<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Konservasi Gajah Indonesia</title>
	<atom:link href="https://gajah.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://gajah.id/</link>
	<description>Untuk memaksimalkan kegiatan konservasi gajah di Indonesia, beberapa lembaga dan individu yang peduli terhadap konservasi gajah sepakat untuk membentuk Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI).</description>
	<lastBuildDate>Thu, 13 Aug 2026 06:47:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://gajah.id/wp-content/uploads/2021/06/cropped-logo-gajah-32x32.png</url>
	<title>Forum Konservasi Gajah Indonesia</title>
	<link>https://gajah.id/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hari Gajah Sedunia, FKGI dan Gappeta Borneo Gaungkan Konservasi Gajah Kalimantan</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/hari-gajah-sedunia-fkgi-dan-gappeta-borneo-gaungkan-konservasi-gajah-kalimantan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 06:47:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1470</guid>

					<description><![CDATA[<p>RRI.CO.ID, Nunukan: Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) bekerjasama Gabungan Pemuda Pecinta Alam Borneo (Gappeta Borneo) Nunukan menggaungkan konservasi gajah Kalimantan melalui sosialisasi dan edukasi kepada siswa di SMA Negeri 1 Nunukan Selatan. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia 2026 tersebut menjadi upaya meningkatkan pemahaman dan partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlangsungan populasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/hari-gajah-sedunia-fkgi-dan-gappeta-borneo-gaungkan-konservasi-gajah-kalimantan/">Hari Gajah Sedunia, FKGI dan Gappeta Borneo Gaungkan Konservasi Gajah Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RRI.CO.ID, Nunukan: Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) bekerjasama Gabungan Pemuda Pecinta Alam Borneo (Gappeta Borneo) Nunukan menggaungkan konservasi gajah Kalimantan melalui sosialisasi dan edukasi kepada siswa di SMA Negeri 1 Nunukan Selatan. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia 2026 tersebut menjadi upaya meningkatkan pemahaman dan partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlangsungan populasi gajah yang masih tersisa di Kalimantan, khususnya Kabupaten Nunukan.</p>
<p>Perwakilan FKGI, Alfred, mengatakan sosialisasi kepada siswa SMA Negeri 1 Nunukan Selatan difokuskan pada cara dan pentingnya menjaga ruang hidup gajah Kalimantan. Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat luas.</p>
<p>Ia menjelaskan, generasi muda memiliki ruang yang luas untuk mengampanyekan pentingnya perlindungan gajah melalui media sosial. Pesan tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat lebih luas sekaligus mendorong kepedulian terhadap kelestarian gajah Kalimantan.</p>
<p>“Generasi muda saat ini aktif bermedia sosial sehingga dapat menyampaikan pesan penyelamatan gajah, terutama habitatnya,” ujar Alfred, Kamis (13/8/2026).</p>
<p>Lebih lanjut, ia mengatakan Gajah Kalimantan merupakan salah satu satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya juga menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati yang perlu dijaga bersama melalui perlindungan habitat dan penguatan upaya konservasi.</p>
<p>“Gajah Kalimantan merupakan aset Nunukan yang harus terus digaungkan untuk dijaga dan dilindungi kelestariannya,” ucapnya.</p>
<p>Ia menambahkan, tema “Ruang untuk Gajah, Ruang untuk Kehidupan”, yang diusung tahun ini menjadi pengingat untuk memastikan gajah tetap memiliki ruang hidup yang aman untuk dilestarikan. Karena itu, dukungan berbagai pihak, termasuk generasi muda menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya konversi Gajah Kalimantan yang terancam punah.</p>
<hr>
<p>Sumber : <a href="https://rri.co.id/nunukan/regional/2648634/hari-gajah-sedunia-fkgi-dan-gappeta-borneo-gaungkan-konservasi-gajah-kalimantan">https://rri.co.id/nunukan/regional/2648634/hari-gajah-sedunia-fkgi-dan-gappeta-borneo-gaungkan-konservasi-gajah-kalimantan</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/hari-gajah-sedunia-fkgi-dan-gappeta-borneo-gaungkan-konservasi-gajah-kalimantan/">Hari Gajah Sedunia, FKGI dan Gappeta Borneo Gaungkan Konservasi Gajah Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kabar Duka dari PLG Minas: Gajah Binaan &#8220;Jovi&#8221; Tutup Usia Setelah 34 Hari Perawatan Intensif</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/kabar-duka-dari-plg-minas-gajah-binaan-jovi-tutup-usia-setelah-34-hari-perawatan-intensif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 06:46:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1467</guid>

					<description><![CDATA[<p>SIARAN PERS Nomor: SP. 367/HKLN/08/2026 Pekanbaru, 4 Agustus 2026. Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Gajah binaan di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, &#8220;Jovi&#8221; (46 tahun), dinyatakan mati pada Senin (3/8) pukul 20.47 WIB setelah tim dokter hewan Balai Besar KSDA Riau berjuang secara intensif memberikan perawatan medis selama 34 hari. Gajah jantan dewasa yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/kabar-duka-dari-plg-minas-gajah-binaan-jovi-tutup-usia-setelah-34-hari-perawatan-intensif/">Kabar Duka dari PLG Minas: Gajah Binaan &#8220;Jovi&#8221; Tutup Usia Setelah 34 Hari Perawatan Intensif</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SIARAN PERS<br />
Nomor: SP. 367/HKLN/08/2026</p>
<p>Pekanbaru, 4 Agustus 2026. Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Gajah binaan di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Minas, &#8220;Jovi&#8221; (46 tahun), dinyatakan mati pada Senin (3/8) pukul 20.47 WIB setelah tim dokter hewan Balai Besar KSDA Riau berjuang secara intensif memberikan perawatan medis selama 34 hari. Gajah jantan dewasa yang telah berjasa besar membantu penanganan berbagai konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Riau tersebut menghembuskan napas terakhir akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat (myopathy).</p>
<p>Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Ujang Holisudin, menjelaskan bahwa gejala sakit mulai terlihat pada 1 Juli 2026. Saat itu Gajah Jovi menunjukkan kondisi kelemahan umum, tidak nafsu makan, tremor (kejang), kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta mengalami kesulitan untuk berdiri. Sejak awal munculnya gejala, tim medis BBKSDA Riau segera melakukan penanganan secara intensif sesuai standar operasional dan prosedur (SOP) pelayanan kesehatan satwa. Tindakan medis yang diberikan meliputi terapi cairan infus selama 24 jam, pemberian vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium secara berkala.</p>
<p>Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, menjelaskan bahwa selama masa perawatan kondisi Gajah Jovi sempat menunjukkan perkembangan. Kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor mulai berkurang, nafsu makan perlahan membaik, bahkan pada hari keenam perawatan gajah sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Hasil pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan secara berkala juga menunjukkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah mendapatkan terapi.</p>
<p>Meskipun respons terhadap pengobatan sempat terlihat, kondisi otot Gajah Jovi terus mengalami penurunan hingga berkembang menjadi myopati berat, yaitu gangguan pada jaringan otot yang menyebabkan gajah kembali tidak mampu berdiri. Selama menjalani perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairan terus dipenuhi melalui pemberian pakan khusus serta terapi infus intensif.</p>
<p>Dalam menangani kasus ini, BBKSDA Riau tidak bekerja sendiri. Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan mengoordinasikan diskusi dan konsultasi teknis bersama dokter hewan dari berbagai unit lingkup Kementerian Kehutanan guna memperoleh masukan dan pertimbangan medis terbaik dalam penanganan Gajah Jovi.</p>
<p>Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium darah, serta gejala yang muncul selama masa perawatan, tim medis menduga Gajah Jovi mengalami komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan bagian atas yang berkembang hingga menyebabkan myopati berat. Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, setelah Gajah Jovi dinyatakan mati, tim medis segera melakukan nekropsi serta pengambilan sampel organ dan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.</p>
<p>Pada Minggu, 2 Agustus 2026, kondisi Gajah Jovi mulai mengalami penurunan yang signifikan. Gajah tidak lagi mau makan maupun minum sehingga terapi intensif terus dilakukan. Pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuh meningkat hingga mencapai sekitar 40°C. Tim medis terus memberikan terapi cairan melalui infus, pemberian cairan secara oral maupun rektal, serta tindakan suportif lainnya. Namun pada pukul 20.43 WIB Gajah Jovi mengalami tremor hebat, dan pada pukul 20.47 WIB dinyatakan mati. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, jenazah Gajah Jovi dimakamkan sesuai prosedur yang berlaku.</p>
<p>Gajah Jovi merupakan gajah jinak jantan berusia sekitar 46 tahun yang berasal dari Kabupaten Indragiri Hulu dan bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998. Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi salah satu gajah binaan yang berperan penting dalam berbagai operasi mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di berbagai wilayah Provinsi Riau. Kontribusinya dalam mendukung upaya konservasi gajah Sumatera menjadi bagian penting dari sejarah pengelolaan konflik satwa liar di Riau.</p>
<p>BBKSDA Riau menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah bekerja tanpa mengenal waktu selama proses perawatan Gajah Jovi. BBKSDA Riau juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian gajah Sumatera yang saat ini masih menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya. Upaya konservasi hanya dapat berhasil melalui kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga habitat, mengurangi konflik manusia dan satwa liar, serta mendukung berbagai program perlindungan dan penyelamatan gajah di Indonesia.</p>
<hr>
<p>Informasi lebih lanjut:<br />
Plh. Kepala Balai Besar KSDA Riau<br />
Ujang Holisudin &#8211; 085366466349</p>
<p>Penanggung jawab berita:<br />
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,<br />
Ristianto Pribadi</p>
<p>Website:&nbsp;<a href="http://www.kehutanan.go.id/">www.kehutanan.go.id</a><br />
Youtube: Kementerian Kehutanan<br />
Facebook: Kementerian Kehutanan<br />
Instagram: Kemenhut<br />
Twitter/X: @kemenhut_ri</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/kabar-duka-dari-plg-minas-gajah-binaan-jovi-tutup-usia-setelah-34-hari-perawatan-intensif/">Kabar Duka dari PLG Minas: Gajah Binaan &#8220;Jovi&#8221; Tutup Usia Setelah 34 Hari Perawatan Intensif</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kematian Gajah Yuna, BKSDA Aceh Perkuat Deteksi Dini Serangan Virus EEHV pada Gajah Anakan</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/kematian-gajah-yuna-bksda-aceh-perkuat-deteksi-dini-serangan-virus-eehv-pada-gajah-anakan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 06:45:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1465</guid>

					<description><![CDATA[<p>SIARAN PERS Nomor: SP. 399/HKLN/08/2026 Banda Aceh, 12 Agustus 2026. Kabar duka mendalam menyelimuti Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh. Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun dari induk Gajah Suci, dinyatakan menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (11/8/2026) malam. Berdasarkan diagnosa awal medis, peristiwa berpulangnya Yuna diduga kuat akibat serangan&#160;Elephant Endotheliotropic Herpesvirus&#160;(EEHV), jenis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/kematian-gajah-yuna-bksda-aceh-perkuat-deteksi-dini-serangan-virus-eehv-pada-gajah-anakan/">Kematian Gajah Yuna, BKSDA Aceh Perkuat Deteksi Dini Serangan Virus EEHV pada Gajah Anakan</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SIARAN PERS<br />
Nomor: SP. 399/HKLN/08/2026</p>
<p>Banda Aceh, 12 Agustus 2026. Kabar duka mendalam menyelimuti Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh. Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun dari induk Gajah Suci, dinyatakan menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (11/8/2026) malam. Berdasarkan diagnosa awal medis, peristiwa berpulangnya Yuna diduga kuat akibat serangan&nbsp;<em>Elephant Endotheliotropic Herpesvirus</em>&nbsp;(EEHV), jenis virus mematikan yang sangat rentan menyerang anak gajah.</p>
<p>Kondisi kesehatan Yuna memburuk dalam waktu yang sangat cepat. Pada Selasa pagi hingga siang hari, Yuna masih terpantau aktif beraktivitas seperti biasa. Kondisi tidak biasa baru terlihat pada pukul 16.00 WIB ketika&nbsp;<em>mahout</em>&nbsp;(pawang gajah) mendapati Yuna dalam keadaan lemas, mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat membiru.</p>
<p>Tim dokter hewan BKSDA Aceh dibantu&nbsp;<em>mahout</em>&nbsp;segera memberikan tindakan medis darurat berupa pemberian cairan infus dan multivitamin. Namun, kondisi kesehatan Yuna terus menurun secara drastis hingga terjatuh lemas dan nyawanya tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB. Tim medis kemudian langsung melakukan prosedur nekropsi hingga proses pemakaman selesai pada pukul 00.30 WIB dini hari.</p>
<p>Sebelum kejadian, kondisi kesehatan Yuna berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi berkala per tiga bulan. Hasil pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026 menunjukkan Yuna dalam keadaan sehat dengan nilai&nbsp;<em>Body Condition Index Score</em>&nbsp;(BCIS) 5,5 (skala ideal gajah jinak 5–7). Dalam dua hari sebelum peristiwa duka ini pun tidak ditemukan indikasi gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik.</p>
<p>Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan bahwa gajah-gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, CRU Peusangan, maupun CRU Trumon selalu mendapatkan pemeriksaan rutin harian dan&nbsp;<em>general check-up</em>&nbsp;berkala.</p>
<p>“Kondisi Yuna&nbsp;<em>drop</em>&nbsp;sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah. Secara makroskopis, gejalanya terlihat dari pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan, serta perubahan mikroskopis berupa pendarahan (hemoragik) pada organ pencernaan dalam. Untuk mempertegas penyebab pasti berpulangnya Yuna, kami telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut,” terangnya.</p>
<p><em>Elephant Endotheliotropic Herpesvirus</em>&nbsp;(EEHV) merupakan virus herpes khusus yang menginfeksi gajah, terutama anak gajah berumur di bawah 14 tahun. Virus ini merusak lapisan dalam pembuluh darah (<em>endothelium</em>), menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam yang memicu syok fatal serta kematian mendadak dalam kurun waktu 24–48 jam, dengan tingkat kematian mencapai 80%. Penularan EEHV dapat terjadi melalui sekresi belalai, air liur, maupun feses. Kasus serupa pernah menginfeksi anak gajah Intan (4 tahun 3 bulan) di CRU Trumon, Aceh Selatan, pada tahun 2021 lalu.</p>
<p>Sebagai langkah antisipasi cepat, BKSDA Aceh memperketat pemantauan dan deteksi dini terhadap gajah-gajah anakan lainnya.</p>
<p>“Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun, khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut,” pungkas Ujang.</p>
<hr>
<p>Informasi lebih lanjut:<br />
Kepala BKSDA Aceh,<br />
Ujang Wisnu Barata (0852-0780-4307)</p>
<p>Penanggung Jawab Berita:<br />
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan<br />
Ristianto Pribadi</p>
<p>Website:&nbsp;<a href="http://www.kehutanan.go.id/">www.kehutanan.go.id</a><br />
Youtube: Kementerian Kehutanan<br />
Facebook: Kementerian Kehutanan<br />
Instagram: Kemenhut<br />
Twitter/X: @kemenhut_ri</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/kematian-gajah-yuna-bksda-aceh-perkuat-deteksi-dini-serangan-virus-eehv-pada-gajah-anakan/">Kematian Gajah Yuna, BKSDA Aceh Perkuat Deteksi Dini Serangan Virus EEHV pada Gajah Anakan</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gajah Liar Ditemukan Mati di Areal Perkebunan Aceh Tamiang </title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/gajah-liar-ditemukan-mati-di-areal-perkebunan-aceh-tamiang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2026 05:25:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1453</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aceh Tamiang &#8211; Seekor gajah liar ditemukan mati di areal perkebunan PT MPLI di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang. Satwa berbelalai itu diduga mati akibat keracunan. Keberadaan bangkai gajah awalnya diketahui karyawan perusahaan tersebut pada Minggu (9/8) siang. Informasi tersebut disampaikan ke polisi dan kemudian diteruskan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gajah-liar-ditemukan-mati-di-areal-perkebunan-aceh-tamiang/">Gajah Liar Ditemukan Mati di Areal Perkebunan Aceh Tamiang </a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Aceh Tamiang &#8211; Seekor gajah liar ditemukan mati di areal perkebunan PT MPLI di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Aceh Tamiang. Satwa berbelalai itu diduga mati akibat keracunan.</p>
<p>Keberadaan bangkai gajah awalnya diketahui karyawan perusahaan tersebut pada Minggu (9/8) siang. Informasi tersebut disampaikan ke polisi dan kemudian diteruskan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.</p>
<p>Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan, petugas BKSDA bersama polisi, pihak perusahaan dan mitra Forum Konservasi Leuser (FKL) segera mendatangi lokasi. Gajah berjenis kelamin jantan dengan kedua gading masih utuh itu diperkirakan sudah mati sekitar tiga hari.</p>
<p>&#8220;Tidak terdapat luka di bagian tubuh satwa. Hari ini telah dilakukan penanganan bangkai gajah yaitu nekropsi guna memastikan penyebab kematiannya, olah TKP, dan proses penguburan,&#8221; kata Ujang dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).</p>
<p>Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, katanya, penyebab kematian satwa tersebut diduga akibat keracunan. Untuk memperkuat diagnosa, tim medis mengambil beberapa sampel organ untuk kepentingan uji laboratorium guna pemeriksaan lebih lanjut.</p>
<p>&#8220;Hasil olah TKP tidak ditemukan alat ataupun benda yang mencurigakan di sekitar lokasi. Setelah selesai dilakukan proses nekropsi dan olah TKP, selanjutnya bangkai gajah sumatera tersebut dikuburkan pada lokasi penemuan di areal perkebunan PT. MPLI,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Kami mengimbau kepada seluruh pihak untuk tetap menjaga kelestarian satwa liar serta mendukung upaya pelestarian lingkungan,&#8221; lanjut Ujang.</p>
<hr>
<p>Sumber : <a href="https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-8612826/gajah-liar-ditemukan-mati-di-areal-perkebunan-aceh-tamiang">https://www.detik.com/sumut/hukum-dan-kriminal/d-8612826/gajah-liar-ditemukan-mati-di-areal-perkebunan-aceh-tamiang</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gajah-liar-ditemukan-mati-di-areal-perkebunan-aceh-tamiang/">Gajah Liar Ditemukan Mati di Areal Perkebunan Aceh Tamiang </a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membantu manusia memahami gajah untuk mengurangi konflik.</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/membantu-manusia-memahami-gajah-untuk-mengurangi-konflik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2026 04:40:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1422</guid>

					<description><![CDATA[<p>Baru-baru ini, di kota Dong Nai, Ibu Nguyen Thi Mai, Manajer Program Satwa Liar Senior di Humane World for Animals (HWA), berpartisipasi dalam kursus pelatihan tentang &#8220;Prinsip Keselamatan dalam Penanganan Konflik Gajah-Manusia&#8221; untuk petugas kehutanan, anggota tim tanggap cepat, dan otoritas lokal. Pada kesempatan ini, wartawan dari Surat Kabar dan Radio &#38; Televisi Dong Nai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/membantu-manusia-memahami-gajah-untuk-mengurangi-konflik/">Membantu manusia memahami gajah untuk mengurangi konflik.</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3 class="text-gray-800 mb-4 font-merr-h3 post-detail-sapo">Baru-baru ini, di kota Dong Nai, Ibu Nguyen Thi Mai, Manajer Program Satwa Liar Senior di Humane World for Animals (HWA), berpartisipasi dalam kursus pelatihan tentang &#8220;Prinsip Keselamatan dalam Penanganan Konflik Gajah-Manusia&#8221; untuk petugas kehutanan, anggota tim tanggap cepat, dan otoritas lokal.</h3>
<div class="text-lg my-4">
<div class="ql-editor text-content content-auth-baodongnai-com-vn">
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Pada kesempatan ini, wartawan dari Surat Kabar dan Radio &amp; Televisi <a class="data-link" title="Dong Nai" href="https://www.vietnam.vn/destination/dong-nai" target="_blank" rel="noopener" data-org-href="/destination/dong-nai">Dong Nai</a> mewawancarai Ibu Nguyen Thi Mai tentang pengalamannya dan arahannya untuk membantu Dong Nai menjadi model dalam konservasi gajah dan pengelolaan konflik antara gajah dan manusia.</p>
<p dir="ltr"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="img-fluid img-responsive aligncenter wp-image-1425 size-full" src="https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/1783986914083_14_20260714062908.webp" alt="" width="2000" height="2204" srcset="https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/1783986914083_14_20260714062908.webp 2000w, https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/1783986914083_14_20260714062908-272x300.webp 272w, https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/1783986914083_14_20260714062908-929x1024.webp 929w, https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/1783986914083_14_20260714062908-1394x1536.webp 1394w, https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/1783986914083_14_20260714062908-1858x2048.webp 1858w" sizes="(max-width: 2000px) 100vw, 2000px" /></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold">Memahami perilaku gajah adalah kunci untuk mengetahui cara berinteraksi dengan aman.</strong></b></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Berdasarkan pengalaman banyak negara Asia, menurut Anda faktor apa yang paling penting dalam mengurangi konflik manusia-gajah secara efektif dan berkelanjutan?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Konflik antara gajah dan manusia saat ini merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi konservasi gajah di Asia, di 13 negara tempat gajah masih hidup. Menurut saya, faktor terpenting bukanlah mencoba mengusir gajah dari daerah yang dihuni manusia, melainkan membantu orang memahami kebutuhan dan perilaku gajah sehingga mereka dapat menyesuaikan pendekatan mereka. Hanya dengan demikian manusia dan gajah dapat hidup berdampingan dengan aman di ruang hidup bersama mereka.</p>
</div>
<div class="ql-editor text-content content-auth-baodongnai-com-vn">
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Konflik antara gajah dan manusia adalah masalah yang terkait erat dengan mata pencaharian, persepsi, sikap, dan perilaku masyarakat setempat. Setiap konflik bersifat mendesak, kompleks, dan unik. Pada kenyataannya, konflik gajah-manusia di Vietnam berbeda dengan di <a class="data-link" title="India" href="https://www.vietnam.vn/tag/an-do" target="_blank" rel="noopener" data-org-href="/tag/an-do">India</a> , Sri Lanka, atau Thailand. Bahkan di dalam Vietnam sendiri, situasi di Dong Nai berbeda dengan Dak Lak atau daerah lain tempat gajah hidup. Perbedaan bahkan ada antara komune dan lingkungan di wilayah yang sama, karena beragamnya respons masyarakat terhadap kemunculan gajah.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Apakah itu berarti tidak ada &#8220;rumus baku&#8221; untuk mengelola konflik antara gajah dan manusia?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Benar sekali! Tidak ada satu model standar pun yang dapat diterapkan di semua lokasi. Respons gajah bergantung pada banyak faktor, seperti pengalaman mereka sebelumnya dengan manusia, karakteristik setiap individu, dan keadaan spesifik dari setiap situasi. Oleh karena itu, hal terpenting adalah memahami karakteristik konflik di setiap daerah. Kita perlu mengidentifikasi di mana konflik sering terjadi, gajah individu mana yang paling mungkin menyebabkan konflik, tingkat dampaknya, trennya, dan bagaimana komunitas meresponsnya.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Hakikat konflik antara gajah dan manusia adalah persaingan memperebutkan habitat dan sumber daya. Memahami faktor-faktor ini memungkinkan pihak berwenang untuk memilih solusi yang tepat, bukan menerapkannya secara mekanis.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Dong Nai telah menerapkan beberapa solusi seperti pagar listrik, menara pengamatan, pemberian air dan mineral tambahan untuk gajah, dan pembentukan tim tanggap cepat. Menurut Anda, bagaimana solusi-solusi ini sebaiknya dikembangkan lebih lanjut?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Semua solusi di atas diperlukan dan telah memberikan hasil positif bagi Dong Nai. Namun, setiap solusi memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Gajah adalah hewan yang sangat cerdas. Mereka memiliki kemampuan untuk belajar dan beradaptasi dengan tindakan yang diterapkan manusia. Oleh karena itu, efektivitas jangka panjang tidak hanya bergantung pada solusi teknis tetapi juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Ketika masyarakat memahami perilaku gajah, mengetahui cara bertindak aman ketika gajah muncul, dan secara proaktif melindungi mata pencaharian mereka, pola pikir konfrontatif akan berkurang. Itulah dasar dari pengelolaan konflik yang berkelanjutan.</p>
<p dir="ltr">Berdasarkan pengalaman banyak negara Asia serta praktik di Vietnam, tujuannya bukanlah untuk mengusir gajah dengan cepat, tetapi untuk mengelola ruang hidup bersama antara manusia dan gajah secara efektif. Itulah mengapa kursus pelatihan ini dirancang untuk membantu petugas kehutanan, tim tanggap cepat, dan masyarakat setempat memahami sifat konflik tersebut sehingga mereka dapat merespons dengan tepat, dengan tujuan untuk hidup berdampingan secara harmonis, aman, dan berkelanjutan.</p>
<div class="ql-editor text-content content-auth-baodongnai-com-vn">
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold">Masyarakat merupakan inti dari upaya konservasi gajah.</strong></b></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Menurutnya, peran apa yang dimainkan oleh masyarakat yang tinggal di dekat hutan dalam keberhasilan upaya konservasi gajah?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Saya percaya bahwa masyarakat tidak hanya terdampak oleh konflik gajah-manusia, tetapi juga merupakan faktor penentu keberhasilan atau kegagalan jangka panjang upaya konservasi gajah. Tidak seperti banyak isu konservasi lainnya, konflik gajah-manusia terjadi tepat di tempat orang tinggal dan bekerja. Oleh karena itu, seberapa pun baiknya investasi solusi teknis yang dilakukan, akan sulit untuk menerapkannya secara efektif tanpa partisipasi dan konsensus masyarakat.</p>
</div>
<div class="ql-editor text-content content-auth-baodongnai-com-vn">
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Faktanya, sikap dan perilaku manusia di hadapan gajah dapat mengurangi atau meningkatkan tingkat konflik. Dalam banyak kasus, menerima interaksi atau kerusakan dalam skala kecil dan terkendali membantu mengurangi ketegangan, mencegah konflik meningkat menjadi perilaku konfrontatif yang berbahaya bagi manusia dan gajah.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Sebaliknya, berfokus semata-mata pada tindakan konfrontatif dan kekerasan atau upaya untuk sepenuhnya menghilangkan gajah dapat meningkatkan konflik, sehingga jauh lebih sulit untuk memastikan keselamatan manusia dan gajah. Oleh karena itu, masyarakat harus dianggap sebagai mitra utama dalam pengelolaan dan mitigasi konflik.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Apa saja keunggulan Dong Nai untuk menjadi lokasi percontohan konservasi gajah di Asia Tenggara, Bu?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Dong Nai memiliki banyak kondisi yang menguntungkan. Daerah ini memiliki populasi gajah liar terbesar kedua di Vietnam; dan juga merupakan salah satu daerah pelopor dalam menerapkan program pemantauan gajah menggunakan perangkap kamera, memantau konflik gajah-manusia, dan mengelola habitat gajah dengan dukungan teknis dari Departemen Kehutanan dan Perlindungan Hutan serta Organisasi Kesehatan Hewan <a class="data-link" title="Dunia" href="https://www.vietnam.vn/category/the-gioi" target="_blank" rel="noopener" data-org-href="/category/the-gioi">Dunia</a> (HWA). Program-program ini telah memberikan data penting yang membantu lembaga pengelola untuk lebih memahami populasi gajah, kebutuhan ekologis, tren perkembangan kawanan gajah, serta realitas dan tren konflik gajah-manusia di lapangan. Ini merupakan fondasi yang sangat penting untuk membangun solusi pengelolaan yang efektif di masa depan.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Jadi, tugas apa saja yang harus difokuskan oleh kota Dong Nai dalam periode mendatang?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Menurut pendapat saya, fokus di masa mendatang seharusnya tidak hanya pada investasi dalam langkah-langkah teknis yang lebih banyak, tetapi juga pada pergeseran yang kuat menuju pendekatan berbasis bukti dan partisipasi masyarakat. Ini termasuk: melanjutkan program pemantauan jangka panjang, menganalisis titik-titik konflik, melacak perubahan populasi gajah, dan secara bertahap menerapkan solusi jangka pendek dan jangka panjang berdasarkan hasil penelitian dan praktik pengelolaan.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Jika hal ini tercapai, Dong Nai tidak hanya akan secara efektif melindungi populasi gajah liarnya, tetapi juga dapat menjadi model praktik terbaik dalam pengelolaan konflik gajah-manusia yang adaptif, yang bertujuan untuk hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dan gajah—pendekatan yang menarik perhatian dan diadopsi oleh banyak negara di seluruh dunia.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Kunci untuk mengurangi konflik antara gajah dan manusia bukanlah dengan segera mengusir gajah dari daerah yang dihuni manusia, tetapi dengan mengelola secara efektif ruang hidup bersama antara manusia dan gajah.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Pesan apa yang ingin dia sampaikan kepada masyarakat yang tinggal di daerah yang dihuni gajah?</strong></b></i></p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">&#8211; Saya percaya masa depan konservasi gajah terletak bukan pada seberapa besar kendali manusia atas gajah, tetapi pada apakah masyarakat setempat memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk hidup berdampingan dengan aman bersama mereka. Ketika masyarakat memahami gajah, mengetahui cara berperilaku yang tepat, dan secara aktif berpartisipasi dengan pihak berwenang dalam pengelolaan konflik, itulah fondasi terpenting untuk melindungi mata pencaharian masyarakat dan melestarikan populasi gajah liar untuk generasi mendatang.</p>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr"><i><b><strong class="PlaygroundEditorTheme__textBold PlaygroundEditorTheme__textItalic">Terima kasih banyak, Bu!</strong></b></i></p>
<hr>
<p class="PlaygroundEditorTheme__paragraph" dir="ltr">Sumber : <a href="https://www.vietnam.vn/id/giup-con-nguoi-hieu-voi-de-giam-xung-dot">https://www.vietnam.vn/id/giup-con-nguoi-hieu-voi-de-giam-xung-dot</a></p>
</div>
</div>
</div>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/membantu-manusia-memahami-gajah-untuk-mengurangi-konflik/">Membantu manusia memahami gajah untuk mengurangi konflik.</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SIARAN PERS FKGI: Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 Babak Baru Konservasi Gajah Indonesia</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/siaran-pers-fkgi-instruksi-presiden-nomor-8-tahun-2026-babak-baru-konservasi-gajah-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2026 13:53:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1414</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, 7 Juli 2026 — Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mengapresiasi terbitnya Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. FKGI memandang Instruksi Presiden ini sebagai tonggak penting yang menandai perubahan paradigma konservasi gajah di Indonesia. Untuk pertama kalinya, penyelamatan gajah ditegaskan sebagai tanggung jawab bersama lintas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/siaran-pers-fkgi-instruksi-presiden-nomor-8-tahun-2026-babak-baru-konservasi-gajah-indonesia/">SIARAN PERS FKGI: Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 Babak Baru Konservasi Gajah Indonesia</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 7 Juli 2026 — Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mengapresiasi terbitnya Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. FKGI memandang Instruksi Presiden ini sebagai tonggak penting yang menandai perubahan paradigma konservasi gajah di Indonesia.</p>
<p>Untuk pertama kalinya, penyelamatan gajah ditegaskan sebagai tanggung jawab bersama lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, media, dan masyarakat luas. Dengan demikian, konservasi gajah tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai agenda sektoral bidang kehutanan atau perlindungan satwa liar, melainkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda pembangunan nasional, tata kelola ruang, pemulihan ekosistem, ketahanan iklim, serta pembangunan berkelanjutan.</p>
<p>Inpres ini bukan kebijakan yang berdiri sendiri melainkan bagian dari transformasi kebijakan konservasi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menunjukkan arah yang jelas. Pemerintah secara bertahap telah membangun fondasi kebijakan yang saling melengkapi melalui Inpres 8/2026 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta kebijakan Presiden mengenai Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan Pengelolaan Taman Nasional. Kehadiran Inpres 8/2026 melengkapi rangkaian kebijakan tersebut dengan memberikan mandat implementasi konkret bagi seluruh pemangku kepentingan.</p>
<p>Habitat gajah tersebar pada kawasan hutan produksi, Areal Penggunaan Lain (APL), wilayah masyarakat, kawasan konsesi, serta berbagai bentang alam yang dikelola oleh banyak sektor. Dengan demikian, konservasi gajah tidak lagi dapat hanya bertumpu pada kawasan konservasi formal, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka pengelolaan bentang alam secara menyeluruh.</p>
<p>FKGI memandang bahwa implementasi Inpres 8/2026 perlu menjadi dasar yang lebih kuat bagi berbagai agenda strategis nasional yang selama ini berjalan sektoral. Dalam penataan kawasan hutan, Instruksi Presiden ini menjadi momentum untuk memastikan bahwa perlindungan habitat dan koridor gajah menjadi bagian penting dalam proses penataan kawasan, penyelesaian konflik pemanfaatan ruang, pemulihan fungsi ekologis, serta penguatan konektivitas bentang alam.</p>
<p>FKGI juga melihat peluang besar untuk mengintegrasikan implementasi Instruksi Presiden ini dengan tindak lanjut hasil kerja Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Kawasan-kawasan yang telah ditertibkan, dipulihkan, atau dikembalikan fungsi ekologisnya dapat diprioritaskan sebagai bagian dari upaya pemulihan habitat, penguatan koridor ekologis, serta peningkatan konektivitas bentang alam gajah.</p>
<p>Di sisi lain, habitat gajah memiliki nilai penting sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, penyangga keanekaragaman hayati, serta penyedia berbagai jasa ekosistem bagi masyarakat. FKGI memandang bahwa implementasi Instruksi Presiden ini perlu diintegrasikan dengan berbagai skema pembiayaan berbasis alam atau <em>nature-based solutions</em>, termasuk pembiayaan karbon, rehabilitasi hutan dan lahan, restorasi ekosistem, pendanaan lingkungan hidup, <em>biodiversity credit</em>, serta mekanisme pembiayaan konservasi inovatif lainnya. Pendekatan ini tidak hanya akan memperkuat konservasi gajah, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pencapaian target perubahan iklim, pengurangan risiko bencana ekologis, dan pembangunan berkelanjutan Indonesia.</p>
<p>FKGI juga menilai bahwa Inpres 8/2026 perlu menjadi acuan penting dalam pengambilan keputusan terkait pemanfaatan ruang dan pemberian izin pada bentang alam habitat gajah. Setiap kebijakan pemanfaatan ruang, termasuk pada sektor pertambangan, perkebunan, energi, infrastruktur, dan sektor lainnya yang berpotensi menimbulkan fragmentasi habitat, perlu mempertimbangkan keberadaan habitat dan koridor gajah sebagai bagian dari kepentingan strategis nasional. Pendekatan ini diperlukan untuk mencegah semakin terfragmentasinya habitat pada berbagai lanskap prioritas gajah.</p>
<p>Demikian pula dalam pembangunan infrastruktur nasional. FKGI memandang bahwa setiap pembangunan jalan, jalan tol, jaringan energi, bendungan, maupun infrastruktur strategis lainnya yang melintasi atau berdekatan dengan habitat gajah perlu sejak tahap perencanaan mengakomodasi prinsip konektivitas ekologis. Penyediaan koridor satwa liar, lintasan satwa atau <em>wildlife crossing</em>, zona perlindungan koridor, pengaturan kecepatan, sistem peringatan dini, serta berbagai bentuk mitigasi lainnya harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan pembangunan.</p>
<p>FKGI menekankan keberhasilan Inpres 8/2026 tidak hanya diukur dari terbitnya regulasi, tetapi terutama dari sejauh mana mandat tersebut diterjemahkan ke dalam kebijakan sektoral, rencana pembangunan, penataan ruang, penganggaran, pelaksanaan di lapangan, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi yang terukur. Inpres ini harus menjadi instrumen perubahan nyata dalam tata kelola konservasi gajah, bukan sekadar pemenuhan administratif atas suatu dokumen kebijakan nasional.</p>
<p>Untuk itu, FKGI mendorong agar implementasi Inpres ini disertai indikator kinerja yang jelas, target waktu yang terukur, pembagian peran yang tegas antar kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya, serta mekanisme pelaporan berkala yang dapat dipantau secara transparan.</p>
<p>Dalam konteks tersebut, penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan menjadi momentum penting. FKGI akan mendukung SRAK yang sedang disusun. Namun, SRAK jangan berhenti sebagai dokumen perencanaan semata. SRAK harus menjadi dokumen operasional yang menjadi acuan bersama dalam penyusunan program, pengalokasian anggaran, penyelarasan kebijakan lintas sektor, penguatan koordinasi kelembagaan, serta evaluasi capaian konservasi secara berkala di tingkat nasional maupun daerah. Dengan demikian, SRAK harus diposisikan sebagai instrumen kerja bersama yang hidup, digunakan, diperbarui, dan dievaluasi sesuai dengan dinamika lapangan.</p>
<p>Implementasi Instruksi Presiden dan SRAK agar dilengkapi dengan mekanisme evaluasi periodik yang melibatkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, lembaga konservasi, dan masyarakat lokal. Mengingat konservasi gajah merupakan agenda jangka panjang, FKGI memandang bahwa implementasinya harus mampu melampaui siklus pemerintahan, perubahan kepemimpinan, maupun pergantian prioritas politik. Keberlanjutan kebijakan, pendanaan, kelembagaan, dan komitmen lintas sektor merupakan prasyarat utama agar upaya penyelamatan gajah tetap berjalan secara konsisten dari waktu ke waktu. Gajah memiliki rentang hidup panjang, ruang jelajah luas, dan kebutuhan habitat yang kompleks; karena itu, penyelamatannya juga membutuhkan komitmen jangka panjang yang kuat dan berkesinambungan.</p>
<p>FKGI meyakini bahwa seluruh proses implementasi kebijakan konservasi gajah perlu didasarkan pada ilmu pengetahuan, data terbaik yang tersedia, serta sistem pemantauan populasi dan habitat yang terus diperbarui. Pengambilan keputusan berbasis bukti akan meningkatkan efektivitas konservasi, memperkuat legitimasi kebijakan, dan mengurangi risiko pengambilan keputusan yang tidak sesuai dengan kondisi ekologis maupun sosial di lapangan. Selain itu, implementasinya perlu menerapkan prinsip <em>adaptive management</em>, yakni pendekatan pengelolaan yang secara berkala dievaluasi dan disempurnakan berdasarkan hasil pemantauan, pengalaman lapangan, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini penting karena konservasi gajah menghadapi dinamika yang terus berubah, termasuk perubahan penggunaan lahan, tekanan pembangunan, konflik manusia dan gajah, perubahan sosial ekonomi masyarakat, serta dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan habitat dan sumber daya alam.</p>
<p>Masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat gajah merupakan mitra utama konservasi. Inpres perlu memastikan partisipasi aktif masyarakat, penguatan kapasitas lokal, pemberdayaan ekonomi berkelanjutan, serta pengembangan mekanisme mitigasi konflik manusia dan gajah yang adil, cepat, dan efektif. Konservasi gajah tidak akan berhasil apabila masyarakat di sekitar habitat hanya diposisikan sebagai penerima dampak, tanpa diberikan ruang, dukungan, dan manfaat yang memadai dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program.</p>
<p>Keberhasilan penyelamatan gajah Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pihak untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan satwa, pemulihan habitat, keberlanjutan pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat. Gajah Sumatera dan gajah Kalimantan bukan hanya simbol kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga penanda penting atas kualitas tata kelola bentang alam. Ketika habitat gajah dapat dijaga, koridor ekologis dapat dipertahankan, dan konflik dapat dikelola secara adil, maka sesungguhnya Indonesia sedang memperkuat fondasi pembangunan yang lebih berkelanjutan.</p>
<p>FKGI menegaskan empat pesan utama yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, implementasi harus menjadi prioritas utama, karena regulasi hanya akan bermakna apabila diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Kedua, konservasi gajah harus terintegrasi dalam seluruh sektor pembangunan, bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kehutanan. Ketiga, SRAK harus menjadi dokumen operasional yang memandu program, anggaran, kerja lintas sektor, dan evaluasi berkala. Keempat, keberhasilan konservasi harus diukur melalui indikator yang jelas, transparansi, akuntabilitas, dan perbaikan kebijakan yang berkelanjutan.</p>
<p>“Konservasi gajah bukan semata tentang menyelamatkan satu spesies. Konservasi gajah adalah tentang bagaimana Indonesia mengelola bentang alamnya secara bijaksana, adil, dan berkelanjutan. Inpres 8 Tahun 2026 memberikan arah yang jelas menuju paradigma tersebut. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi implementasi, kekuatan koordinasi, dukungan ilmu pengetahuan, ketersediaan pendanaan, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikannya sebagai aksi nyata.”</p>
<hr>
<p><strong>Narahubung :<br />
</strong>Ketua FKGI Donny Gunaryadi<br />
(info@gajah.id)</p>
<hr>
<p>&nbsp;<br />
<a class="btn btn-lg btn-info" href="https://gajah.id/wp-content/uploads/2026/07/Instruksi-Presiden-Nomor-8-Tahun-2026_Penyelamatan-Populasi-dan-Habitat-Gajah-Sumatera-dan-Gajah-Kalimantan.pdf" target="_blank">Unduh Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/siaran-pers-fkgi-instruksi-presiden-nomor-8-tahun-2026-babak-baru-konservasi-gajah-indonesia/">SIARAN PERS FKGI: Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 Babak Baru Konservasi Gajah Indonesia</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Penyebab Kematian Gajah Indro yang Berusia 45 Tahun di TNTN</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2026 09:42:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1408</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pelalawan &#8211; Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Riau, kembali kehilangan seekor gajah Sumatera. Gajah dewasa bernama Indro itu mati di usia 45 tahun pada fase musth. Gajah Indro dilaporkan mati pada Senin, 29 Juni 2026 sekitar pukul 03.45 WIB. Indro mati akibat komplikasi kesehatan pada fase musth. &#8220;Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn/">Ini Penyebab Kematian Gajah Indro yang Berusia 45 Tahun di TNTN</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pelalawan &#8211; Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Pelalawan, Riau, kembali kehilangan seekor gajah Sumatera. Gajah dewasa bernama Indro itu mati di usia 45 tahun pada fase musth.<br />
Gajah Indro dilaporkan mati pada Senin, 29 Juni 2026 sekitar pukul 03.45 WIB. Indro mati akibat komplikasi kesehatan pada fase musth.</p>
<p>&#8220;Gajah Indro dinyatakan mati setelah mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim gabungan Balai Besar KSDA Riau dan Balai TN Tesso Nilo akibat komplikasi kesehatan yang dipicu oleh penurunan nafsu makan pasca-fase musth,&#8221; demikian keterangan Balai TN Tesso Nilo, dikutip detikcom dari akun Instagramnya, Selasa (30/6/2026).</p>
<p>Sebagai informasi, fase musth adalah siklus biologis alami pada gajah jantan dewasa yang ditandai dengan lonjakan testosteron (hingga 10 kali lipat). Pada fase ini gajah menunjukkan perilaku yang lebih agresif, urine menetes dari preputium (ujung alat kelamin), dan keluar minyak dari kelenjar temporal yang terletak di bawah kulit kedua sisi kepala, di antara mata dan lubang telinga.</p>
<p>Fase musth menunjukkan bahwa gajah siap bereproduksi. Artinya, ada harapan baru untuk kelangsungan regenerasi gajah, yang merupakan satwa liar yang dilindungi.</p>
<p>Balai TN Tesso Nilo mengungkap fase musth gajah Indro mulai terpantau pada 25 April 2026. Pada fase ini perilakunya berubah menjadi lebih agresif sejak 1 Mei 2026 yang ditandai dengan keluarnya cairan/sperma pada alat kelamin.</p>
<p>&#8220;Tanggal 6 Mei 2026, cairan sekresi dari lubang musth di area pelipis kepala mulai keluar dan tampak basah,&#8221; imbuhnya.</p>
<p>Memasuki awal Juni 2026, gajah Indro ditempatkan di Camp Flying Squad dan diberi ikatan pengamanan, mengingat kondisinya yang sudah tidak dapat didekati dan tidak merespons perintah mahout. Gajah Indro mulai menunjukkan perilaku yang membahayakan keselamatan petugas, sehingga petugas menyuplai pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, dan rumput gajahan, serta memastikan ketersediaan air minum berkala setiap pagi dan sore dari jarak aman.</p>
<p>Mengingat fase musth yang berkepanjangan, tim medis BTNTN berkoordinasi dengan BBKSDA Riau melakukan tindakan pembiusan (sedasi) pada 24 Juni 2026 untuk memasang rantai tambahan sebagai upaya pengamanan. Pasca-prosedur, tim medis memberikan anti-dot (penawar bius) hingga gajah Indro sadar penuh kembali dalam posisi berdiri tegak yang stabil.</p>
<p>&#8220;Mulai siang hari pascapembiusan, gajah ndro terpantau mengalami penurunan nafsu makan dan minum secara drastis. Mahout dari tim medis BTNTN langsung melakukan pemantauan intensif selama 24 jam penuh serta berkoordinasi secara ketat dengan dokter hewan ahli untuk penanganan lanjutan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Selama proses tersebut, tim medis dan flying squad hingga mahout terus memantau perkembangan kesehatan gajah Indro. Namun, pada 29 Juni 2026 tepatnya pukul 03.30 WIB, terjadi perubahan fisik secara mendadak pada gajah Indro.</p>
<p>Gajah Indro ditemukan dalam posisi terbaring. Dokter hewan beserta tim mahout segera melakukan pemeriksaan darurat terhadap fungsi pernafasan serta melakukan tindakan resusitasi jantung paru (CPR) selama beberapa menit.</p>
<p>&#8220;Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan secara resmi dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB,&#8221; demikian keterangan BTN Tesso Nilo.</p>
<p>Gajah Penjaga Konflik<br />
Kematian gajah Indro menjadi duka bagi para pecinta hewan, pegiat lingkungan serta dunia konservasi. Gajah Indro selama ini telah berjasa besar dalam mendukung Tim Flying Squad TN Tesso Nilo dalam memitigasi konflik satwa dan manusia di sekitar Tesso Nilo.</p>
<p>Ungkapan duka tak hanya disampaikan oleh BKSDA dan BTN Tesso Nilo. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan yang menaruh perhatian besar terhadap gajah Sumatera juga turut menyampaikan duka mendalam.</p>
<p>&#8220;Kepergian Indro, Gajah Sumatera yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh pecinta alam dan satwa liar. Dedikasinya dalam membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah adalah pengabdian yang tak ternilai,&#8221; kata Irjen Herry Heryawan melalui akun Instagramnya, dilihat detikcom, Selasa (30/6).</p>
<hr>
<p>Sumber: <a href="https://news.detik.com/berita/d-8553323/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn" target="_blank" rel="noopener">https://news.detik.com/berita/d-8553323/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/ini-penyebab-kematian-gajah-indro-yang-berusia-45-tahun-di-tntn/">Ini Penyebab Kematian Gajah Indro yang Berusia 45 Tahun di TNTN</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan-tewas-di-jurang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2026 09:44:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1411</guid>

					<description><![CDATA[<p>LAMPUNG BARAT, KOMPAS.com &#8211; Seorang buruh tani bernama Jumadi (54) ditemukan meninggal dunia di area perkebunan Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga menjadi korban interaksi dengan gajah liar saat berusaha menyelamatkan diri dari gubuk yang dikepung kawanan satwa tersebut. Kasat Reskrim Polres Lampung Barat, IPTU Rudy Prawira, mengatakan peristiwa itu bermula [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan-tewas-di-jurang/">Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>LAMPUNG BARAT, KOMPAS.com &#8211; Seorang buruh tani bernama Jumadi (54) ditemukan meninggal dunia di area perkebunan Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Korban diduga menjadi korban interaksi dengan gajah liar saat berusaha menyelamatkan diri dari gubuk yang dikepung kawanan satwa tersebut. Kasat Reskrim Polres Lampung Barat, IPTU Rudy Prawira, mengatakan peristiwa itu bermula pada Rabu (24/6/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.</p>
<p>Saat itu, tiga orang diketahui terjebak di sebuah rumah singgah di kebun milik Widodo yang berada di kawasan berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) setelah kawanan gajah liar mendekati lokasi.</p>
<p>Mendapat informasi tersebut, warga bersama relawan Satgas segera menuju kebun untuk melakukan evakuasi. Namun, setibanya di lokasi, mereka mendapati rumah singgah itu telah mengalami kerusakan akibat amukan gajah.</p>
<p>Dua orang, yakni Widodo dan Sigit, berhasil ditemukan dalam keadaan selamat meski mengalami trauma.</p>
<p>Sementara itu, Jumadi tidak berada di sekitar gubuk. &#8220;Sementara Jumadi tidak berada di lokasi. Warga bersama relawan melakukan pencarian hingga Kamis (25/6/2026) dini hari, tetapi hasilnya nihil,&#8221; kata Rudy saat dikonfirmasi, Jumat (26/6/2026).</p>
<p>Diduga Terjatuh ke Jurang Saat Menghindari Gajah Pencarian kembali dilakukan pada Kamis pagi. Sekitar pukul 09.00 WIB, jasad Jumadi akhirnya ditemukan di area lereng atau jurang yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah singgah tempat korban bersama rekannya berlindung</p>
<p>Hasil pemeriksaan petugas Puskesmas Sri Mulyo menunjukkan korban mengalami memar pada bagian pinggang belakang, luka lecet di bibir bawah, serta lecet pada lutut kanan.</p>
<p>Rudy menjelaskan, pihak keluarga menolak dilakukan autopsi terhadap jenazah korban.</p>
<p>&#8220;Keluarga menolak dilakukan autopsi. Berdasarkan keterangan saksi, korban diduga berusaha menyelamatkan diri ketika gajah liar mendekati gubuk,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Menurut keterangan saksi, korban diduga sempat berlari menghindari kawanan gajah. Dalam upaya menyelamatkan diri itu, korban diduga tertabrak gajah hingga terjatuh ke jurang.</p>
<p>Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengevakuasi jenazah, memeriksa sejumlah saksi, serta berkoordinasi dengan pihak TNBBS untuk penanganan lebih lanjut.</p>
<p>Rudy mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan menghindari aktivitas di sekitar kawasan hutan yang menjadi jalur perlintasan gajah liar.</p>
<p>&#8220;Kami meminta warga tidak beraktivitas di sekitar kawasan TNBBS. Masyarakat juga harus memahami jalur perlintasan gajah dan meningkatkan kewaspadaan apabila berhadapan dengan satwa liar agar kejadian serupa tidak terulang,&#8221; katanya.&nbsp;</p>
<hr>
<p>Sumber: <a href="https://regional.kompas.com/read/2026/06/26/163957978/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan">https://regional.kompas.com/read/2026/06/26/163957978/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan</a>.</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/gubuk-dikepung-gajah-liar-di-lampung-barat-seorang-buruh-tani-ditemukan-tewas-di-jurang/">Gubuk Dikepung Gajah Liar di Lampung Barat, Seorang Buruh Tani Ditemukan Tewas di Jurang</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak &#8216;Indra&#8217; Tutup Usia di TN Way Kambas</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/tiga-dekade-mengabdi-bagi-konservasi-gajah-jinak-indra-tutup-usia-di-tn-way-kambas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2026 16:56:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1404</guid>

					<description><![CDATA[<p>SIARAN PERS NOMOR: SP. 236/HKLN/06/2026 Lampung Timur, 24 Juni 2026 &#8211; Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kementerian Kehutanan, menyampaikan duka cita yang mendalam atas kematian Gajah Indra. Gajah jinak jantan berusia 42 tahun ini tutup usia setelah selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera&#160;(Elephas maximus sumatranus)&#160;di Provinsi Lampung. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/tiga-dekade-mengabdi-bagi-konservasi-gajah-jinak-indra-tutup-usia-di-tn-way-kambas/">Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak &#8216;Indra&#8217; Tutup Usia di TN Way Kambas</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>SIARAN PERS</strong><br />
<strong>NOMOR: SP. 236/HKLN/06/2026</strong></h2>
<p>Lampung Timur, 24 Juni 2026 &#8211; Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kementerian Kehutanan, menyampaikan duka cita yang mendalam atas kematian Gajah Indra. Gajah jinak jantan berusia 42 tahun ini tutup usia setelah selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera&nbsp;<em>(Elephas maximus sumatranus)</em>&nbsp;di Provinsi Lampung.</p>
<p>Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi, menegaskan bahwa kepergian Gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi dunia konservasi Indonesia.</p>
<p>&#8220;Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya,&#8221; ujar Zaidi.</p>
<p>Gajah Indra berasal dari Desa Karang Sari, Kabupaten Lampung Timur, dan bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK sejak tahun 1995. Dikenal memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berani, Gajah Indra telah terlibat dalam berbagai operasi krusial di lapangan, mulai dari evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, hingga mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Lampung. Dedikasi ini membuatnya sangat dihormati oleh para mahout, dokter hewan, perawat satwa, serta para pegiat konservasi.</p>
<p>Penurunan kondisi kesehatan Gajah Indra berakar dari insiden pada akhir tahun 2017. Seusai membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kendaraan yang mengangkut Gajah Indra mengalami kecelakaan lalu lintas. Peristiwa tersebut mengakibatkan trauma fisik serius, di mana hasil pemeriksaan medis menduga Indra mengalami gangguan pada ruas tulang belakang&nbsp;<em>(suspect ruptur os vertebrae)</em>&nbsp;yang secara bertahap memengaruhi gerak dan kesehatannya.</p>
<p>Sejak cedera tersebut, Gajah Indra dipensiunkan dari tugas lapangan. Tim dokter hewan dan perawat satwa TNWK memberikan perawatan intensif, terapi, serta pemantauan harian untuk menjaga kualitas hidupnya. Namun, kondisi fisiknya terus menurun seiring bertambahnya usia.</p>
<p>Pada Minggu, 21 Juni 2026 sore, Gajah Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa. Saat hendak diarahkan naik kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri. Upaya darurat segera dilakukan oleh mahout pendamping, Siswo, bersama tim rescue dengan bantuan gajah jinak lainnya. Meskipun sempat berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit, kondisi fisik yang sangat lemah membuat Indra kembali rebah.</p>
<p>Mengingat keterbatasan medan rawa dan kondisi fisik satwa yang tidak memungkinkan untuk dievakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan langsung melakukan tindakan penyelamatan darurat secara intensif di lokasi kejadian. Setelah berjuang keras selama lebih dari 20 jam untuk mempertahankan kondisi vitalnya, Gajah Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.</p>
<p>Sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP) medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah, tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian. Proses bedah bangkai ini dipimpin oleh drh. Diah Esty Nggraeni (PLG TNWK) dan drh. Atma&nbsp;<em>(Sumatran Rhino Sanctuary)</em>, didukung lima tenaga kesehatan hewan dari Rumah Sakit Gajah TNWK.</p>
<p>Guna menjaga transparansi, proses nekropsi dilakukan di bawah pengawasan dan disaksikan langsung oleh unsur Polres Lampung Timur, Kodim 0429/Lampung Timur, serta Polisi Kehutanan TNWK. Sejumlah sampel organ telah diambil untuk analisis laboratorium lebih lanjut guna mendapatkan data komprehensif mengenai faktor klinis penyebab kematian. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Indra langsung dimakamkan di lokasi khusus dalam kawasan TNWK.</p>
<p>Kepergian Gajah Indra menjadi pengingat pentingnya dedikasi dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga kelestarian satwa liar Indonesia. Balai TNWK berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi Gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, mitigasi konflik, peningkatan kapasitas pelayanan medis, serta penguatan kesejahteraan gajah-gajah binaan di bawah pengelolaan negara.</p>
<p>───<br />
Informasi lebih lanjut:<br />
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi</p>
<p>Penanggung jawab berita:<br />
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,<br />
Ristianto Pribadi</p>
<p>Website:&nbsp;<a href="http://www.kehutanan.go.id/">www.kehutanan.go.id</a><br />
Youtube: Kementerian Kehutanan<br />
Facebook: Kementerian Kehutanan<br />
Instagram: Kemenhut<br />
Twitter/X: @kemenhut_ri</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/tiga-dekade-mengabdi-bagi-konservasi-gajah-jinak-indra-tutup-usia-di-tn-way-kambas/">Tiga Dekade Mengabdi bagi Konservasi, Gajah Jinak &#8216;Indra&#8217; Tutup Usia di TN Way Kambas</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo</title>
		<link>https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[gajahindonesia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 18:19:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Gajah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://gajah.id/?p=1400</guid>

					<description><![CDATA[<p>Riau, 10 Juni 2026 – Kabar gembira datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Seekor anak gajah lahir dari induk bernama Ria. Anak gajah berkelamin betina ini saat ini dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta sudah menyusu secara normal. Tidak ditemukan cacat fisik pada anak gajah ini. Kelahiran anak gajah ini terjadi sekitar pukul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo/">Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Riau, 10 Juni 2026 – Kabar gembira datang dari Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Seekor anak gajah lahir dari induk bernama Ria. Anak gajah berkelamin betina ini saat ini dalam kondisi sehat, aktif bergerak, serta sudah menyusu secara normal. Tidak ditemukan cacat fisik pada anak gajah ini.</p>
<p>Kelahiran anak gajah ini terjadi sekitar pukul 07.30 WIB ketika Mahout (Pawang gajah) Erwin Daulay memindahkan gajah dari ikatan ke lokasi angonan. Sekitar 1 km dari Pos Jaga/Kantor Resort Konservasi Gajah Sumatera, Mahout Erwin menemukan bayi gajah yang baru lahir, lengkap dengan ari-arinya. Observasi awal dilakukan langsung oleh Mahout, kemudian diteruskan tim dokter hewan yang memastikan bayi gajah aktif, berdiri, dan menyusu secara berulang.</p>
<p>&#8220;Induk gajah Ria dan bayi gajah kini terus dipantau tim dokter hewan untuk memastikan kesehatan keduanya tetap terjaga,&#8221; ujar Kepala Balai Tesso Nilo, Heru Sutmatoro.</p>
<p>Kelahiran ini menjadi bukti keberhasilan upaya konservasi gajah Sumatera yang dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).</p>
<p>Anak gajah ini merupakan anak kelima dari Gajah Ria yang lahir di Camp Elephants Flying Squad TNTN, sebagai hasil breeding dengan gajah liar. Sebelumnya, gajah Ria telah sukses melahirkan empat ekor anak gajah yang diberi nama Tesso, Tino, Harmoni, dan Domang. Saat ini, kondisi gajah Ria dan bayinya terus dipantau secara intensif oleh Tim Mahout dan Tim Dokter Hewan untuk memastikan masa pemulihan berjalan optimal.</p>
<p>Dalam rentang waktu 8 tahun terakhir, Elephant Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo telah mengalami 4 kali kelahiran anak gajah dari dua induk gajah jinak, yaitu Lisa dan Ria. Rentetan kelahiran ini menjadi bukti nyata dan penguatan fakta bahwa kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo merupakan habitat penting yang berkontribusi besar dalam upaya peningkatan populasi Gajah Sumatera.</p>
<hr>
<p>Baca selengkapnya di sumber : <a href="https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo">https://www.kehutanan.go.id/news/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo</a></p>
<p>The post <a href="https://gajah.id/berita-gajah/anak-gajah-lahir-di-camp-elephants-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo/">Anak Gajah Lahir di Camp Elephants Flying Squad, Taman Nasional Tesso Nilo</a> appeared first on <a href="https://gajah.id">Forum Konservasi Gajah Indonesia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
