburu gading gajah yang membunuh hewan ini patut kita kecam. Akankah kita terus menunggu hingga kita menyaksikan kepunahan binatang terbesar di dunia ini? Akankah kita siap, menceritakan kenangan kepada anak cucu kita, mengenai sosok gajah yang pernah hidup di masa lalu? Satu hal yang pasti, saat ini kita masih bisa melihat gajah.

Harapannya, kita masih dapat melihatnya di masa mendatang jika kita dapat melestarikannya, serta memertahankan “ASA untuk GAJAH”. Dan hal itu hanya dapat kita capai dengan melindungi dan menyayangi gajah, agar mereka selalu bisa menjaga hutan demi keberlangsungan hidup manusia. Selamat Hari Gajah Sedunia tahun 2022.

* Renungan Hari Gajah Sedunia, 12 Agustus 2022

Usut Tuntas Kematian Gajah Sumatera di Areal Konsesi dan HGU

Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus kematian satwa liar dilindungi di areal konsesi. Perusahaan pemegang izin Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Guna Usaha (HGU) harus bertanggungjawab terhadap kehidupan satwa liar dilindungi yang berada di areal kerjanya.

“Banyak kasus kematian gajah dan juga harimau akhir-akhir ini terjadi di areal HGU dan HTI, seperti Aceh dan Riau. Pemerintah semestinya mendorong perusahaan untuk lebih serius dalam melindungi satwa liar. Kasus kematian gajah banyak terjadi berulang-ulang di konsesi yang sama,” ujar Donny Gunaryadi Ketua FKGI, Senin (30/05/22).

Seekor gajah betina yang tengah hamil tua tergelatak di ruas jalan konsesi PT Riau Abadi Lestari, (27/5/22). Foto : Rimba Satwa FoundationKondisi gajah sumatera baik jumlah populasi dan habitat terus tertekan. Intensitas konflik manusia dan gajah terus memanas serta perburuan gajah dengan motif perdagangan gading masih tinggi. Dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir, tercatat 44 ekor gajah sumatera mati, baik gajah liar dan gajah captive dengan berbagai sebab. Enam kasus kematian diantaranya terjadi di areal HTI dan HGU.

Kasus terakhir yang cukup mengenaskan adalah kematian seekor gajah betina yang tengah hamil tua di areal konsesi PT Riau Abadi Lestari (RAL), perusahaan pemasok bahan kertas Asia Pulp and Paper. Induk yang siap melahirkan ini diduga mati akibat racun, Rabu (25/5/22). Karyawan menemukan bangkai gajah yang tergeletak di tengah jalan di lokasi kebun yang tak jauh dari kebun sawit masyarakat.

“Kami mendorong aparat penegak hukum untuk berupaya maksimal sehingga pelaku dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” imbuh Donny.

Berita Duka

Ibu, Bapak, dan rekan-rekan sekalian,

Kita baru saja mendapat kabar duka mengenai terjadinya musibah kecelakaan lalu lintas yang menimpa 2 staf Direktorat KKH-KSDAE di KM 304 A Tol Pemalang dalam rangka perjalanan dinas menuju BKSDA Jawa Tengah pada Sabtu, 15 Agustus 2020 Pukul 02.30 WIB. Kecelakaan tersebut mengakibatkan 1 orang meninggal dan 2 orang dirawat. Sehubungan dengan hal tersebut, Pengurus FKGI memutuskan melakukan pengunduran pelaksanaan Kongres Nasional FKGI 2020 yang semula dijadwalkan pada Sabtu, 15 Agustus 2020, diundur menjadi Sabtu, 22 Agustus 2020. FKGI juga menyampaikan dukacita atas terjadinya musibah tersebut, semoga Almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan mereka yang dirawat segera diberikan kesehatan kembali.

Demikian informasi ini kami sampaikan, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.