Ratna, Gajah Koleksi R Zoo Sergai Dikabarkan Mati di Usia 50 Tahun

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Seekor Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) yang menjadi salah satu koleksi Rahmat Zoo&Park, di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) dikabarkan mati.

Berdasarkan keterangan Putra Ario selaku Lembaga Konservasi (LK) R Zoo, menjelaskan salah satu koleksi di kebun binatang yang berada di Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Sergai itu dinyatakan mati pada Sabtu (7/2/2026). 

Dikatakannya, dari hasil pemeriksaan medis gajah bernama Ratna ini kematiannya diduga disebabkan karena gagal fungsi organ. Dirinya menjelaskan, Ratna dinyatakan mati di usia sekitar 50 tahun.

Dijelaskan Putra, sebelum dinyatakan mati Ratna sempat menjalani perawatan medis intensif di R Zoo & Park.

Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, laboratorium, serta bedah bangkai (nekropsi), kematian Ratna disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal yang disertai gangguan fungsi hati serta komplikasi pada organ vital lainnya. 

Dikatakannya, Ratna menjadi penghuni baru melengkapi koleksi R Zoo dimulai pada bulan September 2025 lalu.

Saat itu, Ratna bersama tiga ekor gajah lainnya, yaitu Poppy (±45 tahun), Uli (±6 tahun), dan Lia (±15 tahun). Saat kedatangan, beberapa gajah teridentifikasi dalam kondisi tubuh kurang ideal (kurus). 

Khusus Ratna, selain telah memasuki kategori usia tua, juga ditemukan luka menahun berupa fistula (saluran tidak normal) pada telapak kaki depan kiri yang memerlukan penanganan medis khusus. 

“Dalam proses perawatan, penanganan terhadap Ratna menghadapi tantangan tersendiri karena yang bersangkutan tidak dapat dikendalikan (restrain/handle) secara sempurna sebagaimana gajah jinak betina lainnya dan tidak dapat ditunggangi oleh mahout. Oleh karena itu, setiap tindakan medis terhadap luka fistula dilakukan melalui prosedur pembiusan terlebih dahulu guna memastikan keselamatan dan efektivitas penanganan,” dikutip dari siaran pers R Zoo, Rabu (11/2/2026). 

Selama masa adaptasi di lingkungan baru pada 30 Oktober 2025, terdeteksi adanya udema pada bagian abdomen.

Pada 12 November 2025 dilakukan penanganan awal berupa pemberian vitamin dan terapi suportif, yang menunjukkan progres perbaikan secara bertahap. 

Namun demikian, pada 1 Januari 2026 terjadi peradangan kembali pada luka fistula di kaki Ratna, yang kemudian disertai pengelupasan kulit di sekitar area tersebut pada 11 Januari 2026.


Baca selengkapnya di sumber: ttps://medan.tribunnews.com/serdangbedagai/1781276/ratna-gajah-koleksi-r-zoo-sergai-dikabarkan-mati-di-usia-50-tahun.

Gakkum Kehutanan Panggil Direksi PT RAPP Terkait Kematian Gajah Sumatera di Areal Konsesi

Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkumhut) melakukan pemanggilan terhadap jajaran direksi PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) untuk dimintai keterangan terkait kematian seekor Gajah Sumatera di dalam areal konsesi perusahaan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

“Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pendalaman tanggung jawab pemegang izin dalam pemenuhan kewajiban perlindungan hutan dan satwa liar di wilayah kerjanya,” kata
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto, pada Sabtu, (7/2/2026).

Dwi Januanto mengatakan bahwa pemanggilan tersebut dilakukan seiring dengan proses penyelidikan atas ditemukannya seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dalam kondisi mati di kawasan lindung Blok Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, yang merupakan bagian dari wilayah jelajah gajah pada kantong habitat Tesso Tenggara.

Sebagai informasi, kematian gajah ini pertama kali dilaporkan oleh PT RAPP kepada Polres Pelalawan dan Balai Besar KSDA Riau pada Senin, 2 Februari 2026. Berdasarkan keterangan awal di lapangan, Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar (TPKSL) Blok Ukui menemukan seekor gajah jantan telah mati dengan kondisi pembusukan lanjut. Selanjutnya Balai Besar KSDA Riau kemudian melakukan nekropsi untuk memastikan penyebab kematian secara medis dan ilmiah.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gajah berjenis kelamin jantan, diperkirakan berumur di atas 40 tahun, dan telah mati sekitar dua minggu sebelum ditemukan. Dari hasil bedah bangkai, ditemukan indikasi cedera kepala berat, dan secara medis dugaan sementara mengarah pada trauma kepala akibat luka tembak. Temuan ini memperkuat dugaan adanya tindak kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi,” kata Dwi.

Sejalan dengan penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Pelalawan dan Polda Riau, Gakkum Kehutanan tetap melanjutkan penelusuran terhadap pelaku dan jaringan di balik peristiwa tersebut, sekaligus melakukan pendalaman terhadap aspek kepatuhan korporasi. Pendalaman ini mencakup efektivitas sistem pengamanan kawasan, pengelolaan High Conservation Value (HCV), serta keberadaan dan fungsi koridor satwa di dalam areal PBPH.

Sebagai bagian dari proses tersebut, Gakkum Kehutanan secara resmi meminta keterangan dari direksi PT RAPP, mengingat lokasi kejadian berada di dalam wilayah konsesi perusahaan. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai pelaksanaan kewajiban perlindungan hutan dan satwa liar sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.


Baca selengkapnya di sumber berita: https://www.kehutanan.go.id/news/gakkum-kehutanan-panggil-direksi-pt-rapp-terkait-kematian-gajah-sumatera-di-areal-konsesi

Gajah Mati Wajahnya Dipotong, Uji Labfor Temukan 2 Proyektil

TIM Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Riau menemukan dua potongan logam diduga proyektil atau peluru senjata api pada kepala gajah yang mati di konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Masing-masing panjang 12,30 mm dan lebar 16,30 mm, serta serpihan proyektil panjang 6,96 mm.

“Tes pendahuluan, dua potongan itu positif timbal, kuningan dan nitrat mesiu. Jenis senjata masih dalam pendalaman barang bukti,” kata Kepala Bidang Labfor Polda Riau, Ungkap Siahaan, saat konferensi pers, pada Jumat 6 Februari 2026.

Peluru itu diduga berasal dari senjata rakitan. Sebab alurnya tidak teratur. Sehingga masih sulit mendeteksi jenis senjata api yang digunakan. 

Tim Labfor Polda Riau, juga mengambil sampel tanah dan genangan air di bawah ekor, kaki hingga kepala gajah untuk kemungkinan gajah mati diracun. Namun pemeriksaaan sampel negatif sianida dan merkuri. “Disimpulkan belum ada indikasi keracunan,” kata Ungkap.
 

Seekor gajah sumatera ditemukan mati di blok lindung dalam izin RAPP, yang juga bagian kantong gajah Tesso Tenggara, pada Senin 2 Februari 2026. Dokter Hewan BBKSDA Riau, Rini Deswita, menjelaskan hasil pemeriksaan dalam rangkaian penyelidikan bedah bangkai, menyimpulkan gajah jantan itu mati bukan secara alami alias tidak wajar.


Baca selengkapnya di sumber berita:  https://www.tempo.co/lingkungan/gajah-mati-wajahnya-dipotong-uji-labfor-temukan-2-proyektil-2113472

Koridor Gajah Sumatra di Jambi Terancam, Kerusakan Kawasan Penyangga TN Bukit Tiga Puluh

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Kerusakan bentang alam kawasan penyangga (buffer zone) Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di Provinsi Jambi, mengancam keberlangsungan satwa liar kunci, khususnya Gajah sumatra atau Elephas Maximus sumatranus.

Selain gajah, satwa kunci yang terancam antara lain Orangutan sumatra atau Pongo abelii dan Harimau sumatra atau Panthera tigris sumatrae.

Kawasan penyangga merupakan zona di sekitar kawasan inti konservasi (seperti taman nasional atau cagar alam). 

Fungsi penyangga untuk melindungi kawasan inti dari dampak negatif eksternal dan mengurangi tekanan masyarakat.

Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Donny Gunaryady, mengungkapkan dalam lima tahun terakhir kerusakan paling parah justru terjadi di luar kawasan TNBT, tepatnya di bentang alam penyangga. 

Padahal, selama ini, kawasan penyangga menjadi koridor pergerakan gajah.

“Kerusakan paling parah terjadi di wilayah Kabupaten Tebo dan Tanjung Jabung Barat, terutama di kawasan hutan sepanjang koridor pergerakan Gajah sumatra,” kata Donny kepada Tribun Jambi, Sabtu (10/1/2026).

Penyebab utama kerusakan adalah perambahan dan konversi hutan menjadi kebun sawit, yang terjadi di area Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), izin Perhutanan Sosial, hingga kawasan hutan yang belum dibebani izin.


Baca selengkapnya di sumber berita : https://jambi.tribunnews.com/makalam/1186946/koridor-gajah-sumatra-di-jambi-terancam-kerusakan-kawasan-penyangga-tn-bukit-tiga-puluh.

Warga Desa Penyangga TNWK demo minta stop konflik gajah dengan manusia

Lampung Timur (ANTARA) – Ribuan warga Lampung Timur yang tergabung dalam aliansi Desa Penyangga Taman Nasional Way Kambas demo di Balai Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, Selasa pagi.

Mereka menggelar long march menuju Balai TNWK sambil membawa sejumlah poster berisi tuntutan, antara lain: “Stop Konflik Gajah dan Manusia. Kami bukan memusuhi gajah, kami hanya ingin melindungi ladang kami. Jika TNWK tidak bisa menjalankan makna konservasi, pulangkan saja gajah ke asalnya”.

Mereka juga mengusung foto almarhum Kepala Desa Braja Asri Darusman, yang tewas akibat diamuk gajah liar Way Kambas saat menggiring gajah keluar lahan pertanian pada akhir Desember 2025.

“Kawan-kawan, kita ke sini minta keadilan, karena tanaman pertanian kami dirusak,” ujar Budi, salah seorang orator demo.

Orator unjuk rasa lainnya, mengatakan bahwa konflik satwa gajah Way Kambas dengan masyarakat desa penyangga telah berlangsung puluhan tahun dan belum berkesudahan.

“Kami dari lahir, berkonflik dengan gajah. Kepala.desa kami jadi korbannya, orang tua kami jadi korban, kami tidak ingin jadi korban lagi. Lahan pertanian kami dirusak oleh gajah,” ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat desa penyangga telah meminta Balai TNWK untuk menghentikan konflik satwa gajah dan manusia.

“Kami meminta Balai TNWK menstop konflik manusia dengan gajah. Kami minta stop konflik gajah mulai malam ini,” jelasmya.


Baca selengkapnya di sumber : https://lampung.antaranews.com/berita/811097/warga-desa-penyangga-tnwk-demo-minta-stop-konflik-gajah-dengan-manusia

Kronologi Kades Braja Asri Tewas saat Menghalau Gajah Liar di Lampung Timur

Liputan6.com, Jakarta – Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Lampung Timur. Kepala Desa (Kades) Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, bernama Darusman, meregang nyawa setelah diserang gajah liar saat terlibat langsung dalam upaya penghalauan satwa tersebut agar kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Insiden maut itu terjadi di perbatasan kawasan TNWK dengan kebun karet milik warga Desa Braja Asri, Rabu (31/12/2025) sekitar pukul 11.10 WIB.

Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi menjelaskan, peristiwa berawal sejak pagi hari. Sekitar pukul 06.30 WIB, tim TNWK menerima laporan dari Babinsa Desa Braja Asri, Agus, terkait keberadaan seekor gajah liar yang terjebak di kebun karet warga, tepatnya di samping Jembatan Putul.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim TNWK segera menuju lokasi dan tiba di tempat kejadian perkara (TKP) sekitar pukul 07.15 WIB.

Di lokasi, tim TNWK bergabung dengan unsur TNI-Polri, pemerintah kecamatan, Satpol PP, BPBD, mitra TNWK, aparat desa, serta masyarakat setempat.

“Di lokasi kami langsung berdiskusi untuk mencari solusi agar gajah liar bisa dikembalikan ke dalam kawasan hutan TNWK,” ungkap Zaidi.

Hasil diskusi awal menyepakati bahwa keputusan penghalauan menunggu kehadiran Kepala Desa Braja Asri. Sekitar pukul 09.00 WIB, Darusman tiba di lokasi dan kembali dilakukan musyawarah bersama seluruh unsur terkait.

“Dari hasil kesepakatan bersama, diputuskan untuk melakukan penggiringan gajah dari kebun karet warga kembali ke kawasan TNWK,” jelas Zaidi.

Tim kemudian melakukan blokade sesuai pembagian tugas dan jalur penggiringan yang telah disepakati.

Namun situasi berubah drastis. Saat penggiringan berlangsung, terjadi miskomunikasi dengan tim blokade di bagian bawah. Tim tersebut masih berjaga di jalur yang akan dilewati gajah dan membunyikan dentuman serta petasan.

“Gajah justru mengarah ke bawah, lalu terblokade dan berbalik arah. Di saat yang bersamaan, amunisi berupa mercon untuk penggiringan sudah habis,” katanya.


Selengkapnya baca di sumber : https://www.liputan6.com/regional/read/6248440/kronologi-kades-braja-asri-tewas-saat-menghalau-gajah-liar-di-lampung-timur?page=2

Empat Ekor Gajah Dikerahkan Bersihkan Material Banjir di Meunasah Bie Pijay

Meureudu, beritamerdeka.net – Empat ekor gajah milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah tiba lengkap di Kabupaten Pidie Jaya untuk membantu proses pembersihan material pascabencana banjir. Gajah tersebut langsung dikerahkan untuk menarik timbunan kayu dan material berat yang terseret arus banjir beberapa waktu lalu.

Senin, 8 Desember 2025 Kegiatan pembersihan hari ini dipusatkan di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, salah satu kawasan yang paling terdampak akibat tumpukan kayu dan lumpur.

Kasat Reskrim Polres Pidie Jaya, Iptu Fauzi Admaja, mewakili Kapolres Pidie Jaya, menyampaikan bahwa seluruh gajah telah tiba dan langsung bekerja membantu masyarakat.

“Empat gajah yang kita datangkan bersama BKSDA Aceh hari ini sudah berada di lokasi. Mereka langsung kita kerahkan untuk menarik kayu-kayu besar serta material berat lainnya yang menumpuk akibat banjir,” ujar Iptu Fauzi.

Kapolres Pidie Jaya AKBP Ahmad Faisal Pasaribu turut memberikan penjelasan mengenai tujuan kedatangan gajah tersebut. Selain untuk membantu proses pembersihan, gajah-gajah ini juga dihadirkan sebagai bentuk dukungan psikologis bagi anak-anak yang terdampak banjir.

“Gajah-gajah ini kita datangkan bukan hanya untuk mengangkat material berat, tetapi juga untuk kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kehadiran gajah dapat menghadirkan suasana ceria, mengurangi ketegangan, dan membantu memulihkan kondisi psikologis mereka,” ujar Kapolres.

Ia menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan komitmen Polri untuk masyarakat dalam menghadirkan pelayanan yang humanis dan responsif, sesuai dengan motto Polda Aceh “Meutuah Sabe Tajaga, Aceh Mulia.”

Melalui kerja sama antara Polres Pidie Jaya dan BKSDA Aceh ini, proses pembersihan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, sekaligus memberi dukungan emosional bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang terdampak banjir.(*)


Sumber : https://beritamerdeka.net/news/empat-ekor-gajah-dikerahkan-bersihkan-material-banjir-di-meunasah-bie-pijay/index.html

Anak Gajah Lela Mati di PLG Sebanga Bengkalis

PEKANBARU, KOMPAS.com – Seekor anak gajah sumatera bernama Nurlela di Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau, dilaporkan mati pada Sabtu (22/11/2025). Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, membenarkan kabar tersebut. “Benar, anak gajah Lela mati di Pusat Konservasi Gajah Sebanga,” akui Supartono kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Sabtu. Supartono menjelaskan, anak gajah betina itu berusia **(1,6)** tahun. Lela merupakan anak dari pasangan gajah betina Puja dan gajah jantan Sarma, yang lahir pada 6 April 2024.

Pada 20 November 2025, Lela terpantau kurang aktif dari biasanya meski nafsu makan dan minum masih baik.

“Berdasarkan informasi tersebut, kami menurunkan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan,” ujar Supartono. Dari hasil pemeriksaan tim medis yang terdiri dari dokter hewan dan mahout, suhu tubuh Lela masih normal.

Pemeriksaan lanjutan dilakukan, termasuk pemberian cairan infus dan obat serta pemantauan setiap dua jam. “Keesokannya, gajah Lela masih terpantau makan dan minum seperti biasa dan tetap minum air susu induknya, Puja,” kata Supartono.

Namun, kondisi berubah pada Sabtu dini hari. Pada pukul 00.30 WIB, petugas PLG Sebanga mendengar Lela menjerit. Saat dicek, Lela masih berdiri dan aktif bergerak. Lalu, pada pukul 01.00 WIB, Lela kembali menjerit dan ditemukan dalam posisi terbaring.

Petugas melakukan penanganan hingga Lela kembali bangun, minum, dan menyusu.

Namun, sekitar pukul 05.30 WIB, Lela ditemukan terbaring dan dinyatakan mati. Untuk memastikan penyebab kematian, tim dokter hewan BBKSDA Riau melakukan nekropsi untuk melihat perubahan pada organ-organ vital.

“Selain itu, tim medis melakukan pengambilan sampel jaringan yang selanjutnya akan diuji di laboratorium,” tambah Supartono. Dengan kematian Lela, jumlah gajah di PLG Sebanga kini tinggal lima ekor. Semuanya merupakan gajah dewasa, terdiri dari satu jantan bernama Sarma dan empat betina bernama Puja, Sela, Rosa, dan Dora.


Sumber: https://regional.kompas.com/read/2025/11/22/200440578/anak-gajah-lela-mati-di-plg-sebanga-bengkalis

Kronologi Kematian Gajah Dona di TNWK, Diindikasi Idap Infeksi Parasit

Lampung Timur, IDN Times – Dona, seekor Gajah Sumatera jinak mati di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur mengalami penurunan kesehatan diindikasi akibat mengidap infeksi parasit.

Gajah Dona ditemukan mati di Camp Elephant Response Unit (ERU) Bungur, Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Toto Projo pada kawasan TNWK, Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 13.00 WIB.

“Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah (gajah Dona) menunjukkan kadar eosinofil yang tinggi, mengarah pada indikasi infeksi parasit,” ujar Humas Balai TNWK, Nandri Yulianto dikonfirmasi, Senin (17/11/2025).

1. Sempat dipantau intensif

Ihwal kronologi kematian Dona, Nandri menyampaikan, hasil pemeriksaan kesehatan rutin tim medis didapati gajah betina berusia sekitar 45 tahun ini disimpulkan memiliki riwayat kesehatan kurang stabil sejak 6 November 2025.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah Dona mengarah pada indikasi infeksi parasit. Kemudian diberikan infus dan ditempatkan di bawah pemantauan petugas secara intensif.

“Dona mulai menunjukkan gejala tidak mau makan sejak 13 November 2025. Tim Dokter Hewan Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK langsung mengevaluasi kondisi dan memberikan tindakan medis. Saat itu, meski nafsu makan menurun, Dona masih dapat bergerak aktif,” katanya.

2. Hanya makan sedikit dan dipasang infus

Selang sehari kemudian, Nandri mengungkapkan, kondisi kesehatan gajah Dona tidak menunjukkan perbaikan signifikan. Alhasil, tim medis memasang infus untuk menunjang kebutuhan cairan dan menjaga kondisi tubuh secara umum.

“Dona hanya mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat sedikit atau sekitar satu sisir pisang. Aktivitas fisik masih terlihat, namun tubuhnya mulai semakin melemah,” terangnya.


Baca selengkapnya di sumber berita: https://lampung.idntimes.com/news/lampung/kronologi-kematian-gajah-dona-di-tnwk-diindikasi-idap-infeksi-parasit-00-5h6fh-q9jd5r

Gajah Betina Suli Mati saat Proses Evakuasi dari Area Rawa TNWK

Lampung Timur, IDN Times – Kabar duka kembali datang dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur. Seekor Gajah Sumatera betina (Elephas maximus sumatranus) diumumkan mati pada 2 Oktober 2025.

Humas Balai TNWK, Nandri Yulianto membenarkan ihwal infomasi tersebut. Gajah betina mati itu disebut bernama Suli berasal dari Palembang tutup usia diperkirakan berumur 35 tahun.

“Iya Suli di Oktober, kemaren belum rilis nunggu hasil analisis sampel di Balai Veteriner Lampung. Pas mau up (kematian Suli), Dona juga mati, makanya sekalian (dipublikasikan),” ujarnya dikonfirmasi, Selasa (18/11/2025).

1. Suli alami anemia dan gejala infeksi

Nandi menyampaikan, gajah Suli berasal dari Palembang dibawa pertama kali ke Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK sejak 2003 dan telah melahirkan sebanyak empat ekor anak. Sebelum kematiannya, Suli masih mengasuh anaknya bernama Yongki berusia 2,5 tahun.

Menurutnya, gajah Suli sejak Juli 2025 mendapatkan perawatan cukup intensif akibat kondisi kesehatan mulai menurun. Hasil pemeriksaan kesehatan, Suli mengalami anemia dan gejala infeksi akibat peningkatan nilai sel darah putih.

“Beberapa parameter kesehatan organ juga menunjukan, bahwa Suli penurunan fungsi organ hati dan ginjal,” katanya.

Atas kondisi tersebut, gajah Suli rencana dipindahkan ke lokasi lain untuk digembalakan pada 1 Oktober 2025, Namun saat proses pemindahan, Suli terjebak pada area rawa cukup dalam dan mengalami kesulitan untuk naik dari rawa tersebut.

“Sekitar pukul 08.00 WIB dan beberapa ekor gajah jantan (Robby, Berry, dan Salmon) digunakan untuk membantu evakuasi Suli,” sambungnya.

2. Perlihatkan kondisi lemah saat proses evakuasi terjebak area rawa

Atas kejadian menimpa gajah Suli, Nandri melanjutkan, Mahout melaporkan insiden tersebut kepada bagian medis dan ditindaklanjuti pukul 09.35 WIB. Kemudian evakuasi dilakukan dengan cara mengikat tubuh Suli pada area thorax atau daerah dada untuk membantu menarik Suli.

“Evakuasi pertama selesai dilakukan pukul 11.22 WIB dengan posisi gajah Suli berbaring pada sisi tubuh kiri. Akibat cuaca yang terik, gajah harus tetap dalam kondisi lembab sehingga setiap saat tubuhnya perlu disiram atau ditutup dengan rumput,” terangnya.

Kemudian proses evakuasi kedua dilakukan sekitar pukul 17.00 WIB, namun gajah Suli tidak mampu berdiri. Ia hanya mampu menopang tubuh bagian depan selama 15 menit dan kembali berbaring dengan posisi tubuh kanan.

“Evakuasi ketiga dilakukan pada 2 Oktober 2025 pukul 10.42 WIB, karena gajah tergenang air dan gajah terlalu lama berada pada posisi berbaring sisi kanan. Pertolongan pada kondisi Suli dilaksanakan secara intensif dengan memberikan cairan infus secara intravena, ATP sebagai sumber energi, serta zat hemopoiteka untuk membantu pembentukan sel darah merah,” lanjut dia.


Baca selengkapnya di sumber berita : https://lampung.idntimes.com/news/lampung/lagi-gajah-betina-suli-mati-saat-proses-evakuasi-dari-area-rawa-tnwk-00-5h6fh-9nt9gh