Press Release : DEMONSTRASI DAN PENGRUSAKAN OLEH MASYARAKAT DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

Pada hari ini di Kantor Balai KSDA Jambi disampaikan siaran pers terkait  demonstrasi dan pengrusakan oleh warga terhadap kendaraan operasional milik BKSDA Jambi dan fasilitas milik FZS selaku mitra BKSDA Jambi sebagai berikut :  

  1. Menyikapi laporan masyarakat Muara Danau, Balai KSDA Jambi pada tanggal 20 s/d 26 Februari 2024 menugaskan tim yang terdiri dari petugas BKSDA Jambi (2 orang) bersama FZS (4 orang) untuk melakukan pemantauan dan penggiringan 3 ekor Gajah Sumatera yang dilaporkan merusak tanaman sawit masyarakat
  2. Setelah dicek dilapangan kebun-kebun masyarakat berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) penyangga TN Bukit Tigapuluh yang merupakan habitat daerah jelajah Gajah Sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh.
  3. Pada tanggal 21 Feb 2024, masyarakat Muara Danau mengadakan rapat dan mengundang tim pengiringan gajah dari BKSDA Jambi dan FZS, dimana pada pertemuan tersebut masyarakat meminta agar gajah tidak digiring tapi dipindahkan dari wilayah Desa Muara Danau.
  4. Pada tanggal 22 sd 25 Februari tim melakukan penggiringan 3 ekor gajah kearah utara Desa Muara Danau dan ketiga gajah tersebut sudah berada di kawasan Hutan Produksi (masih berhutan) setelah digiring melewati Kawasan Hutan Produksi yang telah ditanami sawit oleh masyarakat.
  5. Pada tanggal 23 Februari beredar issue bahwa terdapat 40 gajah sedang bergerak dari Desa Lubuk Mandarsah Kab. Tebo menuju ke Desa Muara Danau dan Kelurahan Lubuk Kambing, Kab. Tanjung Jabung Barat. Pada Tanggal 24 Februari tim melakukan verifikasi terkait info tersebut dimana hasilnya menunjukkan adanya pergerakan 15 ekor gajah yang berada di kawasan hutan produksi (Penyangga TN B30) di Desa Lubuk Mandarsah dan pergerakan gajah tidak mengarah ke Desa Muara Danau dan Kelurahan Lubuk Kambing tapi pergerakan gajah mengarah ke Dusun Brandan Desa Lubuk Mandarsah Kabupaten Tebo di Kawasan Hutan Produksi.
  6. Berlokasi di Mess FZS Simpang Burut, pada tanggal 25 Februari 2024 hari minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB, tiba-tiba ada sekitar 50-100 orang berdatangan dan melakukan demo menuntut jaminan dari BKSDA Jambi agar memindahkan gajah-gajah yang berada di Desa Muara Danau, Kelurahan Lubuk Kambing dan sekitarnya. Tidak berselang lama masyarakat yang sudah terprovokasi melakukan tindakan anarkis dengan cara merusak kendaraan operasional BKSDA Jambi (1 unit mobil lapangan, 2 unit sepeda motor), merusak dan melempari mess FZS yang berada di
  7. ……………… Selengkapnya unduh dokumen

Gajah Rusak Lahan Sawit Warga, Masyarakat Emosi Rusak Kantor BKSDA dan FZS Jambi

JAMBIAN.ID – Masyarakat rusak fasilitas kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Frankfurt Zoological Society (FZS) Jambi, warga kesal karena gajah masuk dalam lahan perkebunan.

Kerusakan terjadi pada Senin sekitar pukul 02.00 WIB, oleh masyarakat Desa Tanah Tumbuh, Desa Muara Danau dan Kelurahan Lubuk Kambing.

Kapolres Tanjung Jabung Barat AKBP Agung Basuki membenarkan peristiwa tersebut bahwa adanya masyarakat merusak fasilitas kantor BKSDA Jambi dan FZS di wilayah Kabupaten Tanjabbar.

“Benar adanya insiden, saat ini sudah ditangani, kita juga terus melakukan pengamanan,”katanya pada Selasa (27 Februari 2024). Menurut dia, untuk masyarakat yang merusak fasilitas kantor BKSDA Jambi dan FZS dikarenakan emosional terhadap kantor tersebut. “Jadi saat ditanyakan sama warga karena kebun masyarakat yang telah dirusak akibat Gajah liar yang memasuki perkebunan warga,”ujarnya.

Selain itu, karyawan BKSDA dan FZS Jambi sudah dilakukan evaluasi ke kantor Polsek Merlung, Kata Agung, korban jiwa tidak ada untuk anggota BKSDA dan FZS semua dalam keadaan aman dan baik,”jelasnya. Sedangkan untuk fasilitas kantor BKSDA dan FZS Jambi yang dirusak oleh masyarakat. “Masyarakat merusak kaca kantor, perabotan dan lainnya,”tegasnya. Sementara itu, Paur Penumpang Subbid Penmas Ipda Alamsyah Amir mengatakan itu sudah ditangani oleh pihak Polsek Merlung dan untuk kondisi karyawan FZS tidak ada yang terluka.

“Semua baik karena cepat di evakuasi saat karyawan FZS dan BKSDA Jambi,”katanya, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat pada Selasa (27 Februari 2024). Sedangkan untuk memicunya masyarakat merusak fasilitas kantor BKSDA dan FZS Jambi tersebut. “Diduga berawal dari maraknya gajah liar yang masuk perkebunan warga,”jelasnya. Semua anggota BKSDA dan FZS Jambi sudah dievakuasi ke kantor polisi terdekat.”Saat ini polisi lagi melakukan mediasi warga dengan BKSDA dan FZS agar masalah ini selesai,”tutupnya.***


Sumber Artikel berjudul “Gajah Rusak Lahan Sawit Warga, Masyarakat Emosi Rusak Kantor BKSDA dan FZS Jambi”, selengkapnya dengan link: https://jambi.pikiran-rakyat.com/kriminal/pr-3467766553/gajah-rusak-lahan-sawit-warga-masyarakat-emosi-rusak-kantor-bksda-dan-fzs-jambi?page=all

Editor: Hidayat


Seekor Anak Gajah Sumatera Lahir di Taman Nasional Way Kambas

KABAR gembira kembali terdengar dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK), setelah adanya keberhasilan kelahiran anak badak sumatera dan anak gajah pada tahun lalu, pada dini hari Senin, 26 Februari 2024, pukul 00.10 wib. telah lahir seekor bayi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dengan jenis kelamin betina di Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK.

“Semoga kelahiran ini akan memberi semangat baru dalam pelestarian satwa prioritas dan menambah populasi gajah sumatra di PLG-TNWK,” ungkap Plt. Kepala Balai TNWK, Hermawan dalam keterangan resmi, Selasa (27/2).

Ia menjelaskan, saat ini anak gajah betina yang baru lahir ini belum diberikan nama. Adapun, anak gajah betina ini lahir dengan berat badan 69 kg, tinggi bahu 72 cm, lingkar dada 98 cm, panjang badan 87 cm, panjang ekor 50 cm, lingkar tapak kaki depan 44 cm, lingkar tapak kaki belakang 44 cm dan kondisi anak dan induk sehat dan normal.

Kelahiran ini merupakan kelahiran keempat dari induk gajah Pleno, yang saat ini berusia 34 tahun.

“Saat ini induk gajah diberikan makanan tambahan berupa rumput dari ladang pakan, dan Vitamin via injeksi untuk memulihkan kondisi pasca melahirkan dan menambah kualitas air susunya,” beber dia.

Sesaat setelah melahirkan Tim Medis Rumah Sakit Gajah PLG – TNWK melakukan penanganan intensif terhadap anak dan induk gajah untuk memastikan keadaannya sehat. Pada induk gajah Pleno dilakukan pembersihan pada saluran reproduksi dengan menyemprotkan antiseptik dan pada anak gajah disemprotkan pada pusarnya, dalam pantaunya, beberapa jam kemudian anak gajah langsung bisa menyusu ke induknya dan nampak sehat.

“Dengan lahirnya anak gajah ini maka menambah populasi gajah yang ada di PLG,” pungkas Hermawan.


Sumber : https://mediaindonesia.com/humaniora/654807/seekor-anak-gajah-sumatera-lahir-di-taman-nasional-way-kambas
Putri Rosmalia


 

BKSDA: Gajah sumatra ditemukan mati tersengat listrik di Pidie Jaya

Banda Aceh (ANTARA) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menyebutkan satu gajah sumatra (elephas maximus sumatramus) ditemukan mati tersengat listrik di Kabupaten Pidie Jaya.

Kepala BKSDA Aceh Gunawan Alza di Banda Aceh, Sabtu, mengatakan gajah mati tersebut ditemukan masuk wilayah Panton Limeng, Desa Aki Neungoh, Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.

“Gajah mati tersebut berkelamin jantan. Bangkai satwa dilindungi tersebut ditemukan Selasa (20/2). Lokasi kematian gajah berada di areal penggunaan lain atau APL. Hasil pemeriksaan, gajah tersebut mati karena tersengat listrik,” kata Gunawan Alza.

Setelah memastikan informasi tersebut, kemudian tim BKSDA berkoordinasi dengan kepolisian sektor setempat. BKSDA juga memberangkatkan tim dokter hewan bersama mitra untuk memastikan penyebab kematian gajah liar tersebut.

Gunawan mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan di sekitar lokasi kematian gajah terdapat pagar listrik. Pagar tersebut mengelilingi kebun masyarakat yang diduga menjadi penyebab kematian gajah tersebut.

Sedangkan hasil pemeriksaan tim dokter hewan, kata Gunawan, kondisi bangkai gajah sudah mengalami pembusukan organ. Usia gajah diperkirakan 13 tahun.

“Terdapat kawat setrum yang terlilit pada kaki kanan depan dan sebagian terlilit di tubuh gajah. Terdapat gading dengan panjang 77 hingga 78 meter dengan diameter 17 hingga 27 sentimeter,” katanya.

Gunawan mengatakan hasil nekropsi atau bedah tubuh secara kasat mata bahwa kematian gajah karena tersengat listrik. Sedangkan organ tubuh seperti limpa, paru, ginjal, dan lainnya sudah mengalami pembusukan, sehingga tidak bisa diperiksa di laboratorium.

“Pada organ pencernaan dan lambung gajah, tidak ditemukan benda-benda asing berupa racun. Tim BKSDA terus berkoordinasi dengan kepolisian terkait tindak lanjut kematian gajah tersebut,” kata Gunawan Alza.

Merujuk pada daftar dari The IUCN Red List of Threatened Species, gajah sumatra hanya ditemukan di Pulau Sumatra ini berstatus spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

BKSDA Aceh mengimbau masyarakat agar bersama-sama menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar gajah sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa, serta tidak menangkap, melukai, dan membunuhnya.

Selain itu, juga tidak menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian.

“Semua perbuatan terhadap satwa liar dilindungi tersebut yang dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Gunawan Alza.


Sumber: https://www.antaranews.com/berita/3981120/bksda-gajah-sumatra-ditemukan-mati-tersengat-listrik-di-pidie-jaya
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024


 

Ribuan Warganet Dukung Petisi Pengusutan Kematian Gajah Rahman

TEMPO.COJakarta – Sejumlah warganet menggalang petisi untuk mendesak pengusutan tuntas kasus Rahman, gajah patroli binaan Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau, yang diduga mati diracun pada 10 Januari lalu. Diterbitkan di change.org oleh akun @For GajahRahman, petisi itu ditujukan kepada Kepolisian Daerah Riau yang sedang menyelidiki kejadian tersebut, juga untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Hingga artikel ini ditulis, sudah ada 3.735 tanda tangan digital yang terkumpul untuk petisi itu tersebut, dari target 5.000 dukungan.

Rahman merupakan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan di Pulau Gadang pada 1995. Hewan ini dilatih untuk memitigasi konflik satwa TNTN, Kabupaten Pelalawan, seluas 83 ribu hektare. Tim taman nasional itu secara rutin berpatroli menggunakan gajah, berjalan kaki atau kendaraan bermotor untuk mengantisipasi masuknya gajah liar ke perkebunan sawit atau karet masyarakat.

Sebelum akhirnya tidak bisa diselamatkan, Rahman ditemukan terbaring lemas. Belakangan petugas pun menemukan serpihan serbuk berwarna hitam di organ pencernaan Rahman. Dugaannya, gajah itu diracun untuk diambil gadingnya.

Inisiator For Gajah Rahman, Fitriani Dwi Kurniasari, menyatakan Gajah Sumatera termasuk satwa kunci yang statusnya sudah menuju kepunahan, padahal berperan penting dalam keseimbangan ekosistem manusia. “Mari kita tunjukkan peran kita untuk menjaga mereka, meski sekecil apapun sangat berarti,” katanya melalui keterangan tertulis, Rabu, 31 Januari 2024.

Menurut dia, kasus gajah patroli yang mati diracun ini bukan kali pertama. Di Riau, hal serupa pernah terjadi di Pusat Latihan Gajah Minas pada Mei 2009. Saat itu ada dua ekor gajah yang mati, dan pelakunya tidak sempat membawa kabur dua pasang gading.

Kejadian serupa pernah terjadi juga di Aceh dan Lampung,” ujar Fitriani. “Ini bahkan belum termasuk kasus-kasus gajah liar lainnya yang pelakunya tidak terungkap.”

Pentingnya Fatwa Pelestarian Satwa

Keprihatinan yang sama pun datang dari Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH-SDA MUI) Riau. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam MUI Riau, Abdurrahman Qoharuddin, mengaku punya kedekatan tersendiri dengan Rahman. Dia pun terlibat dalam penyusunan Fatwa nomor 4 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem yang dikeluarkan MUI pada 2014.

“Namanya sama pula dengan nama saya yang bermakna baik dan (Gajah Rahman) memang baik sudah banyak membantu manusia,” katanya.

Tiga pekan pasca kematian Rahman, penyeldikan polisi masih berlanjut. Kapolres Pelalawan, Ajun Komisaris Besar Polisi, Suwinto, mengatakan unitnya dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau sudah menjalankan serangkaian pemeriksaan. “Kami dari Polres Pelalawan hanya mendampingi saja,” kata Suwinto saat dihubungi Tempo, Senin 29 Januari 2024.

IRSYAN HASYIM


Sumber : https://tekno.tempo.co/read/1828140/ribuan-warganet-dukung-petisi-pengusutan-kematian-gajah-rahman

Sadis! Gajah Latih Rahman di TNTN Mati Diracun, Gading Hilang

Pekanbaru -Dunia konservasi kembali berduka. Seekor gajah latih di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) bernama Rahman mati dibunuh serta gadingnya hilang.

Matinya gajah berusia 46 tahun itu pertama diketahui pawang atau mahout bernama Jumadi pada Rabu (10/1) pukul 08.30 WIB. Saat itu Jumadi selaku penanggung jawab gajah Rahman seperti rutinitas biasanya bermaksud mau memindahkan ikatan gajah Rahman.

“Saat saudara Jumadi memanggil-manggil gajah Rahman dengan membawakan buah tak ada respon. Tak seperti biasanya,” kata Kepala TNTN, Heru Sutmantoro saat dikonfirmasi, Kamis (11/1/2024).

Setelah didekati, ditemukan gajah Rahman sudah dalam kondisi tergeletak lemas. Bahkan gading sebelah kiri sudah terpotong dan hilang.

Jumadi lalu melaporkan kejadian tersebut kepada koordinator mahout, Ruswanto. Selanjutnya laporan diteruskan ke SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga.

“Di sekitar TKP tidak ditemukan barang -barang yang diduga digunakan pemburu untuk melumpuhkan gajah Rahman. Melihat kondisi gajah Rahman, diduga kuat gajah tersebut diracun terlebih dahulu sebelum dipotong gadingnya,” kata Heru.

Selanjutnya petugas dan dokter hewan ke lokasi untuk penanganan. Petugas turut memberikan obat pencahat melalui mulut pakai selang.

“Sekitar pukul 15.55 WIB gajah Rahman meninggal. Lalu sekitar pukul 22.30 WIB, tim dokter hewan dari BBKSDA Riau tiba di lokasi gajah mati dan langsung melakukan tindakan nekropsi,” katanya.

“Diagnosa penyebab kematian gajah diduga karena keracunan. Kegiatan nekropsi selasai pukul 02.00 WIB dini hari tadi dan gajah akhirnya dikubur,” kata Heru lagi.


Sumber : https://www.detik.com/sumut/berita/d-7135894/sadis-gajah-latih-rahman-di-tntn-mati-diracun-gading-hilang

Kematian Gajah Sumatera di Merangin Telah Diperiksa BKSDA Jambi, Ternyata Ini Penyebab Kematian

Laporan Wartawan Tribun Jambi Hasbi Sabirin

TRIBUNJAMBI.COM,BANGKO-Kematian gajah Sumatra yang ditemukan oleh warga Desa Telantam, di pinggir sungai Batang Tabir, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin sudah diperiksa oleh pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

Pemeriksaan kematian gajah sumatera itu dilakukan pada hari Sabtu (6/1/24) sekira pukul 12.20 WIB.

Kapolsek Tabir Barat, Iptu Deni Seapudin saat dikonfirmasi membenarkan hal itu, dirinya turut kelokasi kematian gajah Sumatera di Desa Telentam Kecamatan Tabir Barat bersama tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

Dari kegiatan pemeriksaan kematian gajah Sumatera di Desa Telentam Kecamatan Tabir Barat oleh tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi tersebut diperoleh informasi sebagai berikut.

“Gajah tersebut diperkirakan telah mati selama 7 hari.Gajah tersebut berjenis kelamin jantan. Penyebab kematian dikarenakan gajah kelelahan selama terbawa arus banjir di sungai Batang Tabir,” kata Iptu Deni Seapudin Sabtu (6/1/2024).

Ia juga menyebut, kondisi organ gajah telah membusuk dan dimakan belatung, kemudian bagian luar gading gajah telah hilang, gading kanan patah dikarenakan benturan benda keras sementara gading kiri dipotong oleh orang yang belum diketahui identitasnya.

“Sementara sisa gading yang tertinggal diambil dan diamankan oleh tim dari BKSDA Jambi dengan panjang masing-masing kurang lebih 30 cm,” tutupnya.

(Tribun Jambi.com/ Hasbi Sabirin)

Mati Di Jalur Gergaji; Habitat bertuan tak berhutan, langka mundur konservasi Gajah Seblat.

Press Release, 6 Januari 2023

Satu ekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar ditemukan mati sekitar pukul 11.47 WIB, tanggal 31 Desember 2023. Dengan posisi tertelungkup, gajah ini ditemukan di sekitar koordinat   2°50’2.09″S – 101°39’31.07″E tak jauh dari jalan logging. 

Lokasinya berada dalam  kawasan Hutan Produksi Terbatas Air Ipuh.1 register 65, sekitar 3,5 kilometer dari batas Taman Nasional Kerinci Seblat, di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Perlu dicermati, bahwa kawasan hutan negara yang menjadi habitat gajah ini telah dibebani Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) atas nama PT Bentara Arga Timber (BAT). Melalui Surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor  SK.529 tahun 2021 dengan luas konsesi  22.020 hektar. Jenis usaha pemanfaatan hutan untuk kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam.

Secara spesifik dari total luasan konsesi PT BAT, wilayah yang  masih dapat disebut hutan hanya 13.968,50 hektar, sisanya sudah habis dikonversi menjadi belukar dan kebun sawit.  Konsorsium Bentang Alam Seblat  mencatat setidaknya ada ratusan  titik sebaran kebun sawit dengan total luas lebih dari 4.566,34  hektar dalam konsesi yang pada tahun 2021 lalu juga ditemukan bangkai gajah.

Berdasarkan analisis Konsorsium Bentang Alam Seblat (KBS) periode 2023, dari 80.978 hektare total luas kawasan Bentang Alam Seblat, tutupan hutannya hanya sebesar 49,7 ribu hektar (61,5%), dan sisanya 31,1 ribu hektar (38,5%) tidak berhutan.

Egi Saputra Direktur Eksekutif Genesis, menyebutkan, bahwa wilayah gajah mati yang hilang caling tersebut berada di areal  RKT (Rencana Kerja Tahunan) PT BAT. Gajah tersebut diperkirakan terdesak akibat maraknya perambahan dan penebangan. Hal ini dibuktikan dengan  lokasi temuan gajah mati tersebut tidak berada di jalur konektivitas.

Sementara Ali Akbar Ketua Kanopi Hijau Indonesia sekaligus Penanggungjawab Konsorsium Bentang Seblat menyatakan,  kondisi tutupan lahan di Bentang Alam Seblat ini menunjukkan tidak seriusnya pemerintah dan pihak perusahaan dalam mengamankan kawasan hutan. Hal  itu dibuktikan dengan tingginya aktivitas perambahan dan penguasaan hutan di Bentang Alam Seblat.

Di Bentang Alam Seblat, lahan tak berhutan itu didominasi oleh perkebunan sawit seluas 15 ribu hektare (48,1%), kemudian semak belukar 7,9 ribu hektar (25,6%), perkebunan perusahaan 5,4 ribu hektar (17,5%), dan lahan terbuka 2 ribu hektare (6,6%).

Dilihat dari data analisis periode 2020-2023,  tutupan hutan Bentang Alam Seblat telah hilang seluas 8,8 ribu hekare.  Tutupan lahan sekunder menjadi yang paling besar, seluas 8,8 ribu hektar. Di mana 5,6 ribu hektar (64,5%) dirambah menjadi lahan pertanian sawit kata Ali

Atas kejadian ini, KBS menyatakan bahwa negara harus membuka informasi secara lengkap atas kondisi hutan dan segera melakukan penindakan terhadap kejahatan satwa gajah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) harus melakukan tindakan untuk memastikan tidak terjadi lagi kematian gajah non alami, apalagi kematian gajah yang sekarang terindikasi dibunuh. Pada tengkorak bangkai gajah terdapat lubang, diduga akibat tembakan peluru senjata api. Lubang sebesar kurang lebih 1,5 cm itu tembus dari bagian bawah rahang sampai ke os frontalis (tengkorak bagian depan atau dahi).********

 


Kontak Media:

  1. Ali Akbar / Ketua Kanopi Hijau Indonesia;  email:  [email protected]  
  1. Egi Saputra / Direktur Eksekutif Genesis Bengkulu;email: [email protected]   
  1. Alamat: Jalan Sedap Malam 2 No. 17 Nusa Indah, Ratu Agung, Kota Bengkulu. Bengkulu.

Gajah Tak Dikenal Dilaporkan Mati di Bentang Alam Seblat

Menurut Said, lokasi temuan gajah mati yang dilaporkan PT BAT lokasinya cukup jauh, yakni di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Air Ipuh 1, cukup dekat dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Diperkirakan informasi dari lapangan baru bisa ia dapatkan esok hari.

“Ada atau tidak ada bangkai gajah yang dilaporkan baru besok (hari ini) infonya. Saya menunggu info selanjutnya dari lapangan,” katanya.

Karena belum menemukan bangkai gajah itu, kata Said, ia belum mengetahui jenis kelamin, usia, maupun dugaan penyebab kematian gajah malang tersebut. Said memperkirakan, akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengetahui penyebab kematian gajah ini. Sebab untuk mengetahui penyebab gajah mati ini harus dilakukan melalui uji laboratorium.

Soal populasi gajah di Bentang Alam Seblat, Said mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlahnya. Karena belum ada survei terbaru, dan dirinya tidak berani memperkirakan jumlahnya tanpa data.

Said menuturkan, gajah yang dilaporkan mati tersebut belum dipasangi Global Positioning System (GPS) Collar, sehingga tidak terpantau pergerakannya. Ia menyebut, gajah di Bentang Alam Seblat yang sudah dipasangi GPS Collar hanya gajah yang berada di Hutan Produksi Air Rami. Namun gajah tersebut juga sudah mati.

“Sekarang gajah di Bentang Alam Seblat tidak ada yang terpasang GPS Collar saat ini,” ucap Said.

Bentang Alam Seblat sudah tak sehat bagi gajah

Dihubungi terpisah, Direktur Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar mengatakan, Bentang Alam Seblat, sebagai habitat tersisa gajah sumatera di Bengkulu, kondisinya kini sudah tidak aman lagi. Sehingga, potensi ancaman terhadap kehidupan gajah di sana juga cukup besar.

“Intinya, habitat gajah di Bentang Alam Seblat memang sudah tidak sehat (bagi gajah) dan rawan gangguan, akibat banyaknya perambahan,” kata Ali, Selasa (2/1/2024).

Ali menjelaskan, kawasan hutan yang menjadi lokasi temuan gajah mati di konsesi PT BAT sudah compang-camping, akibat banyaknya perambahan yang sudah terjadi. Perambahan ini, menurut Ali, terjadi karena PT BAT sempat lama tidak beraktivitas dan membuat kawasan hutan tersebut tidak terkelola, termasuk pengamanannya.

“Dulu mereka (PT BAT) pernah beraktivitas di sana, tapi entah kenapa mereka berhenti, lalu beberapa tahun terakhir mereka beraktivitas lagi. Setelah ditinggal, wilayah ini seperti tak bertuan dan kebun merajalela, bahkan ketika PT BAT kembali beraktivitas, wilayah ini tetap menjadi tempat orang-orang berkebun,” katanya.

Ali berpendapat, PT BAT tampak tak mampu mengatasi perambahan yang terjadi. Meski pernah membuat perjanjian kerja sama (PKS) dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) setempat untuk pengamanan kawasan, namun perambahan tetap terjadi. Padahal, berdasarkan aturan, PT BAT punya tanggung jawab mengamankan wilayah mereka dari ancaman kerusakan.

“Intinya PT BAT tak sanggup mengamankan kawasan ini. Sementara KPHP enggak kuat dan DLHK enggak mampu menegakan aturan,” ujar Ali.

Ali menyarankan agar pemerintah menghentikan segala aktivitas yang menyebabkan kerusakan dan ancaman terhadap gajah di Bentang Alam Seblat, sekaligus melakukan evaluasi terhadap semua izin usaha yang telah diterbitkan, termasuk melakukan tindakan terhadap para perusak lingkungan.

“Para pemegang izin yang tak mau atau tak mampu menjalankan tanggung jawabnya wajib dicabut izinnya. Kemudian petugas negara yang enggak sanggup bekerja dengan baik, wajib disingkirkan,” ujarnya.


sumber : https://betahita.id/news/detail/9707/gajah-tak-dikenal-dilaporkan-mati-di-bentang-alam-seblat.html?v=1704238758

Gajah Sumatera Mati di Sungai Mas Aceh Barat, BKSDA Telusuri Penyebab Kematian

TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Gunawan Alza mengatakan timnya sudah turun ke lapangan untuk menyelidiki penyebab kematian gajah di Sungai Mas Kabupaten Aceh Barat.

“Kami sudah siapkan tim bersama dokter hewan untuk mengecek dan baru kemarin sore meluncur ke lokasi,” kata Gunawan Alza, di Banda Aceh, Rabu, 20 Desember 2023.

Sebelumnya, anak gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) berjenis kelamin betina ditemukan mati oleh warga di bantaran Sungai Krueng Lancong, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat, Selasa 19 Desember lalu.

Anak gajah yang diperkirakan berusia lima tahun itu ditemukan dalam kondisi tergeletak di pinggir sungai. Diduga kematiannya sudah lama. Di tubuh gajah itu, kulit pada bagian belalai, kedua kaki depan, hingga tubuh terlihat terkelupas.

Gunawan mengaku belum mengetahui pasti kronologi kematian satwa dilindungi tersebut. Dirinya masih menunggu laporan dari tim yang ke lokasi. “Untuk kronologinya kami sedang menunggu laporan dari tim yang ke lokasi,” ujarnya.

Interaksi negatif manusia dan gajah Sumatera dalam catatan BKSDA makin masif mencapai 583 kejadian dalam lima tahun terakhir, adapun sepanjang Januari-Oktober 2023 jumlahnya tercatat sebanyak 85 kejadian.


Baca selengkapnya di https://tekno.tempo.co/read/1812075/gajah-sumatera-mati-di-sungai-mas-aceh-barat-bksda-telusuri-penyebab-kematian